Empat Negara Siap Masuk Kartel Sawit

JAKARTA – Sebanyak empat negara berencana masuk Lembaga Persatuan Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Mereka adalah Brasil, Nigeria, Pantai Gading, dan Thailand. CPOCP dibentuk Indonesia dan Malaysia, selaku produsen CPO terbesar dunia, untuk mengendalikan harga CPO global. Lewat dewan ini, daya saing dan harga CPO Indonesia-Malaysia di pasar internasional akan lebih baik, sehingga nasib dan kesejahteraan petani akan meningkat.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menuturkan, empat negara itu merupakan penghasil CPO. “Dengan masuknya negara-negara tersebut, diharapkan berdampak positif bagi harga dan perkembangan industri CPO di dunia,” kata dia di Jakarta, Senin (12/5). Panggah menambahkan, CPOCP juga sepakat membangun Zona Ekonomi Hijau untuk Pengembangan Minyak Kelapa Sawit atau Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ).

Indonesia dan Malaysia telah mengusulkan masing-masing tiga lokasi. Pihak Indonesia menginginkan POGEZ dibangun di Kawasan Industri Dumai, Riau, Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur dan Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara. Adapun pihak Malaysia akan membangun fasilitas serupa di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis.

Panggah menilai, Kawasan Industri Berau siap menjadi POGEZ, karena didukung oleh ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Kawasan industri yang berdiri di atas lahan seluas 3.400 hektar (ha) ini telah memiliki pelabuhan, ketersediaan air, listrik, serta industri pulp dan kertas yang sudah beroperasi.

“Diharapkan, produk industri hilir yang dihasilkan dari kawasan tersebut dapat memenuhi standar keberlanjutan (sustainability) yang bersertifikat internasional, sehingga menciptakan keuntungan berupa preferensi area pemasaran, premium selling price, hingga fasilitas atau kemudahan tertentu lainnya,” paparnya. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pada 2015, produksi crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) Indonesia mencapai 35,5 juta ton. Dari jumlah itu, penjualan domestik mencapai 8,09 juta ton, ekspor produk hilir 15,15 juta ton, dan ekspor CPO 12,26 juta ton.

Adapun nilai ekspor mencapai US$ 24,77 juta, dengan ragam produk hilir sebanyak 146 jenis. Di sisi lain Unilever akan menambah investasi sebesar Rp 2 triliun per tahun untuk mengintegrasikan bisnis oleokimia di Kawasan Ekonomi khusus Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Unilever melalui anak usahanya, PT Unilever Oleochemical Indonesia, sebelumnya telah mengoperasikan pabrik oleokimia di Kawasan Induski Sei Mangkei yang berkapasitas 165 ribu metrik ton per tahun dengan investasi Rp 2 triliun. “Unilever melaporkan akan menambah investasi Rp 2 triliun setiap tahunnya untuk membuat pabrik yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan begitu, mereka dapat menggeser semua pabriknya ke Sei Mangke supaya lebih efisien dan memiliki nilai tambah,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (Ikta) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, Kamis (2/12).

Sigit menambahkan, Unilever juga berencana membangun pabrik surfaktan pada tahun depan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk hilirisasi dari bisnis oleokimia perusahaan. Pabrik itu, menurut Sigit, akan dibangun di Sei Mangkei agar dapat terintegrasi dengan hulunya. Selanjutnya, produk yang dihasilkan dari pabrik ini akan dikirim dan diolah ke pabrik milik Unilever yang ada di pulau Jawa. (ajg)

Sumber : Investor Daily

556 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *