Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. IV. No. 19 | Perubahan Komposisi Ekspor Sawit dan Perannya dalam Neraca Perdagangan Indonesia

Ekspor minyak sawit semakin besar dalam beberapa dekade terakhir. Namun sejak tahun 2011, proporsi produk olahan pada ekspor minyak sawit Indonesia telah lebih dominan dibanding minyak sawit mentah (CPO). Bahkan pada tahun 2017, proporsi produk olahan telah mencapai 76 persen dari komposisi ekspor minyak sawit Indonesia. Peningkatan proporsi produk olahan ini didorong dengan berhasilnya program hilirisasi kelapa sawit dalam negeri dengan didukung hambatan keluarnya CPO ke pasar internasional. Nilai ekspor minyak sawit yang begitu besar memberikan dampak positif dalam neraca perdagangan non migas Indonesia. Melalui surplus netto ekspor minyak sawit, defisit pada netto ekspor non migas selain sawit dapat tertutupi, sehingga netto ekspor non migas masih bernilai positif.

Monitor Vol. IV. No. 18 | Menuju Agribisnis Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

Posisi strategis kelapa sawit dalam persaingan minyak nabati menarik perhatian dunia. Berbagai upaya dilakukan untuk menghambat industri minyak sawit seiring dengan terancamnya industri minyak nabati lain yaitu Soybean oil (SBO), Rapeseed oil (RSO), dan Sunflower oil (SFO), termasuk dengan kampanye negatif terhadap minyak sawit. Penekanan aspek keberlanjutan kelapa sawit menjadi fokus utama untuk menghadapi isu-isu negatif kelapa sawit terutama dari sisi lingkungan. Indonesia telah memiliki tata kelola lahan perkebunan yang menunjukkan bukti bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia tidak merusak lingkungan. Berdasarkan data RSPO, Indonesia masih menjadi produsen CSPO dan CSPK terbesar di dunia dengan proporsi sebesar 59 persen dari total CSPO dan CSPK dunia. Proporsi tersebut akan semakin besar jika digabungkan dengan data ISPO, dimana sertifikasi ISPO bersifat mandat atau wajib di Indonesia.

Monitor Vol. IV. No. 17 | Realisasi Mandatori Biodiesel dan Perluasan Pada Sektor Non-PSO

Pengembangan biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit bersifat mandat atau wajib di Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015 yang merupakan perubahan ketiga dari peraturan awal terkait mandatori biodiesel Indonesia yang dikeluarkan tahun 2008. Namun sejak diberlakukannya mandatori biodiesel tersebut, target campuran solar dengan biodiesel (blending rate) belum dapat terealiasasikan. Tahun 2016 realisasi mandatori biodiesel sebesar 19 persen hampir memenuhi target B-20 yang ditetapkan. Meskipun realisasi mandatori biodiesel belum terwujudkan, namun perluasan penyerapan pada sektor non-PSO sangat potensial dilakukan seiring dengan peningkatan kebutuhan solar Indonesia. Perluasan mandatori biodiesel pada sektor non-PSO mampu membantu Indonesia dalam menjaga ketahanan energi dengan menghemat impor solar hingga 23 juta kiloliter pada tahun 2025 dengan diberlakukannya B-30.