Monitor Vol. III. No. 33| Pengembangan Biodiesel di India

Biofuels memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi India. Permintaan energi negara India diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4,8 persen selama beberapa dekade. Sebagian besar kebutuhan energi saat ini dipenuhi oleh bahan bakar fosil - batubara, produk berbasis minyak bumi dan gas alam. Produksi minyak mentah dalam negeri hanya bisa memenuhi 25-30 persen konsumsi nasional. Artikel ini secara khusus bertujuan menganalisis perkembangan biodiesel di India, karena akan berdampak langsung dengan komoditas strategis Indonesia yakni kelapa sawit. Permintaan solar lima kali lebih tinggi dari permintaan bensin di India. Tapi sementara industri etanol sudah matang, industri biodiesel masih dalam tahap awal. Teknologi biodiesel India saat ini adalah transesterifikasi minyak nabati. Pemerintah telah merumuskan Misi Biodiesel Nasional yang ambisius untuk memenuhi 20 persen persyaratan diesel negara tersebut. Karena permintaan akan minyak nabati yang dapat dimakan melebihi pasokan, pemerintah telah memutuskan untuk menggunakan minyak yang tidak dapat dimakan dari biji Jatropha Curcas sebagai bahan baku biodiesel. Kebijakan biodiesel dirancang dalam dua fase, dan saat ini sedang menjalani fase kedua. Perkembangan Fase I lebih mengandalkan tanaman jarak pagar, dan tahap duamulai mengarah pada komersialisasi biodiesel. Data menunjukkan, produksi biodiesel India mengalami perkembangan awal yang baik, namun menghadapi keterbatasan dalam hal bahan baku. Gap ini dipenuhi dengan kebijakan impor minyak nabati, antara lain CPO. Hal ini memberikan kesempatan bagi Industri minyak sawit Indonesia dan membuka kesempatan kerja sama bilateral kedia negara. Salah satu potensi pada masa mendatang, juga adalah pembukaan perkebunan sawit seluas 2 juta hektar, yang berpotensi menghasilkan produksi 8 juta ton, serta kerja sama dalam industri biodiesel.

Monitor Vol. III. No. 32| Pengembangan Biodiesel di China

Kalangan pelaku industri biodiesel mengapresiasi kebijakan pemerintah China yang menerapkan program B5 atau biodiesel campuran 5% dengan solar. Penggunaan biodiesel di China menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor produk sawit Indonesia terutama biodiesel. Permintaan CPO akan meningkat sebesar 9 juta ton. Kebijakan ini berdampak positif bagi industri munyak sawit di Indonesia setelah berbagai tekanan Amerika Serikat dan Uni Eropa, dimana Amerika Serikat mengenakan pajak yang tinggi akibat tuduhan adanya dumping dan subsidi produk biodiesel Indonesia. Secara khusus, tulisan ini ingin mengkaji kebijakan biodiesel China, untuk memberikan informasi penting bagi kebijakan industri sawit Indonesia, khususnya para pelaku yang terlibat langsung. Dalam kasus biodiesel, target yang ditetapkan untuk tahun 2020 adalah 2 juta ton. Bahan baku alternatif, seperti minyak limbah dan buah minyak yang memiliki semak yang tidak dapat dimakan (mis., pohon jarak), masing-masing memiliki kapasitas teknis untuk memenuhi target. Hambatan utamanya adalah biaya biodiesel yang relatif mahal dibandingkan harga solar di China. China tidak dapat memenuhi target biofuelnya dalam skenario bisnis seperti biasa. Hal ini menjadi alasan jutama China memilih minyak sawit dengan harga yang jauh lebih murah untuk memenuhi kebijakan B5 tersebut. Dan hal ini akan berdampak positif bagi pengembangan kerja sama Indonesia dan China dalam pengembagan biodiesel.

Monitor Vol. III. No. 31 | Megasektor Sawit dan Kebutuhan Pengelolaan Baru

Perkebunan sawit nasional saat ini sudah berkembang meluas baik ke sektor hulu sawit maupun ke sektor hilir sawit yang membentuk suatu kluster industri yang dapat disebut sebagai Megasektor Sawit, yang mencakup Sektor Hulu (up-stream sector), Sektor Perkebunan Kelapa Sawit (on-farm sector), Sektor Hilir (down-stream sector) dan Sektor Jasa pendukung (supporting services sector). Pengelolaan Megasektor Sawit nasional saat ini masih tersekat-sekat (dispersal) dan berjalan sendiri-sendiri. Pada level nasional saat ini setidaknya 15 Kementerian/lembaga yang terkait dengan Megasektor Sawit. Belum lagi 23 pemerintahan provinsi dan 200 lebih kabupaten yang mengurus sentra-sentra sawit. Bahkan untuk sektor hilir melibatkan hampir semua pemerintahan kabupaten dan kota. Berkembangnya industri sawit nasional menjadi suatu Megasektor Sawit, memerlukan perubahan paradigma, cara dan lingkup pengelolaan. Untuk mengintegrasikan dan mem-fokuskan pengelolaan Megasektor Sawit, diperlukan lembaga nasional yakni Badan Sawit Nasional. Badan tersebut merupakan alat pemerintah untuk memacu industrialisasi Megasektor Sawit, sustainability Megasektor Sawit dan menjadi pemimpin pasar minyak sawit dunia.