Harga Turun atau Pungutan Naik

JAKARTA – Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan baru untuk mengantisipasi kurangnya dana dari hasil pungutan ekspor minyak kelapa sawit untuk subsidi biodiesel sepanjang tahun ini. Kebijakan pencampuran bahan bakar nabati berbasis minyak sawit berkadar 20% ke dalam Solar memerlukan subsidi dari iuran pengusaha sawit yang dihimpun oleh Badan Pengumpul Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Subsidi tersebut dibutuhkan untuk menutupi selisih harga biodiesel dan Solar. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, pihaknya tengah menyusun kebijakan baru guna mengantisipasi kemungkinan adanya kekurangan dana subsidi biodiesel.

“Kalau melihat kondisi saat ini di mana harga CPO [minyak kelapa sawit] terus naik dan minyak mentah stabil, kemungkinan dana [subsidi] kurang,” katanya, Rabu (8/3). Salah satu opsi yang dikaji adalah mengubah formula harga indeks pasar (HIP) biodiesel serta menaikkan pungutan bagi pengusaha kelapa sawit. Saat ini, formula penentu HIP biodiesel adalah harga rata-rata CPO KPB ditambah besaran konversi CPO menjadi biodiesel yakni US$125 per ton serta ongkos angkut.

“Bisa saja besaran konvensinya diumumkan menjadi US$100 per ton, kami lihat bagaimana dampaknya terhadap penambahan dana subsidi,” tambah Rida.

Iuran pengusaha sawit ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 24/2015 tentang Penghimpunan dan Pemanfaatan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Dalam beleid tersebut mengatur progam pungutan US$50 per ton setiap ekspor 1 ton CPO.

Rida menyebut, keseluruhan kajian tersebut rnasih harus menunggu keputusan dari komite pengarah yang berada di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dia berharap agar kebijakan baru ini dapat segera keluar mengingat masa kontrak pasokan biodiesel untuk periode November 2016-April 2017 akan habis. “Ini secepatnya sedang dicoba pelaksanaannya, paling sebulan selesai.” Sebelumnya, BPDPKS memperkirakan pada 2017 selisih harga Solar dan biodiesel akan lebih kecil dari Rp4.500 – Rp5. 500/liter.

Pada awal tahun ini, BPDPKS memproyeksikan dana pungutan sawit bisa memenuhi kebutuhan subsidi biodiesel pada tahun ini Rp9,6 triliun. Hal tersebut dengan asumsi harga minyak berada di kisaran US$50 – US$60 per barel sedangkan harga CPO berada di kisaran US$650 – US$750 per ton.

Namun, saat ini harga CPO terus bergerak naik, sedangkan harga minyak stabil. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga CPO pada Maret US$825,90 per ton naik US$10,38 atau 1,27% dan bulan sebelumnya US$815,52 per ton. Penetapan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/2/2017 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

“Saat ini harga referensi CPO kembali meningkat dan tetap berada pada level di atas US$800 per ton. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK [bea keluar] untuk CPO US$ 18 per ton untuk periode Maret 2017,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan.

Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia (ICP) bulan ini berada di kisaran US$52,5 per barel. Rida mengatakan, pihaknya menunda kebijakan perluasan subsidi untuk biodiesel non-PSO karena keterbatasan dana. (Annisa L. Ciptaningtyas)

Sumber : Bisnis Indonesia

1,470 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *