Distanbun Perjuangkan Harga Cangkang Sawit

TANA PASER. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Paser sedang memperjuangkan harga limbah cangkang sawit yang dapat dijadikan bahan pertimbangan harga Tandan Buah Sawit (TBS).
Kepala Distanbun Paser Abdul Rasyid melalui Bahriansyah selaku Kabid Pembinaan Usaha Perkebunan Distanbun Paser mengatakan, saat ini 58 persen limbah cangkang sawit digunakan perusahaan sebagai penggerak mesin boiler. “Yang menjadi perjuangan kita sekarang, pabrik-pabrik sawit ini menjual libah cangkang sawit, dan banyak petani protes karena seharusnya itu adalah hak mereka,” ucap Bahriansyah.
Sedangkan petani protes karena cangkang sawit tersebut dapat dimasukkan ke dalam komponen pertimbangan harga TBS,” ucap Bahriansyah, Jumat (24/6).
Dijelaskan Bahriansyah, saat ini yang menjadi pertimbangan harga TBS diantaranya ongkos angkut sawit dan harga CPO itu sendiri. “Yang membuat mahal itu adalah ongkos kirimnya. Jadi hasil dari pertimbangan komponen tersebut disatukan datanya dari setiap kabupaten, kemudian provinsi menetapkan rata-ratanya harga TBS,” jelasnya.
Di samping itu, jika harga cangkang sawit telah ditetapkan oleh provinsi, otomatis petani akan diuntungkan karena dapat menjadi nilai tambah bagi mereka mengingat cangkang sawit dahulunya hanya menjadi bahan material menguruk jalanan. “Kalau nilai jual CPO kan sudah ada ketetapannya, sedangkan untuk cangkang ini belum ada. Jadi jika sudah ada ketetapan provinsi petani sawit bisa meraup keuntungan,” ungkap Bahriansyah.
Karena dikatakan Bahriansyah, selama ini yang meraup keuntungan dari penjualan limbah cangkang sawit adalah pabrik-pabrik atau perusahaan sawit. “Umpamanya dari 100 kg itu 48 persennya mereka gunakan sebagai bahan bakar penggerak mesin boiler, kemudian sisanya itu mereka jual ke pihak lainnya,” ujarnya. (nik/sal)

Sumber: prokal.co

491 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *