35 Perusahaan Sawit Gagal Raih Sertifikasi ISPO

Medan – Sedikitnya 35 perusahaan sawit dari sekitar 800 perusahaan yang mengajukan diri untuk disertifikasi oleh Komisi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dinyatakan tidak lulus. Sebagian besar terkendala dengan legalitas dan pengelolaan lingkungan.

Ketua Komisi ISPO Herdrajat Natawidjaya mengatakan, hingga saat ini pihaknya memperoleh dokumen dari sekitar 300 perusahaan yang mendaftar untuk diaudit. Dari angka itu, sekitar 184 perusahaan telah mengantongi sertifikat ISPO. “Sedangkan 35 perusahaan masih terkendala, dan dinyatakan tidak lulus,” katanya dalam acara Social and Environmental Excellence Development (Smart SEED) di Medan, Rabu (21/9).

Pihaknya menargetkan hingga akhir tahun ini sedikitnya 200 perusahaan telah mengantongi sertifikat ISPO dari total 1.600 perusahaan sawit di Indonesia yang dinilai bisa mengikuti uji tersebut. Kini, setidaknya 1,3 juta hektare kebun sawit dan 6,3 juta ton telah tersertifikasi.

Herdrajat menambahkan, sertifikasi ISPO diperlukan agar perkebunan sawit di Indonesia berkelanjutan, tidak merusak lingkungan sekitar. Itulah sebabnya pemerintah mewajibkan semua perusahaan perkebunan sawit mengantongi sertifikat tersebut.”ISPO ini komitmen kita pada dunia internasional, bahwa kita membangun industri dengan peduli lingkungan, sosial, dan ekonomi. Bagaimana industri ini bisa keluar dari permasalahan yang dipersoalkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Melalui standar ini industri mereka memenuhi standar lingkungan,” paparnya.

Dia mengatakan, Eropa tahun 2020 mensyaratkan CPO yang diterima harus dari perusahaan yang mengelola berdasarkan prinsip sustainable dan kemungkinan beberapa negara lainnya terutama negara-negara yang merupakan pasar ekspor Indonesia, seperti China dan India akan menerapkan hal yang sama. “Di dalam penerapan ISPO, ada tujuh prinsip yang agak berat memang menyangkut legalitas yang mulai dari izin lokasi, kemudian perolehan lahan, HGU harus sesuai dengan tata ruang, harus memfasilitasi kebun masyarakat dan semua itu memang tidak mudah,” katanya.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Musdhalifah Machmud mengungkapkan,hingga saat ini pemerintah terus mendorong industri sawit termasuk petani untuk sama-sama memperkuat kebijakan ISPO. “Hal ini dimaksudkan agar kepercayaan dunia terhadap industri semakin kuat,” katanya.

Head of Downstream Sustainability Implementation PT Smart Tbk Daniel Prakarsa menambahkan, hingga saat ini sebagian besar pabrik milik perusahaan itu telah mengantongi sertifikat ISPO. “Secara nasional kami memiliki 44 pabrik, sedangkan di Sumut ada 2 pabrik,” katanya.

Di Sumut sendiri, pabrik milik PT Smart telah mengantongi sertifikasi ISPO. Namun, selain memproduksi dari kebun sendiri, pihaknya juga banyak memasok sawit dari petani dan perusahaan lain untuk memenuhi kapasitas produksi dan penjualan CPO melalui daerah ini. “Nah, pemasok kami banyak juga yang belum diaudit, sehingga kami terus mendorong mereka untuk aktif dalam program ini,” tandasnya. (daniel pekuwali)

Sumber: medanbisnisdaily.com

 

642 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *