Harga CPO Anjlok Ke Level Terendah 2016, Faktornya…

JAKARTA – Diproyeksikan melejit pada masa Ramadan, harga minyak kelapa sawit justru anjlok ke level terendah sejak Desember 2015 atau level terendah baru sepanjang 2016.

Sejumlah faktor yang memengaruhi anjloknya harga sawit ialah aksi risk off menjelang referendum Inggris, perlambatan permintaan mendekati Idul Fitri, penguatan ringgit, dan penundaan kebijakan penerapan biodiesel oleh pemerintah Malaysia.

Dalam jangka menengah harga diperkirakan bergerak di antara level 2.300-2.500 ringgit Malaysia per ton, setelah sebelumnya diproyeksikan dapat mencapai posisi 2.900 per ton.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Selasa (21/6/2016), harga CPO untuk kontrak September 2016 turun 26 poin atau 1,08% ke level 2.374 ringgit (US$589,37) per ton. Angka ini merupakan level terendah sejak November 2015.

Andy Wibowo, Analis Daewoo Scurities Research, menuturkan wacana British Exit di mana kecenderungan sentimen mengarah ke berpisahnya Inggris dari Uni Eropa beberapa waktu lalu turut menekan komoditas. Pasalnya, mata uang dolar AS mengalami penguatan sehingga mengerem harga minyak dunia dan juga CPO.

“Kami juga belum melihat tanda-tanda positif harga CPO global dalam jangka pendek. Sentimen yang mendominasi ialah aksi risk off ,” paparnya dalam publikasi riset, Selasa (21/6/2016).

Stok minyak sawit Malaysia mengalami penurunan selama enam bulan berturut-turut sejak puncaknya 2,9 juta ton pada November 2015 menjadi 1,6 juta ton di Mei 2016. Penurunan disebabkan efek El Nino dari tahun sebelumnya.

Sebaliknya, produksi Negeri Jiran di bulan lalu naik ke 1,36 juta ton dibandingkan April 2016 sebesar 1,3 juta ton. Sabah mendominasi tingkat produksi dengan kontribusi 29,3%, dan Serawak menyumbang 19,3%.

Meskipun demikian, Daewoo memprediksi pertumbuhan produksi CPO tidak akan berlanjut karena cuaca La Nina yang menyebabkan masalah logistik dalam proses panen. Sepanjang 2016output Malaysia akan menurun 5%-10% secara tahunan (yoy) dari 2015 sebesar 1,4 juta ton.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Komoditas Central Capital Futures, menyampaikan walaupun CPO pada Jumat (17/6) mengalami kenaikan setelah 9 sesi perdagangan sebelumnya terkoreksi, harga pada Senin (20/6) kembali melemah ke level terendah dalam lima bulan terakhir.

Sejumlah faktor yang menekan harga ialah aksi risk off atau penghindaran risiko menjelang referendum Inggris pada Kamis (23/6), perlambatan permintaan mendekati Hari Raya Idulfitri, penguatan mata uang ringgit, dan penundaan kebijakan pemerintah Malaysia.

Sebelumnya, pemerintah Malaysia akan menaikkan batas kewajiban biodiesel dari B7 menjadi B10 untuk sektor transportasi dan mulai memperkenalkan B7 untuk sektor industri. Dua kebijakan ini direncanakan efektif berjalan mulai 1 Juni 2016.

Program B10 bertujuan meningkatkan minimum konten campuran biodiesel untuk penggunaan transportasi menjadi 10%. Sementara program B7 akan diberlakukan untuk sektor industri, yang meliputi bidang komersial dan pembangkit listrik.

Namun, Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia menyatakan implementasi penuh kebijakan ini baru akan berjalan pada Agustus 2016. Secara tidak langsung sentimen ini memengaruhi harga CPO karena proyeksi sisi permintaan berkurang.

Penguatan ringgit turut berdampak bagi gairah pasar. Pasalnya, kenaikan nilai mata uang terhadap dolar AS membuat harga CPO menjadi lebih mahal. Pada penutupan perdagangan kemarin ringgit naik 0,73% menuju 4,0228 per dolar AS.

Di sisi lain, pelemahan data ekspor membuat lesu optimisme pasar. Data pada Senin (20/6) menunjukkan eskpor CPO di periode 1-20 Juni 2016 turun 8%-10% dari periode yang sama di bulan sebelumnya, karena pelemahan permintaan khususnya dari negara mayoritas muslim menjelang Idulfitri.

Secara keseluruhan, Wahyu menyimpulkan harga CPO bakal bergerak di kisaran 2.300-2.500 ringgit per ton dalam jangka menengah. “Selama 2.300 hold. Pergerakan di kisaran 2.400. Padamid term harga antara 2.300-2.500 per ton,” tuturnya kepada Bisnis.com. 

587 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *