Kampanye Negatif Sawit Berisiko Hambat Agrobisnis

YOGYAKARTA. – Kampanye negatif terhadap perkebunan dan industri kelapa sawit nasional dinilai sangat memukul agroindustri tanah air.

Sebab, kejayaan Indonesia sebagai eksportir produk dan komoditas pertanian direpresentasikan maju atau mundurnya agroindustri yang kini masih banyak ditopang kelapa sawit.

Pakar Pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo mengatakan industri minyak sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indonesia karena kontribusinya besar, baik dalam ekspor non migas, penciptaan kesempatan kerja, pembangunan daerah pedesaan, dan pengurangan kemiskinan. Karena itu, dia menyayangkan maraknya kampanye negatif industri sawit.

“Selain menyesatkan banyak orang, kampanye itu juga dapat merugikan industri minyak sawit Indonesia,” ujar Jangkung saat bedah buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global di Yogyakarta, Selasa (2/8).

Kampanye negatif tersebut sebelumnya terbatas pada aspek gizi dan kesehatan. Namun, saat ini, kampanye tersebut sudah mulau menjangkau aspek strategis yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, menjelaskan kampanye negatif terhadap industri minyak sawit berlangsung lama, sejak Indonesia mulai mengembangkan pola perkebunan inti rakyat kelapa sawit di era 1980-an.

Kekhawatiran produsen minyak kedelai yang kalah bersaing dengan minyak sawit menjadi pemicu intensifnya kampanye negatif pada masa itu.

Selalu Dipersalahkan

Salah satu mitos yang dibahas di dalam buku ini terkait kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menempatkan industri sawit sebagai pihak dipersalahkan.

Padahal, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di sentra kebun sawit, tetapi juga pada provinsi yang tidak memiliki perkebunan sawit seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Barat. YK/E-10

Sumber: Koran-jakarta.com

1,828 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *