Kawasan Penghiliran Siap Dibangun

JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Malaysia siap meluncurkan Palm Oil Green Economic Zone (Pogez) atau kawasan pengembangan penghiliran minyak kelapa sawit. Kawasan ini akan dikembangkan di Dumai, Provinsi Riau, dan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Dibentuknya kawasan penghiliran sawit dengan manajemen hijau ini merupakan tindak lanjut dari upaya Indonesia dan Malaysia untuk mengharmonisasikan standar sawit berkelanjutan melalui pembentukan CPOPC [Council of Palm Oil Producing Countries]. Melalui Pogez, pemerintah Indonesia dan Malaysia mengklaim akan membangun ka- wasan industri dengan pengelolaan lingkungan yang baik dengan mereduksi polusi dan mengawasi tingkat gas rumah kaca yang dihasilkan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, masing-masing kawasan tersebut memiliki luas lebih dari 2.000 ha dan infrastruktur yang memadai. Dengan kawasan khusus, diharapkan komoditas ini makin diterirna di pasar dunia. “Di palm oil zone ini tentu kita mau banyak turunan [dari minyak kelapa sawit] yang dihasilkan termasuk oleochemicals. Industri kita [kapasitasnya] masih setengah dari yang dimiliki Malaysia. Ini harus dipacu,” jelas Airlangga di Jakarta, Kamis (2/2).

Airlangga menyebutkan pemerintah mengantisipasi produksi CPO yang pada 2020 mencapai 40 juta ton. Untuk menyerap bahan baku dalam jumlah besar tersebut, investasi industri pengolahan akan menjadi prioritas. Dia mencatat ada beberapa instrumen kebijakan fiskal yang telah diambil pemerintah untuk meningkatkan penghiliran dalam negeri, seperti pengenaan tarif bea keluar secara progresif sejak 2011, dan program pungutan untuk mendorong output biodiesel di dalam negeri.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto menyampaikan saat ini realisasi Pogez masih dirundingkan oleh Indonesia dan Malaysia, terkait standar dan ketentuan yang digunakan untuk investor yang berminat masuk ke kawasan tersebut. Menurutnya, kedua lokasi itu telah memiliki infrastruktur lengkap untuk dapat dikembangkan sebagai kawasan industri kelapa sawit seperti jalan, pelabuhan, dan listrik.

Biaya produksi pun diyakini lebih efisien karena limbah yang dihasilkan terbilang minim. “Standar yang diadopsi untuk Pogez ini sedang kita diskusikan. Jadi intinya, kita sedang mencari persamaan-persamaan apa [dalam hal mengembangkan investasi hilir] dengan Malaysia. Untuk tenant di lokasi, di kawasan itu kan sudah ada. Indonesia dan Malaysia memang berkepentingan mencari investornya,” ujar Panggah.

Dia menegaskan Indonesia dan Malaysia yang menguasai 85% pasar CPO global berkomitmen membangun kawasan penghiliran minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Panggah menyebut untuk keseluruhan industri agro, Kemenperin menargetkan investasi tahun ini mencapai Rp150 triliun, termasuk investasi di sisi hilir CPO.

LEBIH JELAS

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengakui kawasan-kawasan khusus yang dikembangkan oleh pemerintah menjadi sasaran yang menggiurkan bagi para pemilik modal. Pasalnya, dunia kian menuntut ketersediaan CPO dan produk-produk turunan CPO yang produksinva memperhatikan aspek lingkungan.

“Pasti dilirik orang banyak karena pertama, handling cost-nya lebih murah kalau untuk ekspor. Kedua, manajemennya pasti lebih jelas kalau di satu kawasan. Ketiga, ada kewajiban untuk menghitung emisi gas rumah kaca. Kalau industri biasa, tidak ada hitung itu [emisi GRK],” ujar Sahat

Sumber :  Bisnis Indonesia

942 total views, 6 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *