Belajar Sawit dari Malaysia

Pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya tanaman perkebunan tidak hanya dilakukan di Indonesia. Pemerintah Malaysia sangat mendukung pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya tanaman kelapa sawit di wilayah Serawak. Pemanfaatan tersebut diklaim telah memberikan manfaat ekonomi dan tidak merusak ekologi karena memanfaatkan tata kelola yang baik.

Dengan pengelolaan yang mumpuni, pemanfaatan lahan gambut dapat meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit mencapai 38 ribu ton per hektare (ha) per tahun. Director of Tropical Peat Research Laboratory Unit (TPRL) Malaysia Lulie Melling mengatakan, Indonesia harus mengoptimalkan keberadaan lahan gambut untuk membantu meningkatkan produktivitas komoditas yang ditanam di atas lahan tersebut. Untuk dapat mewujudkan hal ini memang tidak mudah dan dibutuhkan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat agar mengerti pengelolaan serta pemanfaatan lahan gambut dengan benar.

“Perlu komunikasi yang benar, sebab publik sering kali tidak bisa membandingkan antara gambut yang terkelola dengan baik dan gambut yang tidak terkelola,” ujar Melling. Melling menjelaskan, di Malaysia la han gambut bisa dikelola dengan baik, sehingga sulit terbakar. Berdasa r kan pemantauan TPRL, di Sarawak terdapat 1,2 juta ha lahan gambut atau sekitar 13 persen dari luas daratan.

Menurut Melling, Sarawak merupakan kawasan gambut terbesar di Malaysia dan dapat terhindar dari kebakaran karena mempunyai tek nologi pemadatan serta tata kelola air yang baik. Selain itu, ada kesadaran bersama mengenai pentingnya me nerapkan teknologi tata kelola air mu lai dari petani kecil hingga korporasi. Kesadaran ini seharusnya dikomu nikasikan oleh akademisi, pemerintah, dan para pemangku kepentingan.

Tanpa dukungan penelitian gambut maka akan selalu terjadi fitnah terhadap korporasi yang memanfaatkan media gambut untuk ke per luan produksi, baik itu sawit maupun komoditas lain. Saat ini, menurut Melling, penelitian mengenai tanah gambut memang masih kurang, sehingga belum banyak yang mema hami. “Kita tidak boleh buat imajinasi, tetapi diverifikasi di lahan gambut. Tanah gambut itu kekayaan Indonesia dan Malaysia karena tanah ini sumber penting untuk menentukan kekayaan sebuah negara,” kata Melling.

Melling mengatakan, lahan gambut bisa diubah menjadi lahan pertanian untuk ditanami kelapa sawit dan memberikan pendapatan kepada negara. Sebab, devisa yang didapatkan dari kelapa sawit sangat besar. Dia mencontohkan, Malaysia bisa terselamatkan krisis ekonomi tiga kali berkat sawit.

Di Serawak, jumlah areal perkebunan sawit naik dua kali lipat. Sementara, dari segi ekonomi di Sarawak, pendapatan secara langsung sawit di lahan gambut mencapai 400 juta ringgit sampai 500 juta ringgit per tahun. Melling menjelaskan, Pemerintah Malaysia sempat menyerukan rencana untuk moratorium penanaman kelapa sawit di atas lahan gambut di Sarawak.

Pada waktu itu, semua pemangku kepentingan mulai dari korporasi, akademisi, dan peneliti beramai-ramai menyerukan penolakan. “Saat itu, kami berusaha menjelaskan kepada pemerintah Malaysia bahwa komoditas kelapa sawit penting bagi negara dan memberikan kontribusi besar untuk pemasukan devisa,” ujarnya. “Setelah debat panjang, akhirnya Pemerintah Malaysia tidak jadi melakukan moratorium,” ujar Melling.    rep: Rizky Jaramaya, ed: Muhammad Iqbal

Sumber: Republika.co.id

467 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *