Indonesia-Australia Bisa Perluas Kerja Sama Ekonomi

SYDNEY— Pemerintah Indonesia dan Australia optimistis bahwa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia Australia bisa ditandatangani kedua menteri perdagangan pada akhir 2017 meskipun masih ada tiga putaran perundingan. Dengan ditandatanganinya perjanjian, peluang kerja sama Indonesia dan Australia dalam berbagai bidang, seperti perdagangan dan investasi untuk barang serta jasa makin terbuka.

“Kami akan upayakan dalam dua putaran perundingan lagi bisa selesai meskipun ada tiga alokasi putaran sehingga sebelum 2017 berakhir, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia Australia (IA-CEPA) sudah ditandatangani. Maret nanti, Menteri Perdagangan dan Investasi Australia akan datang, kami akan ajak berunding langsung di tingkat menteri,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam konferensi pers sebelum kembali ke Jakarta, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Suhartono, dari Sydney, Australia, Minggu (26/2).

Menurut Enggartiasto, masih ada dua persoalan lagi yang harus diselesaikan terkait barang dan investasi dalam perjanjian itu. “Kedua persoalan ini tidak akan berat karena di tingkat kepala pemerintahan sudah ada kesepakatan bahwa sebelum 2017, IA-CEPA akan segera diselesaikan dan ditandatangani,” katanya.

Sebelumnya, dalam pernyataan bersama Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull seusai pertemuan empat mata dan bilateral di Admiralty House, rumah dinas Gubernur Jenderal Australia di Sydney, keduanya sepakat untuk menyelesaikan perundingan IA-CEPA pada 2017.

“Kami sudah sepakati bahwa pada 2017 ini, IA-CEPA harus diselesaikan karena banyak manfaatnya bagi perdagangan dan investasi kita, selain juga bagi Australia,” ujar Presiden Jokowi.

Perluas hubungan

Menurut PM Turnbull, IA-CEPA akan memperluas hubungan ekonomi. “Kedua negara ini memiliki komitmen bersama untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas bilateral yang memiliki kualitas yang sangat tinggi. Kemitraan komprehensif membuka peluang yang lebih banyak bagi para pengusaha Australia dan Indonesia. Selain itu, akan tercipta peluang kerja yang lebih banyak lagi di Indonesia dan Australia,” ujar Turnbull.

Dari hasil pertemuan bilateral, Presiden Jokowi menyatakan, Indonesia terbuka dengan jenis perundingan apa pun asalkan dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi kedua belah pihak. “Jangan sampai merugikan yang satu dan menguntungkan yang lainnya, baik tarif maupun nontarif,” kata Presiden Jokowi.

Di bidang perdagangan, Presiden Jokowi berharap, hambatan perdagangan, baik tarif maupun nontarif bagi produk-produk Indonesia, misalnya kertas dan kelapa sawit bisa diatasi. Adapun, PM Turnbull mengaku senang karena sudah ada kesepakatan untuk mengurangi tarif bea masuk untuk ekspor gula dari Australia sebesar 5 persen.

Sumber : Kompas

1,129 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *