Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. V. No. 03 | Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Terbarukan dan Energi Listrik Indonesia

Salah satu kebutuhan sehari – hari masyarakat yang mendesak untuk dipenuhi yaitu kebutuhan energi. Selama ini, Indonesia masih memanfaatkan energi fosil seperti solar fosil, gasoline fosil, dan avtur fosil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Konsumsi bahan bakar fosil ini secara historis menunjukkan peningkatan setiap tahun dan diperkirakan akan mencapai 121 juta kL pada tahun 2027. Peningkatan konsumsi bahan bakar ini apabila terus dipenuhi dengan cara impor maka akan semakin membebani keuangan negara. Oleh sebab itu, pemerintah mulai beralih pada energi baru dan terbarukan seperti melakukan mandatori biodiesel yang telah menghemat devisa negara sebesar Rp 38,88 triliun. Selain itu, Indonesia juga sedang mengembangkan riset inovasi produksi biohidrokarbon sawit dengan skala industri dan diperkirakan akan dimulai pada tahun 2020. Produksi biohidrokarbon sawit ini akan menghasilkan green diesel, green gasoline, dan green avtur pengganti bahan bakar fosil. Di sisi lain, kelapa sawit juga memiliki potensi dalam upaya penyediaan energi listrik nasional karena dapat menggantikan penggunaan solar fosil pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) miliki PLN. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa biomassa atau limbah padat kelapa sawit dan limbah cair kelapa sawit juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit energi listrik di Indonesia. Mesin PLTBm berbahan baku biomassa kelapa sawit dengan kapasitas 25 kW dapat dimanfaatkan untuk penyediaan listrik pada 1 desa atau sekitar 25 rumah penduduk di daerah-daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero). Pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku pembangkit listrik berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca dimana PLTBm kelapa sawit menghasilkan emisi lebih rendah dari PLTD dan PLTU yaitu sebesar 0,108 kg-CO2eq/kWh.

Monitor Vol. V. No. 02 | Keproduksian Kelapa Sawit untuk Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Rakyat

Perkembangan perkebunan kelapa sawit yang pesat di Indonesia didorong oleh keterlibatan petani dalam mengusahakan kebun sawit yang dimulai sekitar tahun 1980-an dengan adanya berbagai pola kemitraan yang diterapkan pemerintah. Namun perkembangan ini masih bertumpu pada pemanfaatan kondisi lahan dan iklim Indonesia yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Lahan mineral di Indonesia dengan curah hujan 1750-3000 mm, bulan kering <1 bulan, elevasi 0-200 m, kemiringan <8%, tekstur tanah lempung berdebu, lempung liat berpasir, dan dengan kemasaman tanah (pH) 5,0-6,0 sangat cocok digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit. Selain lahan mineral, Indonesia juga memanfaatkan lahan gambut yang cocok dengan kriteria yang sudah ditetapkan untuk budidaya kelapa sawit. Kondisi lahan Indonesia yang sesuai mampu menghasilkan tingkat produksi kelapa sawit mencapai 35 ton TBS/Ha pada umur remaja tanaman sawit dengan tingkat rendemen CPO 24 persen. Namun untuk mengoptimalkan tingkat produksi tersebut harus dibarengi dengan kultur teknis yang baik yang salah satunya adalah proses pemupukan tanaman. Proses pemupukan pada budidaya kelapa sawit harus dilakukan dengan tepat dosis/jumlah, tepat jenis pupuk, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan tanaman pada setiap umurnya. Selain itu, pemupukan tanaman kelapa sawit juga dibedakan berdasarkan jenis lahan perkebunan karena karakteristik tanah dan kandungan unsur hara yang berbeda sehingga dibutuhkan komposisi yang berbeda antara pupuk untuk lahan mineral, lahan gambut, dan lahan sulfat masam.

Monitor Vol. V. No. 01 | RSPO Melarang Penanaman Kebun Sawit Baru di Lahan Gambut

Indonesia sudah sejak lama memanfaatkan lahan mineral dan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit. Salah satu kisah sukses awal pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu eksistensi perkebunan kelapa sawit di Negeri Lama, Sumatera Utara mulai tahun 1927. Perkebunan ini telah mengalami tiga kali proses peremajaan (replanting) yaitu pada tahun 1968, 1989, dan 2012. Kesuksesan budidaya kelapa sawit ini tercermin dari peningkatan produktivitas pada setiap generasinya yaitu 17 ton TBS/hektar/tahun pada generasi I, 19,7 ton TBS/hektar/tahun pada generasi II, dan 23,9 ton TBS/hektar/tahun pada generasi III. Dalam hal pengelolaan lahan gambut, Indonesia telah memiliki peraturan resmi yaitu Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 yang mengatur pembagian ekosistem gambut di Indonesia menjadi dua fungsi yaitu fungsi lindung dan fungsi budidaya. Kelestarian ekosistem gambut Indonesia dipertahankan dengan adanya batas minimal fungsi lindung KHG sebesar 30 persen. Adanya pembagian fungsi ekosistem gambut menjadi fungsi budidaya menunjukkan bahwa budidaya kelapa sawit di lahan gambut Indonesia tidak dilarang secara mutlak. RSPO kemudian menetapkan prinsip dan kriteria terbaru yang melarang penanaman kebun sawit baru di lahan gambut. Standar baru yang ditetapkan RSPO ini tentu bertentangan dengan peraturan yang berlaku di Indonesia yang membolehkan pemanfaatan lahan gambut dengan fungsi budidaya untuk perkebunan kelapa sawit sesuai dengan PP No.57/2016. Perkebunan kelapa sawit juga telah terbukti dapat dilakukan secara berkelanjutan di lahan gambut seperti budidaya yang dilakukan di kebun sawit gambut Negeri Lama sejak tahun 1927.