Indonesia dan Malaysia Bersatu Hadapi Kampanye Negatif Gambut

Kuching – Kongres Gambut Internasional atau Internasional Peat Congress (IPC) ke -15 yang diadakan Malaysian Peat Society bersama International Peat Society (IPS) memperkokoh kerjasama Indonesia dan Malaysia untuk melawan tekanan internasional terkait pemanfaatan gambut. Kedua negara produsen CPO ini sepakat gambut lebih bermanfaat dan aman dari resiko kebakaran, apabila dipakai untuk kepentingan budidaya ketimbang menjadi kawasan terbuka (open acces).

Dalam kongres ini hadir perwakilan Indonesia seperti Ketua Umum  GAPKI, Joko Supriyono bersama kalangan akademisi seperti Prof. Supiandi Sabiham, Ketua Himpunan Gambut Indonesia dan Dr.Basuki Sumawinata, Akademisi Institut Pertanian Bogor. Sebagai informasi, IPC berlangsung setiap empat tahun sekali yang dihadiri akademisi lokal serta internasional, peneliti, NGO, stakeholder, dan pelaku industri agrikultur untuk membahas metode efektif pengelolaan gambut.

Joko Supriyono menolak tuduhan yang mengaitkan kebakaran lahan gambut dengan  perkebunan kelapa sawit. Data menunjukkan sekitar 61% kebakaran lahan di  Riau  pada tahun lalu berada di area gambut yang masuk kawasan moratorium. Penyebabnya adalah tidak ada pengawasan dan pengelolaan gambut dengan baik.

Lain halnya dengan perkebunan sawit yang berada di lahan gambut mampu menekan terjadinya kebakaran lahan. Joko mengatakan kebakaran lahan tidak akan terjadi apabila menjalankan manajemen benar dan ada pengelolanya.

Senada dengan Joko Supriyono. Basuki Sumawinata Pakar Gambut Insitut Pertanian Bogor menjelaskan peluang terjadinya kebakaran lahan gambut  di Indonesia lebih besar pada kawasan ‘tidak bertuan’ (open access). Sering terjadi, kawasan gambut yang tidak dikelola menjadi pemantik kebakaran terutama kawasan yang berbatasan dengan perkebunan

“Kalau lahan gambut yang dimanfaatkan bagi  perkebunan dan HTI, tingkat kebakaran dapat ditekan karena disitu ada perusahaan serta masyarakat  yang menjaganya,” kata Basuki.

Amar Abdul Hamed bin Haji Sepawi, Chairman Sarawak Oil Palm Plantation Owners Association, menyebutkan gambut termasuk tanah uamg dapat menjadi media tanam. Memang dulu, kegiatan budidaya di lahan gambut sulit dilakukan karena teknologi yang membantunya belum ada. “Tapi sekarang, sudah ada teknologi yang bisa membantu pemanfaatan gambut bagi kegiatan perekonomian,” tegasnya.

Abdul Hamed menyatakan sebelum adanya teknologi tanaman di areal gambut akan miring bahkan ambruk. Sekarang ini, masalah tersebut sudah teratasi dengan pengairan yang bagus dan teknologi pemadatan gambut, sehingga gambut layak ditanami.

“Pengelolaan gambut sebaiknya di tangan  industri. Dengan begitu dapat dijalankan tata kelola penanaman gambut yang baik dan berkelanjutan. Ini juga berlaku kepada  komoditas lain,” katanya.

Kalyana Sundram, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menegaskan telah terjadi sesat informasi di kalangan masyarakat bahwa seakan-akan lahan gambut hanya ada di daerah tropis. Padahal, negara subtropis juga memiliki lahan gambut yang dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi.“Kalau pengelolaan lahan gambut untuk budidaya disalahkan, maka negara-negara subtropis seperti Eropa juga harus disalahkan,” kata Kalyana Sundram.

Sundram mengatakan komunikasi tentang lahan gambut sangat tidak berimbang. Ironisnya, banyak ilmuwan yang ikut-ikutan menyudutkan kelapa sawit sebagai dalam pengelolaan lahan gambut. “Jadi kesannya, gambut hanya isu negara-negara tropis. Ilmuwan tidak menyampaikan gambaran yang objektif terkait gambut tersebut,” katanya.

Kritik ini ditujukan kepada Eropa yang sesungguhnya  ikut mengeksploitasi lahan gambut untuk kepentingan ekonomi, baik sebagai briket, juga sebagai lahan pertanian, hutan tanaman, dan holtikultur. “Ini adalah sektor ekonomi penting di Eropa. Mereka melindungi sektor ekonominya tetapi dengan menyerang sektor ekonomi wilayah lain,” katanya. (qa)

Sumber: SawitIndonesia.com

784 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *