Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. V. No. 24 | Reformulasi Threshold dan Harga Referensi Pemberlakuan Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Threshold dan harga menentukan besarnya nilai pajak ekspor yang dikenakan pada produk minyak sawit baik bea keluar maupun pungutan ekspor. Pengenaan pajak ekspor yang memiliki tujuan salah satunya untuk mendorong hilirisasi, namun dalam impelementasinya hilirisasi juga belum optimal tercapai, sementara itu produsen CPO dan TBS juga dirugikan karena harga yang rendah. Sehingga dibutuhkan reformulasi, salah satunya untuk mereformulasi threshold dan harga referensi ini. Sehingga reformulasi harga referensi dengan mengunakan rata-rata harga FOB Indonesia dan Malaysia yang diboboti berdasarkan volume ekspornya. Diharapkan dengan formulasi threshold dan harga referensi ini akan meminimalisir dampak pengenaan pajak ekspor yakni merugikan produsen CPO dan TBS domestik serta mampu mendorong perluasan hilirisasi.

Monitor Vol. V. No. 23 | Dampak Penghentian Impor Minyak Sawit Indonesia Oleh Uni Eropa

Uni Eropa merupakan salah satu negara tujuan ekspor minyak sawit (crude dan refined) Indonesia dengan volume yang meningkat. Volume ekspor minyak sawit Indonesia ke EU-28 meningkat yakni dari 2.7 juta ton (2010) menjadi 3.7 juta ton. Komposisi ekspor minyak sawit Indonesia ke EU-28 mengalami perubahan dari dominasi crude menjadi dominasi refined. Selain volume ekspor yang meningkat, nilai ekspor sawit dan turunannya Indonesia ke EU-28 juga cenderung meningkat. Tahun 2001 nilai ekspor sawit Indonesia ke EU-28 sebesar USD 0.3 Miliar naik menjadi USD 3.57 Miliar tahun 2018. Hal ini tentu saja memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia khususnya penambahan devisa dari ekspor minyak sawit Indonesia. Jika Uni Eropa menghentikan impor minyak sawit dan turunannya dari Indonesia, Produsen TBS dan CPO mengalami kerugian (worse-off). Selain itu Neraca Perdagangan Indonesia – EU 28 terancam defisit, dan Indonesia keseluruhan mengalami kerugian. Oleh karena itu, antisipasi terhadap dampak tersebut sejak dini perlu dimitigasi.

Monitor Vol. V. No. 22 | Biodiesel Sawit Sebagai Solusi Kebijakan Trump

Negara super power (Amerika Serikat) merupakan salah satu negara emitter utama di dunia dengan kontribusinya mencapai 13 persen dari emisi global. Besarnya kontribusi USA terhadap emisi GHG global menuntut negara ini turut bertanggung jawab untuk menurunkan emisi GHG dunia bersama negara emitter utama lainnya. Bentuk kontribusi negara-negara emitter utama dunia dan negara lainnya adalah Paris Agreement. Namun dibawah kepemimpinan Presiden Trump menghendaki USA keluar dari kesepakatan tersebut. Hal ini dikarenakan, kesepakatan tersebut berpotensi menurunkan perekonomian dan kesejahteran USA. Upaya lainnya untuk menurunkan emisi yang sudah dilakukan oleh USA adalah dengan pengembangan biodiesel dengan bahan baku utama minyak kedelai. Namun menurut beberapa studi, biodiesel dengan bahan baku kedelai justru meningkatkan emisi, inefisien dalam penggunaan input dan deforestrasi yang luas serta biaya produksi yang relatif tinggi. Solusi yang ditawarkan untuk USA dalam rangka tetap berkontribusi untuk menurunkan emisi global dengan tetap mempertahankan kesejahteraan negaranya adalah dengan mengembangkan biodiesel sawit. Biodiesel sawit mampu menghemat emisi serta harganya lebih kompetitif dibandingkan biodiesel minyak nabati lainnya.