Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. IV. No. 01 | Industri Minyak Nabati Global : Apakah Peran CPO Indonesia Mulai Menurun?

Sejak tahun 2015, pertumbuhan produksi CPO Indonesia menurun, dan share CPO Indonesia di pasar global juga menurun. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah fenomena ini menegaskan telah terjadi penurunan Trend CPO Indonesia di pasar Global? Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis perkembangan industri CPO Indonesia dan perkiraan Industri CPO Indonesia pada tahun 2018 yang baru kita masuki saat ini. Dalam 5 tahun terakhir, konsumsi minyak nabati dunia bertambah 22,58 juta ton. Volume konsumsi soybean oil lebih besar diandingkan dengan kenaikan konsumsi CPO, masing masing sebesar 10,72 juta ton dan 6,03 juta ton. Hingga saat ini, CPO dan SBO merupakan sumber utama konsumsi nabati dunia, dengan share 73 persen. Meskipun volume konsumsi meningkat, namun dapat dilihat bahwa laju produksi minyak kedelai cenderung lebih besar dibandingkan dengan laju kenaikan produksi CPO, sehingga secara empiris share (pangsa) kosnusmi minyak kedelai cenderung meningkat sedangkan trend pangsa CPO menurun. Faktor utama penurunan share (pangsa) CPO adalah faktor el Nino dan kebakaran yang mengakibakan poduksi 2015 dan 2016 menurun tajam. Belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa penurunan ini adalah karena tekanan pasar global. Namun penurunan trend share CPO dalam 5 tahun terakhir ini diharapkan bermanfaat bagi Indonesia untuk tidak telena dan terus menciptakan pertumbuhan pembangunan CPO di Indonesia. Dalam jangka pendek, meningkatnya permintaan (demand) dari negara negara penngimpor baru akan terus memacu pertumbuhan Industri CPO Indonesia.

Monitor Vol. III. No. 52 | Pengembangan Koperasi Agribisnis Sawit Rakyat

Pada tahun 2017, pekebunan sawit rakyat telah mencapai 53% dari total perkebunan sawit nasional. Dalam jangka panjang, industri sawitnasioal akan ditentukan oleh perkebunan rakyat. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji terwujudnya hal tersebut, melalui pengembangan koperasi agribisnis sawit rakyat. Secara komprehensif, konsep agribisnis ini mencakup aspek hulu, terutama dalam pengadaan pupuk, pestisida dan input lainnya, juga pengelolaan dan pengadaan bibit unggul, dan di bagian on farm, petani sawit rakyat dipacu dalam best practice terbaik dan mengikuti kaidah kaidah sustainability, baik Sertifikasi ISPO maupun RSPO, diikuti pengelolaan unit jasa keuangan, unit usaha jasa kemasan minyak goreng, unit minimarket dan unit jasa konsultan & pengangkutan. Pada bagian hilir, koperasi membangun PKS dan listrik biomass. Implementasi pengembangan koperasi agribisnis dilakukan secara bertahap, yakni (1) identifikasi dan penetapan kebun sawit sehamparan; (2) indentifikasi kebutuhan layanan dan potensi bisnis koperasi sawit rakyat sehamparan. (3) penyusunan dan penetapan organisasi koperasi petani sawit sehamparan dan (4) implementasi.

Monitor Vol. III. No. 51 | Sustainabilitas Industri Minyak Sawit Indonesia, ISPO: Pareto Improvement dan Degree of Sustainability

Indonesia SDGs menjad isu sentral dunia dan aspek keberlanjutan menjadi isu pokok dalam pembangunan, termasuk dalam industri sawit Indonesia. Hal ini sekaligus membawa Indonesia pada perspektif yang lebih luas, bahwa Industri minyak sawit Indonesia tidak semata dari sisi profit, tetapi membangun landasan yang kuat dalam isu sustainability. Isu sustainability ini mencakup 3 pilar penting, yakni Profit (aspek ekonomi), Planet (aspek lingkungan) dan People (aspek sosial). Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis aspek sustainability industri sawit Indonesia dan kontribusinya dalam pencapaian tujuan-tujuan SDGs tersebut di Indonesia. Industri minyak sawit Indonesia memiliki konstribusi dalam pencapaian SDGs 2030, baik mencakup aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan hidup. Perkebunan kelapa sawit Indonesia yang saat ini berkembang pada 190 kabupaten di pelosok tanah air akan berkontribusi secara signifikan dalam pencapaian SDGs 2030 khususnya kabupaten/provinsi sentra sawit di Indonesia. Ada dua hal yang menjadi masukan penting untuk proses sertifikasi perkebunan sawit Indonesia, yakni Pertama proses ini harus bersifat pareto improvement yakni dengan perbaikan prinsip, indikator dan metode pengukuran yang mengintegrasikan prinsip-prinsip sustainability dan multifungsi perkebunan/pertanian, dan Kedua, pengukuran sertifikasi dapat dibedakan berdasarkan tingkatan capaian keberhasilan yang dicapai, atau degree of sustainability.