BRG Didanai Asing

Amerika Serikat tampak all out mendukung program restorasi gambut di Indonesia. Pekan depan Nazir Foead, Ketua BRG (Badan Restorasi Gambut), akan berkunjung ke New York untuk menandatangani komitmen pendanaan dari sejumlah donor dan investor di sana. Pengucuran dana tersebut untuk program yang muara akhirnya adalah penghentian budidaya hutan tanaman industri dan kelapa sawit di lahan gambut tersebut.

Informasi tersebut didapat dari nasionalisme.co yang menyebutkan,” ada rencana kunjungan BRG ke Amerika Serikat. Kunjungan tersebut akan berlangsung pada Rabu 21 September 2016. Acara akan berlangsung mulai jam 9 pagi sampai jam 1 siang waktu setempat di 3 East 54th Street, New York City, Amerika Serikat.

Dalam surat undangan yang ditandatangani oleh Dr Myrna Safitri, Deputi BRG bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan, kegiatan di New York itu dikemas dalam pertemuan yang bertajuk “Kontribusi Investasi Global untuk Restorasi Gambut”. Tidak disebutkan siapa investor yang siap mengucurkan dana ke BRG, hanya dituliskan BRG akan bertemu dengan “donor dan investor potensial yang mendukung restorasi gambut berbasis masyarakat dan kelestarian lingkungan”.

Dalam suratnya, Dr Myrna Safitri menuliskan, restorasi gambut membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk dari negara maju. Hal ini yang disesalkan oleh sejumlah pengamat ekonomi lingkungan, mengapa untuk program pemberdayaan lingkungan di Indonesia, pemerintah harus mencari sponsor dana dari luar negeri. Ini akan memperkuat dugaan bahwa lahirnya lembaga seperti BRG tak lepas dari intervensi asing seperti Amerika dan Eropa.

Pengamat ekonomi lingkungan IPB Dr Ricky Avenzora mengaku kaget ketika mendengar kabar BRG akan menjemput dana restorasi dari donor di Amerika Serikat. “Saya baru dengar ini. Yang juga saya dengar, kabarnya mereka ingin menggantikan tanaman kelapa sawit dengan tanaman lain seperti nanas untuk budidaya di lahan gambut,” kata Ricky.

Ricky sendiri dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa ada upaya sistematis dari negara maju untuk mematikan sektor strategis di Indonesia, seperti kelapa sawit. Dan sayangnya, banyak pejabat pemerintah yang tidak sadar bahwa posisinya dimanfaatkan oleh negara maju melalui kaki tangan LSM, untuk mematikan sektor-sektor strategis yang sebetulnya menjadi masa depan ekonomi Indonesia. YIN

414 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *