Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. V. No. 44 | Era Baru Pengembangan Sawit Rakyat: Pengelolaan Sekawasan dan Basis Energi Biohidrokarbon

Sawit rakyat melalui perannya sebagai salah satu aktor penting dalam perkebunan dan industri sawit nasional telah berkontribusi besar terhadap perekonomian regional dan nasional. Namun, pekebun sawit rakyat harus menghadapi berbagai masalah seperti status kepemilikkan, keterbatasan modal dan akses yang berimplikasi pada rendahnya produktivitas dan kualitas TBS yang dihasilkan dan inefisiensi tata niaga yang berpotensi menurunkan tingkat kesejahteraannya. Solusi dari masalah yang dihadapi oleh pekebun sawit rakyat adalah dengan cara memperkuat peran pekebun melalui partisipasi dalam industri hilir sawit yakni pengembangan PKS Biohidrokarbon. Namun, pengelolaan PKS Biohidrokarbon tersebut tidak bisa dilakukan individualistik dan membutuhkan kerjasama antara pekebun sawit dalam bentuk koorporasi. Kelembagaan pekebun sawit sekawasan dalam mengelola PKS Biohidrokarbon juga didukung oleh unit-unit lain seperti unit lembaga keuangan mikro, unit pengadaan sarana produksi (saprodi), unit usaha berbasis biomassa sawit dan unit toserba. Pengelolaan perkebunan sekawasan yang diselenggarakan dengan asas kebersaamaan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta menciptakan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. menciptakan multiplier effect yang lebih besar dan menjadi cikal bakal dari terbentuknya kota kecil atau mini agropolitan.

Monitor Vol. V. No. 43 | Dampak Kebijakan Mandatori B30 Pada Tahun 2020

Kebijakan mandatori biodiesel merupakan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan minyak fosil impor yang selama ini menjadi faktor beban defisit neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, kebijakan biodiesel juga bentuk dari komitmen nyata Indonesia untuk turut berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK sesuai dengan Paris Agrement tahun 2015. Pengembangan kebijakan biodiesel di Indonesia sudah dimulai sejak 2009 dengan B1 dan kemudian terus mengalami peningkatan bleding rate seiring dengan mandat Permen ESDM No. 12 /2015 yakni B10 pada tahun 2015, B20 tahun 2016 dan B30 tahun 2020. Manfaat ekonomi (penghematan devisa, peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja) serta dampak lingkungan (penurunan emisi GRK) dari implementasi B30 diperkirakan lebih besar dibandingkan kebijakan B20. Rencana implementasi kebijakan B30 di Indonesia yang diiringi dengan kebijakan mandatori B20 di Malaysia, penurunan produksi minyak sawit karena El Nino dan rendahnya stok minyak kedelai dunia, akan berdampak pada penurunan stok minyak sawit dunia sehingga terjadi peningkatan harga minyak sawit.

Monitor Vol. V. No. 42 | Minyak Sawit Dalam Persaingan Bahan Baku Biodiesel Uni Eropa: Motif RED II ILUC

Persaingan antara minyak rapeseed dan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel UE, dimana posisi minyak sawit lebih kuat yang ditunjukkan dengan peningkatan pangsa minyak sawit dalam industri biodiesel UE sedangkan pangsa minyak rapeseed menurun. Hal tersebut dianggap menjadi ancaman dan menimbulkan kekawatiran bagi pemerintah UE, mengingat minyak rapeseed merupakan minyak nabati utama yang diproduksi oleh negara tersebut. Hal tersebut dinilai sebagai motif dari kebijakan RED II ILUC yang dikeluarkan oleh Komisi Uni Eropa untuk mem-phase-out minyak sawit dalam RED. Isu deforestrasi dan emisi digunakan sebagai latar belakang dikeluarkan kebijakan tersebut, namun penggunaan kedua isu tersebut dianggap kurang reliable untuk dikaitkan dengan perdagangan tanaman biofuel termasuk minyak sawit dalam RED Uni Eropa. Kedua isu tersebut juga dianggap sebagai bentuk pengalihan Uni Eropa untuk melemparkan kesalahan deforestrasi di masa lalu dan tanggung jawab sebagai salah satu emitter utama emisi GHG dunia. Rencana phase out minyak sawit dari RED juga bersifat crop apartheid dan bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan GATT/WTO. Kehadiran minyak sawit di daratan Eropa seharusnya dianggap sebagai suatu rejeki dan berkah karena dapat mengurangi beban minyak rapeseed dalam feeding and fuelling UE (mencegah terjadinya food-fuel trade-off).