Industri Sawit Masih Kebal

Samarinda – Keterbatasan anggaran pemerintah pusat maupun daerah tahun ini boleh jadi memberi dampak kepada hampir semua lini perekonomian. Namun, untuk bisnis minyak sawit atau crude palm oil (CPO), efeknya diyakini masih kebal.

Kepala Bidang Usaha Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Mohammad Yusuf mengatakan, hal itu bahkan tak mengganggu upaya pengembangan tanaman sawit yang digarap pemerintah. Meski anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) menyusut, kegiatan budi daya tanaman ini masih ditopang Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), yang sudah dihimpun sejak Juli 2015.

Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah juga kembali mengenakan bea ekspor untuk CPO, karena nilai jualnya belakangan meningkat. Diketahui, bea ekspor itu juga menjadi salah satu sumber BPDPKS.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan, harga referensi produk CPO untuk bea keluar periode Oktober ini di posisi USD 781,49 per metrik ton (MT), di atas batas pengenaan bea ekspor, USD 750 per MT. Harga itu naik USD 71,33 atau 10,04 persen dari periode September 2016 yang hanya USD 710,16 per MT.

Dia menjelaskan, BPDPKS membuat pemerintah semakin lancar memberdayakan komoditas sawit. Pemangkasan belanja APBD Kaltim sebanyak Rp 1,5 triliun memang tak banyak mengganggu. Namun, dapat membuat kegiatan terhambat bila tak sempat lelang.

“Ya, lelang pengadaan perkebunan yang dibayar ke petani sudah lebih dulu tuntas. Meski, ada beberapa lelang yang dibatalkan. Kalau sawit, juga karet, lelangnya sudah. Hanya, untuk komoditas lada yang tak sempat dilelang,” kata Yusuf saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/10) lalu.

Sumber: Prokal.co

342 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *