Komoditas Jadi Penggerak

JAKARTA — Akibat kenaikan harga komoditas di pasar global, kegiatan ekspor dan impor Indonesia pada Januari 2017 tumbuh positif. Motor penggerak perdagangan adalah minyak sawit dan sektor pertambangan, sebagaimana pada 2011. Pada periode 2013-2016, ekspor dan impor konsisten tumbuh negatif, sejalan dengan harga komoditas di pasar global yang anjlok.

“Ekspor-impor yang tumbuh positif pada Januari tahun ini adalah kabar baik. Namun, perlu diingat, itu lebih karena faktor kenaikan harga komoditas. Jadi, ini tidak akan berkelanjutan. Kita harus memperbaiki industri dalam negeri ke depan agar tidak terlalu bergantung pada komoditas,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani di Jakarta, Kamis (16/2).

Mengandalkan pada komoditas, menurut Rosan, akan berisiko. Sebab, harga komoditas berfluktuatif dan ditentukan pasar global. Apalagi, faktor kenaikan harga yang menumbuhkan perekonomian tidak akan banyak menciptakan lapangan kerja.

Hal ini berbeda dengan industri manufaktur yang dinilai lebih berkelanjutan dalam menunjang perekonomian Indonesia. Di samping itu, penciptaan lapangan kerja dari industri manufaktur juga lebih banyak.

“Industri manufaktur kita merosot. Jadi, harus kita bangun lagi. Kita harus punya cetak biru yang benar. Dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kuncinya adalah industrialisasi dan perdagangan,” kata Rosan.

Ekspor-impor Indonesia selama empat tahun terakhir tumbuh negatif. Ekspor Januari selama 2013-2016 terus susut, dari 15,57 miliar dollar Amerika Serikat (AS) pada 2012 menjadi 10,50 miliar dollar AS pada 2016. Ekspor Januari 2017 sebesar 13,38 miliar dollar AS atau tumbuh 27,71 persen dalam setahun.

Impor Januari selama 2014-2016 juga tumbuh negatif, dari 14,92 miliar dollar AS pada 2014 menjadi 10,47 miliar dollar AS pada 2016. Impor Januari 2017 sebesar 11,99 miliar dollar AS atau tumbuh 14,54 persen dalam setahun. Impor bahan baku atau bahan penolong mencapai 75,61 persen dari total impor Indonesia.

Harga

Direktur Distribusi Statistik BPS Anggoro Dwitjahjono memaparkan, pertumbuhan ekspor dan impor Januari 2017 terutama disebabkan kenaikan harga komoditas. Ini terutama merujuk pada minyak sawit, produk tambang, dan minyak bumi.

Pada sisi ekspor, penyumbang utamanya berupa nonmigas dengan porsi 90,5 persen. Pada ekspor nonmigas. kelompok lemak dan minyak hewan/nabati jadi yang terbesar, yakni 16,4 persen.

“Tonase HS 15 naik 20,59 persen. Namun, nilainya naik mencapai 67,73 persen. Ini menunjukkan faktor utama pendorong pertumbuhan adalah kenaikan harga,” kata Anggoro.

HS adalah harmonized system, yang dibuat untuk menggolongkan barang sehingga mempermudah transaksi perdagangan, statistik, dan tarif.

Ekspor minyak sawit mentah tumbuh 147,47 persen, dari 222,82 juta dollar AS per Januari 2016 menjadi 551,41 juta dollar AS per Januari 2017.

Sementara, di sisi impor, nonmigas menyumbang 84,92 persen. Adapun migas menyumbang 15,08 persen.

Impor migas terbesar dalam 13 bulan terakhir terjadi pada Januari 2017. Volume impor migas pada Januari 2017 tumbuh 6,9 persen dibandingkan dengan Januari 2016. Namun, nilainya tumbuh 38,48 persen.

Untuk nonmigas, tonasenya tumbuh 3,46 persen, sedangkan harganya meningkat 6,43 persen dalam setahun. (LAS)

Sumber : Kompas

2,986 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *