Bisnis Sawit Bangkit, Harga TBS Naik, Bea Ekspor Turun

SAMARINDA –  Memasuki Juni ini, harga tandan buah segar (TBS) sawit lagi-lagi mengalami kenaikan. Perbaikan nilai jual tersebut terjadi tiap pergantian bulan sejak memasuki 2016. Ditambah lagi, harga bea ekspor crude palm oil (CPO) telah diturunkan pemerintah pusat. Hal ini merangsang gairah bisnis bagi pengusaha maupun kalangan petani sawit di Kaltim.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Etnawati mengatakan, periode Juni ini menjadi bulan harapan bagi petani pekebun kelapa sawit Kaltim. Karena, pada semester pertama ini, dari awal tahun hingga bulan ini, harga TBS sawit konsisten terus menanjak naik.

“Periode Juni harga TBS mengalami kenaikan rata-rata Rp 106 per kilogram. Kenaikan harga ini dipengaruhi  harga CPO (crude palm oil) dunia yang juga membaik,” ungkap Kepala Seksi Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perkebunan, Subaki, yang mendampingi Etnawati, Selasa (31/5).

Dia menyebutkan, pada periode Mei harga tanaman umur sepuluh tahun ke atas mencapai Rp 1.584,39, lalu pada Juni ini naik menjadi Rp 1.690,03. Berdasarkan hasil rapat tim penetapan harga TBS sawit, mulai dari umur tiga tahun sebesar Rp 1.481,77 dan umur empat tahun Rp 1.512,04, hingga umur sepuluh tahun sampai dua puluh lima tahun sebesar Rp 1.690,03.

Sementara itu, harga CPO tertimbang dikenakan Rp 7.940,05 per kg. Harga kernel alias inti sawit rata-rata tertimbang yang sama sebesar Rp 6.132,65 dengan Indeks K sebesar 82,89 persen.

Sementara itu diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi produk CPO untuk penetapan bea keluar periode Juni 2016 sebesar USD 751,55 per metrik ton (MT). Harga CPO tersebut turun sebesar USD 2,55 atau 0,34 persen dari periode Mei 2016 yang sebesar USD 754,10 per MT.

Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 38/M-DAG/PER/5/2016 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

Terkait hal tersebut, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Zulkarnain mengatakan, sawit selalu menyimpan potensi besar untuk basis ekonomi provinsi ini. Bila sawit dikelola dengan maksimal, sudah tentu sumber daya alam (SDA) Kaltim kembali menjadi pendongkrak perekonomian. Hanya perlu, pemanfaatan sawit secara berkesinambungan dalam hal transformasi ekonomi berbasis SDA terbarukan.

Bahkan, dia menyebut, visi Kaltim harus dirombak lagi agar bisa melakukan transformasi ekonomi. Adapun harga TBS yang naik dan nilai bea ekspor yang diturunkan, bakal semakin memicu gairah bisnis sawit ke depannya. (mon/lhl/k15)

Sumber:  prokal.co

1,089 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *