KEIN: Industri Kelapa Sawit Indonesia Minim Inovasi

Jakarta – Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyebut industri kelapa sawit di Indonesia minim menghasilkan inovasi pengembangan produk hilir. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah aplikasi paten produk hilir sawit Indonesia yang paling rendah di antara negara lain di Asia Tenggara.

Data World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan Indonesia hanya berkontribusi sebesar 2,5% dari total pengajuan aplikasi paten produk hilir kelapa sawit negara Asean pada 2011. Di saat yang sama, jumlah aplikasi paten yang diajukan Malaysia mencapai 65,83%.

Padahal, Indonesia merupakan negara dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit terbesar dunia, mencapai 10 juta ha. Indonesia memproduksi 44% kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) global, sedangkan Malaysia menempati urutan kedua dnegan porsi produksi global 39%.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menyampaikan industri kelapa sawit dan lembaga riset perkebunan Indonesia tergolong lambat dalam menemukan inovasi baru dan menciptakan produk-produk hilir sawit.

“Sampai sekarang tren pengajuan paten kita masih yang paling rendah. Kalau kita lihat luasan kebunnya, Indonesia memang lebih tinggi. Kita bahkan jauh lebih rendah dari paten yang diajukan Singapura padahal mereka tidak memiliki kebun sawit,” kata Arif dalam paparannya di RSPO Press Circle, Selasa (27/9/2016).

Arif menyampaikan industri kelapa sawit domestik telah dimanjakan dengan margin keuntungan yang sudah cukup besar dengan hanya mengekspor produk hulu yaitu CPO. Di saat yang sama, negara lain justru terus kreatif mengembangkan produk hilir.

Dia mencontohkan Malaysia yang merupakan produsen sekaligus eksportir terbesar kedua dunia lebih gigih dalam mendorong investasi produk hilir CPO. Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) diminta menciptakan stimulus terutama dari sisi riset dan pengembangan teknologi.

Selain industri yang termanjakan dengan hanya memproduksi CPO, Arif menggarisbawahi industri domestik hanya fokus melakukan ekstensifikasi dan mencari lahan seluas-luasnya. Proses ekstensifikasi, menurutnya, tidak dibarengi dengan penambhan luas tanam sehingga tidak sedikit lahan yang belum dioptimalkan meski statusnya konsesi perusahaan.

“Industri fokus ekspansi lahan karena dianggap lahan kita masih banyak, padahal jumlahnya juga terbatas. Itu juga penanamannya tidak signifikan karena terbentur akses pembiayaan,” ujar Arif.

418 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *