Eropa Dinilai Langgar Ketentuan

JAKARTA – Uni Eropa disebut melanggar ketentuan Antidumping Agreement WTO karena keliru dalam melakukan perhitungan bagi produsen biodiesel Indonesia.

Saat ini, Indonesia masih menunggu hasil putusan Dispute Settlement Body WorId Trade Organization (WTO) terkait sengketa pengenaan bea masuk antidumping untuk komoditas biodiesel dari Tanah Air.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati menjelaskan pihaknya telah melakukan pembelaan dalam sidang yang digelar oleh WTO terkait pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) untuk produk biodiesel Indonesia di Uni Eropa.

“UE telah melanggar ketentuan Antidumping Agreement [ADA] WTO karena telah keliru dalam melakukan penghitungan profit cap [batas atas] bagi produsen biodiesel Indonesia. Selain itu, Indonesia juga telah memberikan argumen terkait penentuan harga ekspor,” paparnya kepada Bisnis, akhir pekan kemarin.

Pradnyawati memaparkan Uni Eropa juga keliru dalam penentuan injury. Benua biru dinilai tidak membandingkan produk biodiesel Indonesia dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh produsen biodiesel Uni Eropa.

“Gugatan tersebut telah disampaikan pada sidang pertama dan dipertahankan pada sidang kedua,” ujarnya.

Seperti diketahui, akhir pekan kemarin Uni Eropa menunda pemungutan suara terhadap pengenaan BMAD untuk impor biodiesel dari Argentina dan Indonesia. Meski Komisi Eropa telah mengusulkan adanya penurunan tarif masuk, para perwakilan negara Eropa memutuskan kembali menunda pemungutan suara.

Uni Eropa,menetepkan BMAD pada November 2013 sebesar 20,5% untuk produk biodiesel asal Indonesia. Sementara itu, Argentina dikenakan bea masuk sebesar 25,7% dan berlaku selama lima tahun. Pasca penundaan pemungutan suara, rencananya pertemuan baru akan dilakukan kembali pada 7 September 2017.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menyatakan pihaknya telah melakukan kerja sama dengan swasta baik untuk isu-isu bersifat hambatan tarif dan isu hambatan nontarif dari Eropa. Pasalnya, komoditas itu menurutnya sangat strategis bagi Indonesia.

“Kita akan tangani secara komprehensif. Memang saat ini hambatan juga cukup banyak tidak hanya dari tarif tetapi juga pembangunan opini publik yang tidak berpihak ke pada komoditas sawit,” paparnya.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit lndonesia (GAPKI) Fadhil Hasan sebelumnya menjelaskan ekspor minyak sawit Indonesia Saat ini masih mengalami pertumbuhan. Hal itu mengingat kebutuhan global terhadap komoditas itu masih tinggi.

Sumber :   Bisnis Indonesia

1,354 total views, 5 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *