Benih Sawit Terkerek Harga

JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang menolak di awal tahun ini bukan hanya menjadi berkah bagi petani dan produsen CPO. Produsen benih kelapa sawit ikut menikmati. Berdasarkan harga patokan ekspor (HPE) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan (Kemdag) pada bulan Februari 2017, harga CPO ditetapkan sebesar US$ 815,52 per ton nalk 3,46% dari harga CPO bulan Januari sebesar US$ 788,26 per ton.

Harga CPO yang tinggi ini mendorong minat petani dan perusahaan sawit meningkat produksi dari kebun mereka dengan kembali menanam. Untuk itu, permintaan benih kelapa sawit diprediksi bakal meningkat. Managing Director Asian Agri Kelvin Tio mengatakan, tahun ini, secara umum proyeksi penjualan benih sawit akan lebih baik dibandingkan tahun 2016 lalu.

Secara nasional, produksi benih sawit tahun lalu turun drastis di kisaran 76 juta butir kecambah secara nasional. Padahal pada tahun 2015, total penjualan benih sawit secara nasional sempat mencapai 94 juta butir kecambah. Penurunan permintaan benih sawit tahun lalu disebabkan banyaknya perusahaan yang tidak membuka lahan karena beberapa faktor.

Salah satunya faktor harga CPO yang sedang rendah. Meski menyebut ada peningkatan, tapi Kelvin mengatakan, permintaan benih kelapa sawit tahun ini tidak meningkat signifikan dibanding lahun lalu. Pasalnya. hampir semua perusahaan masih menggunakan strategi wait and see dalam memandang kenaikan harga CPO.

Selain itu, sebagian besar perusahaan juga menghadapi aturan moratorium izin pembukaan lahan baru serta prediksi kondisi cuaca tahun ini, Makanya, tahun ini, Kelvin mengatakan, kenaikan penjualan benih kemungkinan hanya akan naik 10%. “Kenaikan harga CPO bakal meningkatkan penjualan benih. Tapi, itu bukan faktor tunggal yang mendorong perusahaan membeli benih kelapa sawit,” ujarnya, Kamis (9/2).

Asian Agri lewat anak usahanya PT Tunggal Yunus Estate memprediksi penjualan benih kelapa sawit pada tahun ini mencapai 15 juta butir kecambah. Proyeksi ini naik 25% dibandingkan penjualan tahun 2016 yang diperkirakan mencapai 12 juta butir kecambah. Hanya dari sisi kapasitas produksi, Tunggal Yunus Estate sejatinya bisa memproduksi 25 juta butir kecambah dalam setahun.

Kelvin mengatakan, dari umlah kecambah yang akan dijual tahun ini, sekitar 15% di anta-ranya dialokasikan untuk kebun kelapa sawit internal milik Asian Agri.

Harus jangka panjang

Hanya saja optimisme Asian Agri soal peningkatan penjualan benih kelapa sawit belum tampak di PT Sampoerna Agro Tbk.

Head of Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk Michael Kesuma menyatakan bahwa peningkatan harga CPO belakangan ini memang berpengaruh pada tingkat keuntungan industri CPO. Namun, kondisi itu tak selalu berbanding lurus dengan peningkatan permintaan benih kelapa sawit.

“Peningkatan permintaan mungkin saja terjadi, tapi kami realistis bahwa menanam sawit tidak bisa langsung memetik hasil di tahun yang sama karena butuh tiga tahun sampai empat tahun. Sedangkan kenaikan harga CPO belum tentu dalam jangka panjang,” terang Michael.

Namun, Michael enggan menyebut target penjualan PT Bina Sawit Makmur, anak usaha Sampoerna Agro di bidang produksi benih kelapa sawit. Pada tahun 2016 lalu, Bina Sawit Makmur menargetkan penjualan 12 juta butir kecambah. Padahal, perusahaan ini bisa menghasilkan 20 juta butir kecambah per tahun.

Sumber : Kontan

2,716 total views, 10 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *