Indonesia Manfaatkan Permintaan Dunia

JAKARTA — Pelaku usaha industri kelapa sawit harus tetap memanfaatkan permintaan minyak nabati dunia yang cukup besar. Dengan memenuhi permintaan minyak nabati dunia itu, Indonesia dapat meningkatkan ekspor minyak sawit dan memperoleh devisa yang lebih besar.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan hal tersebut dalam seminar bertema “Strategi Memperkuat Posisi dan Citra Industri Sawit Indonesia di Dunia Internasional”, di Jakarta, Selasa (6/12). Selain Joko, pengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Nyoto Santoso, serta Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud juga hadir sebagai narasumber.

Menurut Joko, hingga 2025, tambahan permintaan minyak nabati di dunia rata-rata 5 juta ton per tahun. “Kalau permintaan itu tidak diambil, kita rugi,” katanya.

Setiap penambahan produksi identik dengan pertumbuhan sektor riil serta bermanfaat untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan.

Joko menambahkan, produksi minyak kelapa sawit Indonesia pada 2020 diperkirakan 40 juta ton. Permintaan dalam negeri diperkirakan 17 juta ton. Dengan demikian, sisanya dapat mengisi pasar ekspor. “Ekspor penting dan dominan untuk devisa,” kata Joko.

Namun, menurut Joko, tren permintaan domestik cenderung meningkat karena ada hilirisasi industri.

Pada 2016, tambah Joko, produksi minyak kelapa sawit Indonesia diperkirakan 30 juta ton. Tahun 2017, produksi diperkirakan naik menjadi 33,5 juta ton. Tahun depan, permintaan pasar global, terutama berasal dari India, Pakistan, Banglades, dan Tiongkok.

Terkait dengan regulasi minyak sawit, saat ini masih terjadi tumpang tindih. Ia mencontohkan, ada ketentuan yang menetapkan perluasan kawasan hutan. Padahal, kawasan tersebut sudah lama menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit.

Musdhalifah mengatakan, tantangan yang dihadapi industri minyak sawit antara lain harga yang berfluktuasi. Ia mencontohkan, pada 2014 harga minyak sawit mentah (CPO) 900 dollar AS per ton, tetapi pada Oktober 2015 harga turun menjadi 530 dollar AS per ton. Pada Oktober 2016, harga CPO naik lagi menjadi 780 dollar AS.

Tantangan lain yang dihadapi, lanjut Musdhalifah, adalah tingkat produktivitas perkebunan sawit yang rendah. Saat ini produktivitas perkebunan rakyat 3,2 ton CPO per hektar setiap tahun, perkebunan besar negara 4,1 ton CPO, dan perkebunan besar swasta 4,7 ton CPO per hektar setiap tahun.

“Isu lingkungan hidup juga masih menjadi tantangan yang dihadapi industri sawit,” kata Musdhalifah. (FER)

Sumber : Kompas

1,206 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *