Bea Keluar CPO Tak Mengejutkan

Samarinda – Pemerintah pusat telah menetapkan, crude palm oil (CPO) akan dikenakan bea keluar. Yakni, karena adanya penguatan harga. Pemprov Kaltim memandang ini hal wajar. Sebab, sebelumnya juga sudah diberlakukan bea terhadap komoditas unggulan ini.

Diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi produk CPO untuk bea keluar periode Oktober 2016 sebesar USD 781,49 per metrik ton (MT) pada Senin (26/9). Harga itu naik sebesar USD 71,33 atau 10,04 persen dari periode September 2016, yaitu USD 710,16 per MT.

Kepala Bidang Usaha Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim M Yusuf mengatakan, harga CPO tersebut belum pasti langgeng. Sebab, saat ini sudah mendekati musim penghujan, disusul musim gugur, sehingga stok minyak nabati di luar negeri akan melimpah. Dampaknya, nilai CPO akan segera turun lagi karena tersaingi. Pasalnya, di luar negeri, seperti diketahui, berbagai produk makanan dan minuman semakin ramai bertuliskanfree CPO oil, layaknya label halal pada produk makanan di Indonesia. Yakni, hal tersebut merupakan kampanye hitam.

“Harga CPO ini tak menentu. Mungkin saat ini naik, nanti bisa jadi turun lagi. Karena ditentukan negara lain seperti Belanda. Tapi, kalau dalam keadaan seperti saat ini, ekspor Kaltim akan meningkat, meski ada bea keluar,” ucapnya.

Dengan adanya kenaikan nilai CPO ini, lanjut Yusuf, harga tandan buah segar (TBS) akan ikut naik, sehingga semakin baik dampaknya bagi masyarakat petani sawit di Kaltim. Sebab, dari 100 persen harga TBS, 69 persen nilai CPO merupakan komponen yang memengaruhinya. Sisanya, adalah harga kernel, dan berbagai nilai operasional perusahaan sawit.

Dia menjelaskan, bea keluar tersebut merupakan hal wajar. Yakni, berdasar peraturan pemerintah, nilai CPO memang akan ditarik kalau melewati USD 750 per MT. Namun, sejak  1 Juli 2015, nilai di bawah USD 750 juga tetap ditarik, tapi diambil ke Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Saat ini, harga referensi CPO kembali menguat dan telah berada di atas ambang batas pengenaan bea keluar di level USD 750. Untuk itu, CPO dikenakan bea keluar senilai USD 3 per MT untuk periode Oktober 2016. Ketetapan itu, tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 65/M-DAG/PER/9/2016 tentang penetapan harga patokan ekspor (HPE) atas produk pertanian dan kehutanan yang dikenakan bea keluar.

Sebaliknya, Kemendag memantau harga referensi biji kakao pada Oktober 2016. Rinciannya, harga tersebut mengalami penurunan senilai USD 67,18 atau setara 2,26 persen dari USD 2.976,78 per MT pada September 2016 menjadi USD 2.909,6 per MT.

Dengan penurunan tersebut, penetapan HPE biji kakao ikut turun sebesar USD 66 atau 2,46 persen dari USD 2.678 per MT per September 2016 menjadi USD 2.612 per MT di bulan berikutnya. (mon/lhl/k15)

Sumber: prokal.co

433 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *