Monitor Vol. III. No. 03 | Perkebunan Kelapa Sawit : Hemat Air dan Lestarikan Cadangan Air Tanah

Perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air yakni melalui (1) mekanisme struktur pelepah daun pohon kelapa sawit yang berlapis-lapis dapat menaungi land cover mendekati 100 persen sejak kelapa sawit berumur muda, (2) mekanisme tata kelola lahan dalam budidaya kelapa sawit, (3) sistem perakaran serabut pohon kelapa sawit yang massif, luas dan dalam (biopori alamiah). Dengan menggunakan indikator evapotranspirasi tanaman yakni persentase nilai evapotranspirasi dari curah hujan, kebun kelapa sawit juga relatif hemat air dibandingkan dengan tanaman hutan lainnya. Tanaman Bambu dan Lamtoro tergolong boros air dengan kebutuhan sekitar 3.000 mm per tahun, kemudian disusul oleh tanaman Akasia 2.400 mm per tahun, dan Sengon 2.300 mm per tahun. Pinus dan Karet sekitar 1.300 mm per tahun, sedangkan kebun sawit hanya 1.104 mm per tahun. Untuk menghasilkan setiap giga joule bionergi (minyak/energi nabati), tanaman Rapeseed memerlukan 184 m3 air, Kelapa 126 m3 air, Ubi Kayu 118 m3 air, Jagung 105 m3, Kedelai 100 m3 air, Bunga Matahari 87 m3, kelapa sawit 75 m3 dan tebu sebesar 28 m3. Dengan demikian kelapa sawit tenyata relatif hemat air baik untuk pertumbuhan maupun produksi bioenergi. Tidak hanya hemat air, tanaman sawit juga melestarikan cadangan air tanah melalui sistem perakaran yang serabut dan massif membentuk biopori alamiah yang berfungsi menyimpan air dan konservasi tanah.

Monitor Vol. III. No. 02 | Urgensi Pembentukan Badan Sawit Nasional

Sawit Indonesia telah berkembang revolusioner, bukan hanya dalam luas perkebunan kelapa sawit saja, tetapi juga Indonesia telah berhasil merebut posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia. Minyak sawit juga berhasil menggeser minyak kedelai sebagai minyak nabati utama dunia. Dengan demikian, Indonesia memegang peran penting bukan hanya pada pasar minyak sawit dunia tetapi dalam pasar minyak nabati dunia. Industri sawit Indonesia yang telah menjadi Mega Agribisnis Sawit Global memerlukan perubahan paradigma, kapasitas dan level pengelolaan kebijakan dari sektoral ke nasional yakni Badan Sawit Nasional. Pembentukan Badan Sawit Nasional tersebut dimaksudkan untuk percepatan pengembangan industri minyak sawit sebagai industri strategis di Indonesia; mengintegrasikan kebijakan lintas kementerian, daerah dan global; mengurangi lembaga dan beban kementerian serta mengurangi biaya transaksi. Badan Sawit Nasional juga merupakan alat (vehicle) Indonesia untuk merebut dan menjadi pemimpin pasar minyak sawit.

Monitor Vol. III. No. 01| Proyeksi Pola Konsumsi Minyak Nabati di Negara Tujuan Ekspor Indonesia Tahun 2020

Tulisan ini bertujuan menganalisis pola konsumsi minyak nabati di negara negara tuuan ekspor CPO Indonesia, yakni India, China, Uni Eropa dan USA, dan memprediksi pola konsumsi pada tahun 2020. India merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, disamping sangat tinggi juga cenderung meningkat. Dalam jangka pendek, ekspor CPO ke China masih tinggi, namun lambat laun akan cenderung menurun. Karena pangsa CPO dalam konsumsi minyak nabati China semakin kecil dan kurang dari seperlima. Baik Uni Eropa maupun USA, trendnnya smaa sama menurun. Namun Uni Eropa sedikit berbeda dengan USA, dimana konsumsi CPO du UE mencapai 6 juta ton lebih, sedangkan di USA berkisar 1 juta ton lebih. Hal menarik dari data di atas adalah terdapat kecenderungan ekspor yang semakin besar ke ROW, yang meningkat dari 38,3 juta ton (2016) menjadi 47,5 juta ton (2020), atau meningkat 9 juta ton, atau adanya kenaikan pangsa konsumsi CPO dari 53,02 % (2016) dan 54.49 % (2020). Hal ini menunjukkan, lebih dari separuh konsumsi minyak nabati di ROW adalah CPO, dan cenderung meningkat. Sementara pola konsumsi Soybean oil akan cenderung menurun dari 28,9 % (2016) menjadi 26,32 % (2020). Secara umu, pasar CPO di pasar global cenderung meningkat dari 53,19 juta ton (2016) menjadi 59,5 juta ton (2020) atau naik dari 39,39 persen (2016) menjadi 40,13 persen pada tahun 2020. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Industri CPO Indonesia memiliki prospek yang baik di masa mendatang.