Monitor Vol. III. No. 26 |Perkembangan Mandatori Biodiesel dan Prospek Indonesia dalam Pasar Biodiesel Dunia

Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan mandatori hingga mencapai B-30 pada tahun 2025. Dalam perkembangannya, terlihat bahwa blending mandatori biodiesel pada tahun 2016 sudah mencapai R-19,7, atau mendekati target mandatori yang ditetapkan (B-20). Tulisan ini bertujuan untuk melihat kondisi biodiesel Indonesia dan memproyeksikannya pada perkembangan ke masa depan, khususnya proyeksi hingga tahun 2025. Kapasitas biodiesel Indonesia berkembang hampir dua kali lipat dari 5,85 juta kl pada tahun 2011 menjadi 11,36 juta kl pada tahun 2016. Namun kapasitas terpasang masih sangat jauh dai yang diharapkan, dimana pada tahun 2011, realisasi produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 0,4 juta kl. Tingkat utilitas 2016 meningkat baru mencapai 24,66 persen. Saat ini Indonesia masih menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi target mandatori biodiesel, dan belum berhasil sepenuhnya, baik dalam target mandatori, maupun dalam pemenuhan kapasitas terpasang. Di sisi lain, konsumsi biodiesel di pasar global memiliki trend yang positif dengan growth 37 persen per tahun. Kebijakan B-5 Negara RRC diharapkan dapat membuka paradigma baru bagi bangsa Indonesia, bahwa Indonesia memiliki kesempatan dan peluang yang cukup besar menjadi key player dalam memenuhi permintaan biodiesel dunia, khususnya dalam jangka panjang, serta membantu mengatasi persoalan energi domestik sat ini. Hal ini diperkuat dengan posisi Indonesia sebagai produsen CPO dunia, maka tidak ada pilihan, selain memperkuat komitmen Indonesia dalam mewujudkan mandatori biodiesel yang ditetapkan pemerintah.

Monitor Vol. III. No. 25 |Uni Eropa Diuntungkan Dengan Mengimpor Minyak Sawit

Impor minyak sawit Uni Eropa memberi manfaat yang luas bagi Uni Eropa. Kehadiran minyak sawit di EU tidak menghilangkan tanaman RSO maupun SFO (local content), mengurangi masalah trade-off fuel-food, menurunkan emisi GHG, menimimumkan embodied deforestasi, dan masyarakat EU dapat menikmati harga minyak nabati komposit yang lebih murah. Manfaat ekonomi yang tercipta di EU akibat penggunaan minyak sawit setiap tahun meningkatkan GDP Uni Eropa sebesar 5,7 miliar Euro, menciptakan penerimaan pemerintah 2,6 miliar Euro dan menciptakan kesempatan kerja 117 ribu orang. Pilihan bagi masyarakat EU untuk mempertahankan kesejahteraanya tampaknya tidak banyak. Sayangnya untuk penyediaan minyak nabati yang paling optimal adalah tetap dari minyak sawit. Paradigma masyarakat dan pemerintah EU mungkin perlu berubah melihat sawit. Masyarakat dan pemerintah EU perlu cara baru melihat sawit bahwa "kebun sawit merupakan anugerah Tuhan bagi kesejahteraan EU melalui Indonesia.

Monitor Vol. III. No. 24 | Industri Minyak Sawit dalam Kawasan Kerjasama Ekonomi APEC

Sekitar 91 persen produksi minyak sawit dunia dihasilkan dari kawasan APEC. Dan Indonesia merupakan produsen terbesar dengan pangsa 54 persen. Selain itu pasar kawasan APEC juga sangat penting bagi perdagangan minyak sawit. Konsumsi CPO kawasan APEC mencapai 42 persen dari konsumsi minyak sawit dunia. Sedangkan 58 persen konsumsi CPO dunia berada di luar kawasan APEC. Volume ekspor CPO dan refined palm oil (olahan) Indonesia ke negara-negara kawasan APEC menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Tahun 2010 masih sekitar 8,2 juta ton, meningkat menjadi 9,5 juta ton (2012) dan meningkat lagi menjadi 13,2 juta pada tahun 2015. Komposisi produk ekspor minyak sawit Indonesia ke APEC juga mengalami perbaikan yang makin didominasi refined palm oil (olahan). Tahun 2010 pangsa ekspor minyak sawit olahan masih sekitar 77 persen, tahun 2015 menjadi 92 persen.