Industri Sawit Membutuhkan Pelabuhan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendesak pemerintah menyediakan infrastruktur, terutama pelabuhan di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia. Keberadaan pelabuhan tersebut sangat diperlukan untuk menekan biaya transportasi yang selama ini ditanggung pengusaha.

Kata Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, daya saing minyak sawit Indonesia setiap tahun turun. Bila persoalan infrastruktur ini tidak segera dibenahi. “Bisa jadi nanti malah harga minyak sawit lebih mahal bila dibandingan dengan minyak nabati lain,” ujar Ketua Umum Gapki Joko Supriyono di Jakarta, Selasa.

Menurut Joko, selisih harga jual minyak sawit (crude palm oil/CPO) dengan minyak nabati pada 10 tahun lalu sekitar 200 dolar AS per ton. Namun, saat ini selisih harga kedua komoditas tersebut semakin tipis menjadi 90 dolar AS per ton.

Untuk memperkuat daya saing tersebut, kata Joko, salah satunya, yakni dengan membenahi infrastruktur, terutama pelabuhan. Khusus di Provinsi Jambi, kata Joko, hingga saat ini belum ada pelabuhan utama.

Akibatnya, untuk melakukan ekspor CPO masih harus dibawa ke Dumai, Provinsi Riau, atau ke Pelabuhan Belawan, Medan. “Ini sangat tidak efisien. Bagi kami, ongkosnya makin mahal dan Pemda Jambi juga rugi karena kehilangan potensi pendapatan dari sisi retribusi,” kata Joko.(T2)

Sumber: bumn.go.id

519 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *