Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. V. No. 39 | Potensi Pakistan Sebagai “Tulang Punggung” Baru Dalam Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan menujukan tren peningkatan. Indonesia juga berhasil menggantikan dominasi negara kompetitornya yakni Malaysia dalam pasar minyak sawit pasca Preferential Trade Agreement (PTA) yakni tahun 2014. Sebagian besar produk minyak sawit yang di ekspor oleh Indonesia ke Pakistan dalam bentuk RPO. Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia yang didominasi oleh RPO juga telah sesuai dengan preferensi demand Pakistan yang lebih banyak mengimpor RPO khususnya Olein sebagai bahan baku Vanasphati Ghee. Jika dilihat dari daya saing dibandingkan dengan kompetitornya menunjukan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan Malaysia pada ekspor RPO ke Pakistan, sebaliknya Malaysia lebih unggul pada ekspor CPO dibandingkan Indonesia. Harga ekspor RPO Indonesia ke Pakistan yang lebih rendah dibandingkan Malaysia juga perlu dimanfaatkan sebagai senjata untuk meningkatkan penetrasi pasar. Pasar Pakistan perlu dioptimalkan dengan baik oleh Indonesia dalam rangka peningkatan ekspor minyak sawit di tengah kondisi pasar global yang kurang menguntungkan dan hambatan perdagangan yang diberlakukan oleh negara importir lainnya.

Monitor Vol. V. No. 38 | Minyak Sawit Adalah Minyak Nabati Utama Pakistan

Pakistan merupakan salah satu konsumen minyak nabati terbesar di dunia. Konsumsi minyak nabati Pakistan mencapai 4.64 juta ton pada tahun 2018. Sementara produksi minyak nabati Pakistan hanya sebesar 1.3 juta ton pada tahun 2018. Artinya produksi domestik hanya mampu memenuhi 28 persen dari konsumsi domestik. Selain produksi yang rendah, minyak nabati yang diproduksi oleh Pakistan juga belum mampu memenuhi preferensi konsumen Pakistan. Minyak nabati yang diproduksi oleh Pakistan adalah minyak cottonseed, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari dan minyak kedelai. Sedangkan selain keempat minyak nabati yang diproduksi domestik, terdapat minyak sawit yang tidak diproduksi di dalam negeri namun mampu mendominasi konsumsi minyak nabati Pakistan. Dalam memenuhi kebutuhan domestik, Pakistan mengimpor minyak nabati. Sebagian besar minyak nabati yang diimpor oleh Pakistan adalah minyak sawit dengan proporsi mencapai 96 persen. Impor minyak sawit Pakistan juga terus mengalami peningkatan bahkan tidak terpengaruh oleh rekomendasi kebijakan PFA yang memberikan larangan untuk mengkonsumsi Vanasphati Ghee berbasis minyak sawit karena alasan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya potensi pasar minyak sawit Pakistan yang harus dioptimalkan sebagai salah satu negara tujuan ekspor.

Monitor Vol. V. No. 37 | Dampak African Swine Flu Terhadap Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke China

African Swine Fever (ASF) atau yang dikenal juga dengan Flu Babi Afrika sudah satu tahun ini menyerang industri peternakan babi di China. Pemerintah China melakukan upaya untuk menghentikan wabah tersebut dengan menyembelih babi yang terinfeksi virus sehingga menyebabkan populasi babi dewasa (hog) di China menurun. Penurunan populasi babi di China juga berdampak terhadap penurunan permintaan pakan sehingga menyebabkan permintaan bahan pakan (feedstuff) seperti kedelai (khususnya kedelai impor) juga mengalami penurunan. Rendahnya ketersediaan kedelai impor di China berdampak pada berkurangnya aktivitas industri crushing domestik sehingga produksi minyak kedelai juga mengalami penurunan. Oleh karena itu, industri makanan di China meningkatkan permintaan impor untuk minyak nabati alternatif yang dapat mensubstitusi minyak kedelai yakni minyak sawit. Indonesia sebagai salah satu negara eksportir minyak sawit ke China juga merasakan dampak dari peningkatan permintaan minyak sawit dari negara tersebut. Ekspor minyak sawit Indonesia ke China selama periode Januari-Juni tahun 2018 dan 2019 menunjukkan peningkatan dengan rata-rata selisih sebesar 120 ribu ton.