100 Ribu Ha Sawit Sumut Masuk Daftar Replanting

Medan –¬†Sekitar 100.000 hektare tanaman kelapa sawit Sumatera Utara (Sumut) masuk daftar program peremajaan (replanting). Jumlah tersebut sekitar 25% dari total sawit perkebunan rakyat Sumut seluas 400.000 hektare. Tanaman yang masuk list replanting yakni tanaman tua dan tidak produktif sehingga produktivitasnya sangat rendah.

“Luasan 100.000 hektare dihitung setelah pendataan di kabupaten/kota. Jumlah ini bisa saja berubah, namun untuk saat ini dipastikan di luasan itu. Tentunya diharapkan replanting akan menggenjot pendapatan petani karena nantinya produktivitas tanamannya akan meningkat,” kata Sekjen DPP Apkasindo Asmar Arsjad, Senin (12/9).

Asmar mengatakan, secara nasional total tanaman kelapa sawit yang akan di-replanting sebanyak 1,5 juta hektare. Jumlah ini sekitar 31,25% dari total sawit perkebunan rakyat seluas 4,8 juta hektare.

Seperti diketahui, dana replanting sawit berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). Cara pendanaan replanting adalah sekitar Rp 25 juta atau 41% dari total biaya replanting per hektare diberikan secara hibah. Sedangkan sisanya, petani mendapat kredit murah lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Tahap pertama, dana hibah yang digelontorkan senilai Rp 376 miliar untuk meremajakan sawit di lahan seluas 15.060 hektare. Sementara target replanting di tahun 2016 seluas 48.000 hektare.

Asmar mengatakan, program replanting untuk tanaman akan dimulai efektif pada tahun 2017. Namun untuk 2016, program ini sudah mulai digulirkan berupa pemberian beasiswa D-1 untuk 300 anak petani kelapa sawit dari seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 100 orang di Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi Bekasi dan 200 orang di Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta. Sementara untuk Sumut, dapat jatah 23 anak petani sawit yang dapat beasiswa.

Selain itu, dilakukan juga pelatihan pada petani. Pelatihan ini akan berisi materi menyangkut replanting, lingkungan hidup dan sumber daya manusia (SDM).
Materi-materi ini juga akan ditambah terkait RSPO dan bagaimana meningkatkan produktivitas tanaman.”Replanting kan tidak hanya sekadar mengganti tanaman tua dengan tanaman yang baru. Tapi hal-hal yang menyangkut petani dan bagaimana meningkatkannya, menjadi poin penting juga. Karena itu, program beasiswa dan pelatihan petani dijadikan bagian dari replanting sawit,” jelas Asmar.

Ketua Apkasindo Sumut Gus Dalhari Harahap mengatakan saat ini tanaman sawit petani memang banyak yang produktivitasnya rendah. “Mungkin ada sekitar 60% merupakan tanaman tua dan tidak produktif sehingga perlu diremajakan. Tapi tentu ada prioritas. Kita sudah mengusulkan tahin ini bisa mendapat bantuan replanting sebanyak 10.000 hektare,” katanya.

Dikatakannya, tanaman yang butuh replanting berada di sentra produksi sawit Sumut seperti Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Asahan, Simalungun dan Batubara.

Untuk kepentingan replanting, Apkasindo Sumut sudah melakukan sosialisasi ke kelompok tani yang ada di lima kabupaten itu agar para petani benar-benar siap mengikuti dan menjalankan replanting. Sejauh ini kata Gus, Apkasindo melakukan pendekatan langsung ke petani. Selain itu, Apkasindo juga merangkul tokoh-tokoh masyarakat untuk meyakinkan petani bahwa program replanting itu demi kelangsungan tanaman sawit dan hidup lebih baik para petani.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, replanting sawit perkebunan rakyat perlu evaluasi terkait produktivitas. Pasalnya, ada perbedaan mencolok antara produktivitas tanaman perkebunan sawit yang dikelola perusahaan dengan yang dikelola secara mandiri oleh petani. “Pengelolaan harus menjadi materi penting juga jika ada pelatihan. Karena jika dikelola mengikuti standar pengelolaan sawit yang dilakukan perusahaan profesional, petani dapat menikmati keuntungan yang besar,” katanya. (elvidaris simamora)

Sumber: Medanbisnisdaily.com

788 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *