Upcoming Events

Latest Monitor

Monitor Vol. IV. No. 04 | Tekanan Pasar Global Terhadap CPO: Bagaimana Trend CPO tahun 2018?

Perang nabati di pasar global dan tekanan anti sawit kembali muncul dan memilki dampak buruk bagi industri sawit nasional, khsusnya tekanan Parlemen Uni Eropa, yang mengajukan proposal energi dan menghapus CPO dalam daftar renewable energy. Hal ini sekaligus menghambat ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa. Hal yang sama telah berlangsung di Amerika Serikat, yang menyebutkan adanya dumping pada biodiesel Indonesia. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis tentang (1) biodiesel sebagai renewable energy yang menggunakan CPO sebagai bahan baku dan (2) dampak tekanan ini terhadap nabati CPO di pasar global tahun 2018. Pasar nabati CPO terkait dengan soybean oil (SBO), karena kedua komoditas ini memiliki share terbesar dalam perdagangan minyak nabati global. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa Impor CPO di pasar global memiliki trend positif, dengan pertambahan volume impor sebesar 0,19 juta ton. Sementara itu, SBO juga akan naik dari 11,48 juta ton menjadi 12,25 juta ton, atau naik sebesar 0,767 ton metrik ton. Kenaikan SBO pada tahun 2018 mencapai 4 kali lipat dibandingkan dengan CPO. Fenomena ini menarik karena dari sisi harga SBO relatif lebih mahal namun volume impor negara konsumen meningkat. Informasi ini penting bagi pemerintah, maupun bagi pelaku industri sawit Indonesia, dimana dalam jangka pendek (2018) CPO mendapat tekanan yang serius.

Monitor Vol. IV. No. 03 | Perkembangan Impor Nabati Terkini : Pakistan dan Bangladesh memiliki Prospek yang Baik

Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia di pasar global mulai berkembang pesat sejak 1997. Konsumsi minyak nabati utama dunia meningkat dari 5,9 juta ton pada tahun 1997 menjadi 110 juta ton pada tahun 2017. Peningkatan ini hampir 20 kali lipat, dan menunjukkan perkembangan yang revolusioner. Perkembangan tersebut disebakan oleh adanya excess demand minyak nabati di pasar global, dimana laju permintaan (konsumsi) lebih tinggi dibandingkan dengan laju produksi (supply). Seiring dengan meningkatnya konsumsi, maka volume perdagangan nabati di pasar dunia juga berkembang pesat. Hal ini tercermin dari perkembangan pesat permintaan impor minyak nabati dunia. Tujuan tulisan ini secara khusus menyajikan secara deskriptif perkembangan terkini impor CPO di pasar global. Apakah pergeseran tujuan ekspor CPO Indonesia akan mulai mengadakan pergeseran di masa mendatang? Impor CPO di Uni Eropa dan negara China memiliki trend yang negatif atau menurun. Hal ini berbeda dengan India, dimana volume impor CPO berada pada urutan terbesar dunia, dan memiliki terdapat trend yang positif. Demikian halnya dengan Pakistan dan Bangladesh, total impor CPO kedua negara ini memiliki trend yang positif. Pakistan dan Banladesh saat ini masih memiliki konsumsi nabati per kapita masih tergolong rendah dan masih bertumbuh di masa mendatang, dengan demikian, disamping India, Pakistan dan Bangladesh memiliki prospek yang baik dan menjadi salah satu tujuan ekspor CPO bagi Indonesia.

Monitor Vol. IV. No. 02 | Biofuel Generasi Kedua dari Kebun Sawit Indonesia

Kebun sawit menghasilkan biofuel generasi pertama (biodiesel) dan biofuel generasi kedua (biomas). Selain minyak sawit (CPO+PKO) sebagai bahan baku biodiesel, kebun sawit juga menghasilkan biomas sekitar 16 ton bahan kering per hektar per tahun berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds). Sehingga dengan 11 juta hektar kebun sawit indonesia dapat menghasilkan biomas sekitar 176 juta ton biomas bahan kering setiap tahun. Biomas dapat diolah menjadi bioetanol (pengganti premium/gasoline). Jika diasumsikan setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol. Maka dengan produksi biomas kebun sawit Indonesia sebesar 176 juta ton per tahun, secara teoritis dapat menghasilkan 26 juta kilo liter etanol/biopremium setiap tahun. Produksi biopremium sebesar itu hampir 60 persen dari kebutuhan premium di Indonesia setiap tahun. Indonesia berpeluang menjadi produsen biodiesel sekaligus biomas terbesar dunia.