Biosolar Ramah Lingkungan, Ramah Kantong Juga?

Indonesia sejak tahun lalu menerapkan program mandatori pemakaian biodiesel sebesar 20% (B-20) pada kendaraan bermotor pada 2016. Di tengah ancang-ancang untuk meningkat ke tahap B-30, sejumlah keluhan konsumen justru menyeruak.

Kebijakan pemanfaatan biodiesel ini dilakukan secara bertahap. Sejak 1 September 2013, pemanfaatan biodiesel ditingkatkan menjadi 10% (B10). Kemudian mulai 1 April 2015, biodiesel untuk campuran bahan bakar minyak jenis solar ini ditingkatkan menjadi 15% (B15).

Kebijakan diversifikasi energi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 32 Tahun 2008 dan telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015 yang mewajibkan pemakaian biodiesel 20% pada kendaraan bermotor pada 2016.

Implementasi program mandatori B-20 pada tahun lalu ditarget menyerap biodiesel 6,93 juta kiloliter (KL) atau setara dengan target pengurangan impor BBM jika mandatori ini sudah berjalan fungsional. Sesuai ketentuan pemerintah, dengan program B-20 berarti dalam setiap 1 liter solar akan memiliki 20% biodiesel dan 80% solar murni. Campuran ini lah yang disebut dengan biosolar.

Saat ini ada 19 produsen biodiesel yang terikat kontrak dengan PT Pertamina Tbk dan PT AKR Corporindo Tbk. melalui kerangka dukungan insentif pembiayaan dana sawit. Sementara itu, konsumen bahan bakar ini cukup luas, mulai dari pabrikan, pertambangan, hingga pemilik kendaraan bermotor.

Di tengah ancang-ancang untuk memasuki tahap mandatori B-30, belakangan muncul keluhan dari para pengguna.

Sebagai contoh, PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) menerima laporan bahwa penggunaan biosolar membuat filter kendaraan cepat kotor. Dibandingkan dengan solar, bahan bakar ini menghasilkan endapan kotoran lebih banyak.

“Kalau dianalogikan, pakai solar biasa filter dibersihkan sebulan sekali. Pakai biosolar bisa sebulan dua kali,” kata Direktur Pemasaran dan Penjualan HMSI Santiko Wardoyo kepada Bisnis, Senin (24/7).

Santiko menjelaskan hal ini berpengaruh terhadap tenaga yang dihasilkan. Pasalnya, filter kendaraan yang kotor menyumbat aliran bensin ke mesin. Hal ini sudah menjadi kendala bagi kendaraan niaga mesin diesel sejak beberapa tahun lalu. Namun, hingga artikel ini ini diturunkan, HMSI menyatakan bahwa belum ada laporan dari konsumen hal tersebut menyebabkan kerusakan parah pada mesin.

“Paling kalau kotor tenaganya saja kurang. Kalau sudah dibersihkan, balik lagi,” kata Santiko.

Menurut dia, kendaraan Hino yang sudah menggunakan mesin common railseharusnya tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang. Mesin ini memang dikenal sangat sensitif terhadap asupan bahan bakar.

Namun common rail telah dibekali dengan tiga saringan, sehingga solar yang mengalir ke mesin lebih bersih.

Selanjutnya Santiko berharap penerapan euro 5 untuk mesin diesel truk akan berhasil memberikan kualitas bahan bakar bersih. Pasalnya, percuma apabila kendaraan yang sudah disesuaikan dengan ketentuan euro 5, tetapi spesifikasi bahan bakar tidak memenuhi.

Contoh lain adalah PT Kereta Api Indonesia yang bahkan sudah tidak lagi menggunakan biosolar sebagai bahan bakar lokomotif yang ada di Indonesia selama 6 bulan karena bahan bakar tersebut dapat menyebabkan biaya perawatan tambahan bagi perusahaan.

VP Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Agus Komarudin mengatakan pihaknya tidak menggunakan biosolar sebagai bahan bakar lokomotif sejak Mei—Oktober 2017 karena ada kebijakan dari Kementerian ESDM.

“1 Mei sampai Oktober 2017 menggunakan solar murni,” kata Agus, Jakarta, Senin (24/7).

Dia menjelaskan penggunaan biosolar sebagai bahan bakar lokomotif kereta api di dalam negeri dinilai membuat adanya biaya perawatan tambahan. Biaya tambahan tersebut kemungkinan terjadi karena salah satunya penggantian filter bahan bakar yang lebih cepat dari seharusnya.

Manajemen PT KAI mengkhawatirkan biosolar menimbulkan terdapat endapan di timbunan bahan bakar yang terdapat di depo-depo perusahaan. Kondisi tersebut, paparnya membuat ada perlakuan teknis secara khusus di lapangan agar tidak terjadi endapan dalam timbunan bahan bakar yang dimiliki perusahaan di depo-depo.

Berbeda dengan biosolar, menurut dia, penggunaan solar murni tidak memerlukan perlakuan teknis khusus tersebut guna mengatasi endapan-endapan yang mungkin terjadi.

Selain soal endapan, Agus menuturkan di beberapa tempat penimbunan bahan bakar di depo KAI juga mengalami penyerapan tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan timbunan bahan bakar cepat habis dalam beberapa hari karena penggunaannya cukup tinggi.

Penggunaan solar murni selama 6 bulan tersebut, paparnya, akan dievaluasi oleh Kementerian ESDM untuk memutuskan langkah selanjutnya yakni tetap menggunakan solar murni atau kembali menggunakan biosolar. Penggunaan bahan bakar solar murni selama 6 bulan, ungkapnya, sebenarnya ditujukan kepada industri secara keseluruhan, tidak hanya KAI.

Tanpa menyebutkan dengan pasti, Agus melanjutkan biaya penggunaan bahan bakar solar murni dengan biosolar pada lokomotif hampir sama.

SESUAI SPEK

Suara berbeda datang dari Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito yang memastikan biodiesel yang kini beredar telah sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

Biosolar didukung dengan sistem pembakaran yang baik dengan cetane number di atas 50. Semakin tinggi angka cetane maka akan lebih baik, seperti angka oktan di premium yang jika lebih tinggi lebih baik.

Jika solar umumnya memiliki nilai cetane 48—51 maka biosolar memiliki angka cetanesekitar 60. “Pastinya sudah melalui uji coba. Kami sudah mengikuti ketentuan B20, sudah sesuai spek dari pemerintah,” katanya.

Menurutnya, apabila terdapat kerusakan mesin akibat penggunaan biodiesel, kemungkinan besar bersifat kasus yang spesifik. “Tolong didetailkan. Barangkali sifatnya kasuastik.”

Cerita biodiesel yang menyebabkan performa mesin kurang optimal juga sudah sampai ke telinga Menteri ESDM, Ignasius Jonan. Untuk menindaklanjuti keluhan dari beberapa pengguna biosolar, Kementerian ESDM akan membahas hal itu antarkementerian.

”Intinya, kalo memang kebijakan B-20, sawit 20% dan solar 80% justru menimbulkan inefisensi berupa biasa perawatan mesih yang jauh tinggi,  harus dilakukan perubahan,” ujar Jonan kepada Bisnis di sela-sela lawatan ke Houston, Amerika Serikat.

Dalam pandangan Menteri ESDM, semangat untuk mengembangkan sumber energi alternatif juga tetap mempertimbangkan kualitas bahan bakar. Bahkan, menurutnya, diperlukan kajian lebih mendalam tentang kebijakan B-20, termasuk menghitung kebijakan cost-benefit-nya.

Saat ini, menurut petinggi perusahaan AS yang memasok lokomotif ke PT KAI, General Electric di Houston, sedang ada kajian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menguji apakah benar penggunaan biosolar memberikan berpengaruh terhadap kinerja dan ketahanan mesin menyusul insiden lokomotif terbakar.

Kajian tersebut menjadi penting agar ada pembuktian bahwa biosolar ramah lingkungan tetapi juga ramah untuk urusan ‘kantong’. (Hery Trianto)

Sumber : Bisnis Indonesia

3,590 total views, 6 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *