Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. III. No. 46 | Analisis Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa: Faktor Apa yang Mendorong Trend Positif?

Sejak tahun 2015 hingga kwartal I-2017, Indonesia menghadapi tekanan yang cukup besar, khususnya dari Negara Uni Eropa. Namun, secara empiris, trend ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa tetap meningkat pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan, Resolusi Sawit yang dikeluarkan oleh Parlemen Uni Eropa pada bulan April 2017, tidak mudah diimplementasikan. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain: Pertama, permintaan impor CPO Uni Eropa dari Indonesia bersifat elastis dalam jangka pendek. Hal ini didukung harga CPO yang lebih rendah dibandingkan dengan sumber minyak nabati lainnya. Pada tahun 2017, rasio harga SBO/CPO adalah 1,09, rasio harga RSO/CPO adalah 1,28 dan rasio harga SFO/CPO adalah 1,43; Kedua, adalah faktor excess demand, dimana produksi nabati domestik Uni Eropa hanya mampu memenuhi dua per tiga dari konsumsi domestiknya, dan sepertiganya tergantung pada impor. Share ekspor CPO Indonesia mencapai 80% dari total impor Uni Eropa, dan sisanya dari Malaysia. Hal ini mencerminkan posisi penting Indonesia di pasar nabati Uni Eropa, Ketiga: dari sisi supply, CPO relatif lebih tersedia dibandingkan dengan rapeseed oil, dimana rapeseed oil tergolong thin market di pasar global; Keempat, faktor dukungan dan kebijakan pemerintah Indonesia, baik dalam lobby internasional (khususnya ke Uni Eropa), dan dukungan pemerintah dalam isu sustainability.

Monitor Vol. III. No. 45 | Tingkat Suku Bunga Kredit, Replanting/Produktivitas dan Penggunaan Dana Sawit

Arah pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional saat ini adalah peningkatan produktivitas sawit. Dengan “target 35-26” yakni peningkatan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 35 ton TBS per hektar dengan rendemen minyak 26 persen, Indonesia bisa mencapai produktivitas 9 ton/ha. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas perkebunan sawit Indonesia, kebijakan replanting dan kendala suku bunga yang tinggi dan menjadi salah satu kendala dalam kebijakan replanting di Indonesia. Sebagian besar perkebunan rakyat sudah melewati usia produktif 25 tahun, dan sudah saatnya untuk diremajakan. Masalahnya di Indonesia saat ini tingkat suku bunga (biaya modal) begitu tinggi dan tidak kompetetif dibandingkan dengan di negara lain. Sementara hasil studi empiris menujukkan penurunan tingkat suku bunga kredit di Indonesia sangat siginifikan meningkatkan produktivitas kebun sawit di Indonesia dan berdampak positif bagi pengembangan industri hulu dan hilir Industri sawit Indonesia. Kebijakan yang diperlukan untuk masa depan industri strategis ini ialah dukungan pemerintah melalui pengelolaan Dana Sawit, yakni dengan memberikan subsidi bunga kepada investasi sawit, khususnya petani maupun industri hilir sawit.

Monitor Vol. III. No. 44 | Prospek Industri Sawit 2018 Semakin Berkilau?

Industri minyak sawit Indonesia mengalami banyak dinamika baik di level global maupun di dalam negeri. Pada level global, industri sawit kita menghadapi ancaman Perancis yang merencanakan memberlakukan tarif impor super tinggi, tekanan resolusi Parlemen Uni Eropa dan tekanan Amerika Serikat tentang tuduhan dumping ekspor biodiesel Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mereview perkembangan industri sawit Indonesia 2017 dan memprediksi tahun 2018. Pada tahun 2017, pasar empat minyak nabati utama dunia mengalami kelebihan permintaan (excess demand). Hal inilah mendorong terjadinya perubahan harga CPO dunia dari pergerakan menurun (bottoming-in) sejak tahun 2011 kemudian bergerak naik (bottoming out) pada tahun 2016 dan 2017. Diperkirakan tahun 2018 pergerakan harga masih meningkat melanjutkan trend 2017. Dengan demikian industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 tampaknya lebih baik dibandingkan tahun 2017. Produksi CPO tahun 2018 akan lebih tinggi dari produksi CPO tahun 2017. Demikian juga dengan harga CPO di pasar global diperkirakan akan naik 5,42 persen dari USD 735/ton menjadi USD 775/ton atau lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017.