Dirjen Kementan: Moratorium Sawit Harus Dibarengi Peremajaan Tanaman

Jakarta – Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir menyatakan, kebijakan moratorium atau penghentian izin perluasan lahan perkebunan sawit harus dibarengi program peremajaan tanaman sawit untuk menjaga produksi nasional.

Di sela seminar bertema “Kiat Sukses Replanting Sawit” di Jakarta, Selasa, dia mengatakan, saat ini produktivitas perkebunan sawit nasional masih rendah terutama yang dimiliki petani, salah satunya akibat tanaman yang sudah berumur tua, sehingga produktivitasnya menurun.

“Moratorium merupakan keputusan Presiden yang harus dipatuhi. Saya setuju moratorium dengan syarat harus lebih berkeadilan bagi petani. Sambil moratorium semua kebun petani yang produktivitasnya rendah harus di-‘replanting’ seluruhnya. Jangan sampai ada yang ketinggalan,” katanya.

Gamal membantah kekhawatiran banyak kalangan bahwa moratorium perkebunan sawit akan menurunkan produktivitas. Menurut dia produktivitas tanaman saat ini memang masih rendah namun bisa ditingkatkan dengan peremajaan dan Indonesia bisa menjadi produsen sawit nomor satu di dunia.

“Tidak ada yang lahan sawitnya lebih besar dari Indonesia, sehingga (Indonesia) bisa menjadi produsen utaman dunia.Sekarang lebih baik fokus pada peningkatan produktivitas. Namun perlu juga diwaspadai Pantai Gading dan Ghana yang mulai mengalihkan perkebunan coklatnya ke sawit,” katanya.

Terkait kendala program peremajaan tanaman sawit, menurut dia, yakni pendanaan yang tidak mencukupi dari pemerintah sehingga ke depan bisa memanfaatkan dana-dana dari Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) Sawit.

Gamal menilai peruntukan dana dari BPDP Sawit bagi pengembangan perkebunan sawit masih rendah dibandingkan untuk subsidi biofuel yang mencapai 90 persen sedangkan untuk petani hanya tujuh persen.

“Seharusnya dana untuk petani kelapa sawit jauh lebih besar. Sehingga kelapa sawit lebih berkeadilan,” katanya.

Menurut dia, luas lahan yang dimiliki pengusaha sudah cukup besar karena selama ini terus ekspansi, sementara milik BUMN justru memprihatinkan karena sampai sekarang masih stagnan produksinya. Sedangkan kebun kelapa sawit rakyat harus ditingkatkan produktivitasnya.

Kondisi petani kelapa sawit, lanjutnya, kalau dibandingkan dengan petani kelapa sawit Malaysia yang bergabung dalam Felda masih jauh sehingga harus diperjuangkan lagi.

Editor: Heppy Ratna

Sumber: Antaranews.com

414 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *