Monitor Vol. III. No. 13 | Menuntut High Conservation Value dan High Carbon Stock di Perkebunan Kelapa Sawit Salah Alamat ?

Dalam melestarikan/pembudidayaan biodiversity, sumber daya alam, dan lingkungan, Indonesia sejak awal mengadopsi paradigma ekosistem dengan cara menetapkan minimum 30 persen daratan dipertahankan sebagai kawasan lindung/konservasi dan maksimum 70 persen sebagai kawasan budidaya untuk pembangunan semua sektor. Indonesia tidak menganut pelestarian alam secara parsial seperti pendekatan HCV dan HCS. Kawasan lindung/konservasi diperuntukan untuk pelestarian biodiversity secara In Situ, Ex Situ dan benteng alam. Sedangkan kawasan budidaya merupakan kawasan yang fungsi utamanya untuk kegiatan masyarakat baik pertanian, perkebunan, hutan produksi, perkotaan/industri, pemukiman dan lain-lain. Dengan kata lain, menuntut pelestarian HCV dan HCS di kawasan budidaya tidak relevan lagi. Selain fungsi kawasan budidaya bukan seperti kawasan lindung/konservasi, juga pendekatan HCV dan HCS yang parsial justru “memotong-motong” ekosistem itu sendiri.

Monitor Vol. III. No. 12 | Kebun Sawit Hijaukan Kembali Pulau Borneo

Pulau Kalimantan pada masa dan pasca era logging menderita pengurasan sumber daya (capital drain) dan hasil logging tidak ada yang kembali (re-investasi) ke Pulau Kalimantan. Akibatnya, eks HPH Kalimantan yang tersisa adalah puing-puing barak logging, jalan logging, eks HPH yang berubah menjadi semak belukar tanpa penghuni, daerah terbelakang, miskin, kering, dan daerah mati, yang dalam istilah ilmu ekonomi regional disebut sebagai "Kota Hantu" (ghost town). Kehadiran perkebunan kelapa sawit di Kalimantan justru menghijaukan kembali sosial, ekonomi dan ekologi wilayah yang rusak akibat logging pada masa sebelumnya. Berkembangnya kebun-kebun sawit, menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi lain yang lebih luas dan cepat menciptakan multimanfaat sosial, ekonomi, dan ekologi serta memacu pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan. Pusat pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkembang berbasis perkebunan kelapa sawit kini banyak berkembang di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Monitor Vol. III. No. 11 | Proses Reforestasi dan Perbaikan Ekologi Melalui Perkebunan Sawit di Provinsi Kalimantan Timur

Kalimantan Timur merupakan salah satu Provinsi di Pulau Borneo yang paling banyak mendapat kritikan tajam tentang deforestasi di Indonesia. Tekanan ini semakin diperberat dengan isu biodiversitas, khususnya isu punahnya species orang utan. Di sisi lain, tanaman kelapa sawit mulai dikembangkan di Kalimantan Timur dan deforestasi dikaitkan dengan pertumbuhan kelapa sawit, dan menuduhkan bahwa tanaman kelapa sawit adalah main driver dalam deforestasi di Provinsi Kalimantan Timur. Artikel ini bertujuan untuk menguji kebenaran tuduhan tersebut dengan data yang akurat. Deforestasi di Provinsi Kalimantan Timur pada periode 1950-2014 mencapai seluas 7,6 juta hektar. Luas perkebunan sawit di Klimantan Timur adalah 733.000 hektar atau sekitar 9,59 persen. Berdasarkan analisi Citra Landset, pengembangan Perkebunan Sawit di Provinsi Kalimantan Timur adalah berasal dari reforestasi (konversi lahan pertanian, lahan terlantar/semak belukar dan HTI), sehingga secara netto kebun sawit Indonesia merupakan reforestasi. Pandangan umum yang selama ini yang menyatakan bahwa ekspansi kebun sawit merupakan pemicu (driver) deforestasi, tidak didukung fakta. Bahkan sebaliknya, ekspansi kebun sawit justru merupakan suatu land use change yang meningkatkan karbon stok lahan/reforestasi yang secara ekologis dikehendaki dan menciptakan pembangunan ekonomi, pembangunan daerah, dan penurunan kemiskinan di Provinsi Kalimantan Timur dari 11.14 % pada tahun 2010 menjadi 6,23 % pada tahun 2015 .