Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. IV. No. 14 | Peran Kelapa Sawit Sebagai Tanaman Hutan

Kelapa sawit telah menjadi komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Area perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai 12 307 677 hektar dan mampu memproduksi minyak kelapa sawit sebesar 35 359 384 ton pada tahun 2017 (Ditjenbun 2017). Namun meskipun perkembangan kelapa sawit Indonesia telah memberikan dampak positif yang besar bagi perekonomian Indonesia, kelapa sawit tidak terlepas dari isu-isu negatif dari berbagai pihak yang mencoba menghalangi perkembangan kelapa sawit lebih lanjut. Isu perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab utama deforestasi di Indonesia sering digunakan untuk menghambat perkembangan perkebunan kelapa sawit. Upaya Indonesia dalam melawan isu tersebut terus berlanjut dengan munculnya gagasan bahwa kelapa sawit akan dikategorikan sebagai tanaman hutan. Kelapa sawit jika dikategorikan sebagai tanaman hutan mampu memproduksi oksigen 18 ton per hektar per tahun sementara hutan hanya mampu memproduksi 7 ton per hektar per tahun. Perkebunan kelapa sawit juga lebih baik dari hutan dalam perannya memanen energy surya dan fungsi tata air.

Monitor Vol. IV. No. 13 | Pengembangan Biodiesel Berbahan Baku Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia mengembangkan biodiesel sesuai mandatori biodiesel Permen ESDM No. 12 Tahun 2015 dengan bahan baku minyak kelapa sawit karena komoditas kelapa sawit memiliki potensi terbesar untuk diolah menjadi biodiesel di Indonesia dengan produktivitas 3.6 – 4 ton/ha dan didukung oleh luas lahan yang jauh lebih luas dibandingkan tanaman lainnya sehingga memiliki potensi sebesar 31 914 476 kiloliter biodiesel (EBTKE 2013). Namun pengembangan biodiesel tersebut dapat menyebabkan trade off penggunaan CPO untuk produksi biodiesel dan minyak goreng sawit. Pengembangan biodiesel tersebut akan berdampak pada pertumbuhan luas lahan kelapa sawit yang mengkonversi luas lahan komoditas lainnya dengan tingkat konversi lahan terbesar pada komoditas kelapa sebesar 3.68 persen. Dampak lainnya terjadi pada kenaikan harga minyak goreng sawit dengan rata – rata 2.6 persen pertahun akibat adanya pengembangan biodiesel Indonesia. Meskipun demikian, pengembangan biodiesel Indonesia belum mampu memenuhi tingkat blanding rate sesuai mandatori biodiesel. Upaya peningkatan ketercapaian tingkat blanding rate dapat dilakukan dengan pemberian subsidi biodiesel. Kebijakan bea keluar juga dibutuhkan dalam upaya menjaga stabilitas harga CPO domestik dan harga minyak goreng sawit. Kebijakan bea keluar sesuai Peraturan Menteri Keuangan No. 136 Tahun 2015 lebih efektif diterapkan dibandingkan Peraturan Menteri Keuangan No. 140 Tahun 2016.

Monitor Vol. IV. No. 12 | Potensi Strategis Kemitraan Sawit Indonesia-China

Negara RRC memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi dunia di masa mendatang. Tahun 2017 Nominal PDB AS mencapai US$ 18,6 triliun, sedangkan China berada di urutan kedua, sebesar US$ 11,4 triliun. Total PDB dunia tercatat US$ 75,2 triliun, dan Pertumbuhan ekonomi China 6,6% sedangkan AS adalah 1,6%. Kerjasama Strategis yang menyangkut Sawit antara lain adalah bidoesel B-5 dan juga upaya meningkatkan ekspor CPO ke China. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis potensi kerjasama bidang sawit di masa mendatang, mengingat kedudukan Indonesia sebagai produsen sawit dan sekaligus membantu mengurangi defisit neraca perdagangan RI-China. Kebijakan lobby internasional ke negara China merupakan salah satu yang diperlukan. Hal lain yang perlu memerlukan kajian yang lebih mendalam di masa mendatang adalah masalah trade balance yang defisit dengan RRC. Tahun 2015, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai 14,18 Milyar USD, tahun 2016 sebesar 13,89 milyar USD dan tahun 2017 menurun menjadi 12,96 milyar USD, atau lebih kurang Rp 170 Trilyun. Perkembangan 3 tahun terakhir ini menunjukkan Indonesia berhasil mendorong ekspor ke China. Peran ekspor CPO salama ini cukup besar dengan rata-rata kontribusi USD 3,25 milyar per tahun. Dengan kata lain, kontribusi ekspor CPO dalam membantu defisit neraca perdagangan Indonesia adalah cukup besar, yakni 28,78 persen (PASPIN2018). Atau dalam bahasa yang sederhana, sekitar sepertiga ekspor Indonesia ke China adalah CPO. Posisi Indonesia yang defisit juga menjadi kajian penting, agar tidak dijadikan faktor untuk memudahkan China dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan Indonesia. Oleh sebab itu, kemitraan sawit Indonesia – China memiliki nilai srategis di masa mendatang.