CPO dan Karet Menguat Bulan ini

JAKARTA – Harga komoditas minyak kelapa sawit dan karet diperkirakan bakal terus meningkat pada bulan ini seiring dengan menguatnya faktor dan fundamental. Harga CPO berpeluang mencapai 2.900 ringgit perton, sedangkat karet menuju 200,5 yen per kg pada akhir November.

Pada penutupan perdagangan Senin (7/11) harga karet kontrak April 2017 di Tokyo Commodity Exchange meningkat 1,44% alan 2,7 poin menuju 189,8 yen (US$1,81) per kilogram.

Sementara di bursa Malaysia, harga CPO kontrak Januari 2017 menguat 54 poin atau 1,94% menjadi 2.843 ringgit (US$675,47) per ton. Ini menunjukkan harga sudah menanjak 11,27% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) dan level tertinggi baru pada 2016.

lbrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, mengatakan ada sejumlah faktor yang menguatkan harga karet. Dari sisi fundamental, produksi sedang mengalami hambatan akibat jumlah curah hujan yang tinggi di wilayah Asia Tenggara. Puncak musim hujan diperkirakan bakal terjadi pada Desember 2016-Januari 2017.

Rubber Authority of Thaiiand menyatakan hujan yang membasahi sekitar 60% wilayah selatan telah menghambat produksi karet. Sentimen ini mendukung harga untuk naik. Dari sisi permintaan, perekonomian China, India, AS, dan negara-negara Eropa menunjukkan perbaikan yang mengindikasikan tumbuhnya konsumsi. Bahan baku karet terutama digunakan dalam industri otomotif untuk ban. Berdasarkan data China Passenger Car Association, penjualan mobil berpenumpang naik selama delapan bulan berturut-turut. Per Oktober, penjualan meningkat 20% secara bulanan (month on month/mom) menjadi 2,22 juta unit.

Selain itu, sambung Ibrahim, harga karet terdongkrak oleh pelemahan yen sebagai aset haven. Sebelumnya mata uang Negeri Sakura meningkat menjelang pemilihan umum Presiden Amerika Serikat pada Selasa (8/11).

Namun, beberapa hari ini, menguatnya elektabilitas Clinton membuat pasar berpaling dari yen. Alhasil komoditas yang menggunakan yen menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain. Sebagai komoditas turunan dari minyak mentah, harga karet dan komoditas perkebunan lainnya juga ikut terpengaruh. Dengan ekspektasi harga minyak mentah melonjak pada rapat OPEC 30 November 2015, maka harga karet turut membumbung.

“Saat itu [akhir November], harga karet bisa mencapai 200,5 yen per kilogram. Estimasinya bila rapat OPEC itu berhasil,” ujar Ibrahim saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/11).

Adanya kesepakatan antara International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni kelompok negara penghasil karet yang terdiri dari pemerintah Thailand, Malaysia, dan Indonesia memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mulai Maret-Desember 2016 juga memberikan dampak positif terhadap harga. Di bawah perjanjian AETS, tiga negara yang memasok 60% kebutuhan karet global akan memotong total ekspornya sebanyak 615.000 ton. Rinciannya adalah, Thailand sekitar 324.005 ton, Indonesia sebesar 238.736 ton, dan Malaysia sejumlah 52.259 ton. Dengan langkah tersebut, ITRC berharap harga komoditas karet menuju normal, sekitar US$2-US$3 per kg.

JP Morgan dalam publikasi risetnya memaparkan, harga karet cenderung menurun dan stagnan hingga dua tahun ke depan karena melemahnya permintaan meski sisi suplai mulai stabil. Harga karet sampai akhir 2016 diperkirakan senilai 145,3 yen per kg, turun 7,16% dan tahun sebelumnya sejumlah 155,7 per kg.

Adapun harga pada 2017 dan 2018 stagnan di posisi 155 yen per kg. Kebangkitan harga karet cenderung tertahan oleh penguatan mata uang yen. Morgan memprediksi mata uang Negeri Sakura senilai 118,5 yen per dolar AS pada 2016, serta 110 yen per dolar AS pada 2017 dan 2018. Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu ialah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794.000 ton, dan Malaysia 722.000 ton.

Harga karet RSS3 pada tahun ini diprediksi senilai US$1,5 per kg, turun 4,45% dari 2015 sebesar US$1,57 per kg. Meskipun demikian, tren harga diperkirakan meningkat hingga menuju US$1,81 per kg sampai 2020. Sementara itu, lanjut lbrahim, harga CPO masih berpeluang menguat seiring dengan naiknya permintaan dari negara-negara importir seperti AS, China, India, dan Eropa. Sentimen tersebut mengungguli penurunan penyerapan dari negara-negara di Timur Tengah dan Afrika.

Pada Oktober-November meningkat kembali seiring dengan naihnya permintaan, terutama dari AS yang sedang mengalami musim dingin sampai dengan Maret 2017. Pertumbuhan ekonomi China dan India pun mengalami pemulihan. Dari negara produsen utama, yakni Indonesia dan Malaysia, penyerapan CPO akan digenjot untuk program penggunaan bahan bakar biodiesel.

Dalam jangka panjang harga CPO mendapat tantangan baru, yakni tumbuhnya sentral produksi baru di Afrika dan Amerika Latin. Kedua wilayah ini diperkirakan mulai melakukan panen pada tahun depan. Meskipun demikian, lanjut Ibrahim, sentimen pasokan baru itu akan tertanggulangi oleh penyerapan tingginya penyerapan di Indonesia dan Malaysia.

Presiden Jokowi mencanangkan Indonesia menyerap 60% pasokan dalam negeri untuk biodiesel. Harga masih berpotensi mencapai level 2.900 rhggit per ton atau level tertinggi baru sepanjang 2016 pada November seiring dengan membaiknya faktor fundamental.

Chandran Sinnasamy, head of dealing LT International Futures, mengatakan harga CPO berhasil mencapai level tertinggi baru sepanjang 2016 akibat berkurangnya suplai. Diprediksi produksi di Malaysia medio Oktober kembali turun.

Menurut Malaysia Palm Oil Association, produksi CPO bulan lalu turun 3,7% (mom) menuju 1,65 juta ton. Hal tersebut terutama dipicu merosotnya keluaran di wilayah Semenanjung Malaysia yang merosot 5,8% (mom).

Pandangan berbeda disampaikan survei Bloomberg yang menyatakan produksi CPO Oktober justru akan meningkat 0,6% menjadi 1,73 juta ton. Adapun data resmi dari Malaysian Palm Oii Board (MPOB) akan dirilis pada Kamis (10/11).

“Pasar juga menunggu data kinerja ekspor, di samping sentimen besar seperti Pemilu AS dan hasil laporan World Agricultural Supply and Demand Estimates Report (WASDE) dari United States Department of Agriculture (USDA),” ujar Chandran.

Pandangan berbeda disampaikan Andy Wibowo Gunawan, Senior Analyst Daewoo Securities Indonesia, yang mengatakan harga CPO cenderung stagnan dalam jangka panjang. Namun demikian, sampai tahun depan harga masih berpeluang menguat seiring dengan terganggunya produksi akibat La Nina.

Tekanan terhadap harga terutama berasal dan melemahnya konsumsi. Komoditas yang lebih dari 50%-nya dipakai untuk bahan baku minyak goreng ini mengalami permintaan yang cenderung menurun. Pasalnya, tren gaya hidup yang lebih sehat membuat pasar cenderung beralih kepada minyak nabati lain.

Di sisi lain, permintaan untuk biodiesel tidak bisa meningkat begitu saja. Konsumen masih memilih menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar karena harganya yang jauh lebih terjangkau. “Ketika harga minyak mentah sampai US$120 per barel, baru penggunaan biodiesel bisa signifikan. Harapan biodiesel masih bergantung kepada sentimen rninyak rnentah,” tuturnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

999 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *