Harga CPO Mulai Bangkit, Apa Kata Analis ?

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) di Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat 17 Juni 2016 tercatat naik 1,45 persen menjadi MYR2.450 per metrik ton. Harga penutupan ini berada di atas rata-rata setahun terakhir, meski masih lebih rendah dibandingkan enam bulan terakhir.

Peningkatan harga ini terdorong sentimen positif yang muncul dari terus anjloknya stok di Malaysia selama lima bulan berturut-turut dan berada di bawah level rata-rata lima tahun. Berdasarkan data Bareksa, harga CPO bahkan sudah naik signifikan semenjak bulan Agustus 2015.

Grafik: Pergerakan Harga CPO

Sumber: Bareksa.

Research analyst PT. RHB Securities Indonesia, Hariyanto Wijaya kepada Bareksa mengatakan walaupun harga CPO naik hingga sekitar 50 persen sejak Agustus 2015, namun tidak membuat laba perusahaan penghasil CPO ikut naik.

Pada Agustus 2015 harga CPO berada di level MYR1.806 per metrik ton dan menjadi MYR2.716 pada permulaan Mei 2016. Tidak berimbasnya kenaikan harga CPO pada keuangan perusahaan ini dikarenakan pemicunya adalah El Nino. Badai hawa panas ini pada saat yang bersamaan juga memerosotkan produksi perusahaan.

Pada periode El Nino sebelumnya di tahun 1997-98, harga CPO naik rata-rata hingga 30 persen. Produksi tandan buah segar sawit Malaysia secara year to date (YTD) anjlok hingga 16,8 persen

Hariyanto mengatakan pihaknya merevisi harga CPO dari sebelumnya di angka MYR2.700-2.900 per ton menjadi MYR2.630 sepanjang kuartal II 2016. Namun ia mengantisipasi kemungkinan pulihnya harga CPO di semester II 2016. Ia melanjutkan, CPO diperkirakan akan diperdagangkan di angka MYR2.300-2.700 hingga akhir tahun.

Selain El Nino, bakal berembusnya La Nina juga diprediksi Hariyanto akan menjadi katalis positif bagi harga CPO dan harga saham perusahaan penghasil CPO. Menurutnya, La Nina diperkirakan akan datang di kuartal IV 2016. Dalam sejarahnya, La Nina selalu membawa efek positif bagi harga CPO dengan kenaikan berkisar di angka 20-65 persen. La Nina sendiri berembus terakhir kali pada tahun 2011-12.

Analis pasar modal, Renji Betari, kepada Bareksa mengatakan, menjelang Lebaran biasanya harga CPO memang selalu melonjak naik. Ia memperkirakan akan ada kenaikan harga yang sifatnya musiman pada bulan Juni-Juli ini. “Dalam satu dua bulan ada potensi kenaikan menjelang Lebaran karena konsumsinya meningkat, terutama kebutuhan pangan seperti minyak goreng. Mungkin bisa kembali ke MYR2.500 atau maksimal MYR 2.550,” katanya.

Full year, Renji melihat harga CPO sulit naik. Pasalnya, belakangan curah hujan cukup tinggi sehingga hasil panen terdekat akan cukup melimpah. Pada akhir tahun, dia memperkirakan harga masih berada di kisaran MYR2.500 karena hasil panen terdekat masih akan cukup memenuhi permintaan CPO di pasar.

Selain itu, perekonomian China dan India yang merupakan konsumen terbesar CPO, juga tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu hingga akhir tahun Renji tidak melihat akan ada lonjakan permintaan. Lonjakan harga yang terjadi pada akhir tahun 2015 kemarin menurutnya tidak akan berulang pada tahun ini. Rally harga pada akhir tahun lalu terjadi karena supply turun sementara demand naik.

Namun, ia mengatakan dibandingkan sektor lain, posisi saham di sektor AGRI masih menjadi pilihan utama. Dibandingkan sektor-sektor lain, saham AGRI masih under valued dan berpotensi untuk naik. “Tetapi tidak bisa memberikan gain yang sangat besar. Paling hanya 15 persen sampai kuartal III,” katanya.

Kurs dolar juga membuat pendapatan perusahaan penghasil CPO tergerus. Tahun lalu, nilai tukar rupiah per US$ mencapai Rp14 ribu sedangkan tahun ini hanya sekitar $13 ribu. (kd)

Sumber: Bareksa.com

533 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *