Upcoming Events
Slider

Latest Monitor

Monitor Vol. III. No. 37| Perkembangan Energi Terbarukan Dunia

Sejalan dengan program Uni Eropa dunia tentang RED (Renewable Energy Directive (RED) dan tarif internasional, negara negara Uni Eropa, Amerika Serikat dan negara maju (developing countries) di dunia mulai meningkatkan produksi dan konsumsi energi terbarukan, baik bioethanol maupun biodiesel. Indonesia memiliki posisi yang unik dan memiliki kesempatan yang cukup besar di masa mendatang, dimana pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia hanya 44.000 ton pada tahun 2006, dan tahun 2016 mencapai 2,5 juta ton. Saat ini Indonesia memiliki share 3% dari total poduksi dunia, dan berhasil mengungguli India. China dan sejumlah negara negara di Uni Eropa, yang jauh lebih awal mengembangkan biodiesel. Growth perkembangan produksi bodiesel Indonesia mencapai 84.3 % per tahun. Perkembangan ini berhasil menarik perhatian dunia, salah satunya negara RRC yang mulai mengembangkkan B-5 dengan kerja sama dengan Indonesia.Perdagangan etanol dan biodiesel sebagian besar didorong oleh kebijakan emisi gas rumah kaca yang mempromosikan produksi biofuel di Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil, dan Argentina. Perdagangan dan produksi etanol menghadapi kebijakan dan tarif yang lebih bertarget daripada biodiesel. Perkembangan masa depan kebijakan UE, terutama mengenai persyaratan keberlanjutan, kemungkinan akan berdampak besar pada ukuran perdagangan bahan bakar nabati. Amerika Serikat mungkin mengimpor lebih sedikit biofuel dengan berakhirnya kredit pajak produksi dan saturasi penggunaan etanol dalam campuran bensin. Ekspor dari Amerika Serikat kemungkinan akan tergantung pada status legislasi UE dan kapasitas produksi produsen lain, terutama Brasil dan Argentina.

Monitor Vol. III. No. 36 | Perkembangan Biodiesel Uni Eropa

Saat ini, di pasar global, biodiesel mengalami perkembangan yang pesat dan jauh berbeda dibandingkan dengan keadaan pada 1 dekade yang lalu. Uni Eropa merupakan negara konsumen biodiesel terbesar (34,2 % dari total konsumsi biodiesel dunia). Selama 1 dekade, (2006-2016) Uni Eropa menghadapi masalah yang pelik dalam upaya memenuhi target RED, dimana Uni Eropa telah menjadi konsumen utama energy terbarukan, seiring dengan penerimaan RED pada tahun 2009. Namun, fakta menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin besar antara konsumsi dengan produksi. Laju pertumbuhan konsumsi biofuel jauh lebih besar dibandingkan dengan laju produksi biodiesel yakni 12.5 % per tahun dengan 10,4 % per tahun. Bila dilihat dari volume, maka terlihat, rata-rata pertambahan konsumsi biodiesel adalah 7 juta ton per tahun, sedangkan produksinya hanya bertambah rata-rata 0.7 juta ton per tahun, sehingga kesenjangan antara konsumsi dan produksi cenderung semakin melebar (widening gap), Kondisi ini menjadi semakin rancu, ketika Uni Eropa membatasi impornya dari Indonesia dan Argentina, dengan menerapkan pajak ekspor yang tinggi dengan tuduhan anti dumping, yang saat ini masih sedang dalam proses penyelesaian. Data ini ingin menunjukkan bahwa Uni Eropa masih tetap memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor biodiesel, dan peran Indonesia sebagai produsen biodiesel masih tetap memiliki kedudukan yang penting di masa mendatang.

Monitor Vol. III. No. 35 | Perkembangan Biodiesel Indonesia dan Terbesar di Asia

Mandatori Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Kementerian ESDM telah menetapkan arah kebijakan di sektor energi yang mengedepankan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan salah satunya melalui pemanfatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Implementasi kebijakan mandatori berhasil menciptakan pasar BBN di dalam negeri yang tumbuh secara signifikan dari tahun 2009 hingga 2014. Dengan meningkatnya porsi biodiesel selama kurun waktu tahun 2013 dengan implementasi pemanfaatan biodiesel (B-10). Pemerintah telah berhasil melakukan penghematan devisa sebesar 831 juta USD dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri sebesar 1,05 juta KL (meningkat sebesar 56,62% dari pemanfaatan biodiesel tahun 2012). Hal ini berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil dan memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), serta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat. Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 44 ribu ton, dan berada di bawah Thailand. Namun pada tahun 2016, produksi biodiesel Indonesia mencapai 2,5 juta ton, dan berhasil melampaui China. pertumbuhan biodiesel dunia adalah rata-rata meningkat 14,1 persen per tahun. Sedangkan Asia tumbuh lebih pesat, yakni rata-rata 25 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan China adalah 14.60 persen, India 12.70 persen, Indonesia 65.40 persen, Korea Selatan 45.40 persen, dan Thailand 39.90 persen. Data di atas menunjukkan keunggulan Indonesia, dengan pertumbuhan yang besar, yakni 65.40 persen dan mengungguli negara negara Asia lainnya. Keberhasilan ini sekaligus menempatkan posisi indonesia sebgai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia di masa mendatang. Pada pasar biodiesel global, terlihat bahwa konsumsi biofuel dunia akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2020. Uni Eropa akan menjadi pengimpor utama biofuel di masa mendatang, dan hal ini menjadi signal yang positif bagi Indonesia untuk terus meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai saat ini.