Integrasi Jagung Sawit Bisa Kurangi Impor

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya mengambil inisiatif untuk melakukan integrasi penanaman jagung-karet, jagung-sawit, dan jagung-tanaman Perhutani karena menyadari tanah Indonesia subur. Sekaligus sebagai upaya menguragi kegiatan impor beberapa komoditas pangan itu.

Di Banyuasin, Sumsel, Amran mengatakan, progra itu bakal diawali dengan menanam jagung seluas 100 ribu ha di Perhutani, sementara kontraknya mencapai 200 ribu ha. Lantas di tengah sawit akan dilanjutkan program itu seluas 1 juta ha.

Menurut Amran, baik integrasi penanaman jagung-karet maupun jagung-sawit mempunyai potensi produksi enam hingga tujuh ton per ha.”Kalau ini berhasil, katakan produksi enam ton saja, tidak usah 10 ton itu (setara) Rp6 juta. Persoalan kita sudah selesai,” kata Amran.

Integrasi penanaman jagung-karet dan jagung-sawit juga memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya, tidak perlu mengeluarkan biaya herbisida.

Rencana Mentan itu faktanya bakal terkendala jika rencana kebijakan moratorium sawit dan tambang jadi diterbitkan. Lantaran kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, dengan munculnya kebijakan moratorium sawit bakal menghadang upaya integrasi sawit-jagung. “Dimana kami akan menanam jagung, kan tidak ada pembukaan baru,” katanya kepada InfoSAWIT, di Jakarta, saat acara buka puasa bersama Gapki dan Media. (T2)

Sumber: Bumn.go.id

444 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *