Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. IV. No. 18 | Menuju Agribisnis Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

Posisi strategis kelapa sawit dalam persaingan minyak nabati menarik perhatian dunia. Berbagai upaya dilakukan untuk menghambat industri minyak sawit seiring dengan terancamnya industri minyak nabati lain yaitu Soybean oil (SBO), Rapeseed oil (RSO), dan Sunflower oil (SFO), termasuk dengan kampanye negatif terhadap minyak sawit. Penekanan aspek keberlanjutan kelapa sawit menjadi fokus utama untuk menghadapi isu-isu negatif kelapa sawit terutama dari sisi lingkungan. Indonesia telah memiliki tata kelola lahan perkebunan yang menunjukkan bukti bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia tidak merusak lingkungan. Berdasarkan data RSPO, Indonesia masih menjadi produsen CSPO dan CSPK terbesar di dunia dengan proporsi sebesar 59 persen dari total CSPO dan CSPK dunia. Proporsi tersebut akan semakin besar jika digabungkan dengan data ISPO, dimana sertifikasi ISPO bersifat mandat atau wajib di Indonesia.

Monitor Vol. IV. No. 17 | Realisasi Mandatori Biodiesel dan Perluasan Pada Sektor Non-PSO

Pengembangan biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit bersifat mandat atau wajib di Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015 yang merupakan perubahan ketiga dari peraturan awal terkait mandatori biodiesel Indonesia yang dikeluarkan tahun 2008. Namun sejak diberlakukannya mandatori biodiesel tersebut, target campuran solar dengan biodiesel (blending rate) belum dapat terealiasasikan. Tahun 2016 realisasi mandatori biodiesel sebesar 19 persen hampir memenuhi target B-20 yang ditetapkan. Meskipun realisasi mandatori biodiesel belum terwujudkan, namun perluasan penyerapan pada sektor non-PSO sangat potensial dilakukan seiring dengan peningkatan kebutuhan solar Indonesia. Perluasan mandatori biodiesel pada sektor non-PSO mampu membantu Indonesia dalam menjaga ketahanan energi dengan menghemat impor solar hingga 23 juta kiloliter pada tahun 2025 dengan diberlakukannya B-30.

Monitor Vol. IV. No. 16 | Dampak Penolakan Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit

Perkembangan agribisnis kelapa sawit telah menarik perhatian dunia. Perkembangan kelapa sawit yang pesat telah menyebabkan terjadinya persaingan bisnis minyak nabati di kawasan Uni Eropa. Sejak tahun 2000, pangsa konsumsi minyak kelapa sawit di Uni Eropa telah mengalahkan SBO yang mendominasi konsumsi minyak nabati sebelum tahun 2000. Pada tahun 2017, konsumsi minyak sawit Uni Eropa telah mencapai 6.350 ribu ton. Kondisi minyak nabati lain yang semakin tersisihkan karena keberadaan minyak sawit menyebabkan Uni Eropa memberlakukan berbagai hambatan dan bahkan penolakan terhadap minyak kelapa sawit. Namun penolakan Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit justru akan menyebabkan terjadinya deforestasi 20 juta hektar untuk menggantikan impor 10 juta ton minyak kelapa sawit Uni Eropa pada periode tahun 2020-2030. Hal ini menunjukkan Uni Eropa tidak konsisten dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) yang menjadi perhatian utamanya dalam menolak penggunaan minyak kelapa sawit.