Korporasi dan LSM Sepakati Dialog Intensif

KUCHING – Setelah melaksanakan pertemuan selama 5 hari di Kuching, Malaysia, kalangan pemerhati gambut dunia merencanakan pertemuan roundtable lanjutan guna mengakomodasi berbagai kepentingan dalam pemanfaatan gambut dunia.Hal tersebut terungkap dalam diskusi hari terakhir Kongres Gambut Internasional (International Peat Congress/IPC) ke-15. Dalam pertemuan itu, korporasi dan lembaga swadaya masyarakat (NGO) menyepakati perlunya komunikasi dua pihak, korporasi dan LSM melalui pertemuan roundtable.

Dewan Eksekutif International Peat Society (IPS), Moritz Bocking menyampaikan pertemuan roundtable tersebut diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara korporasi-korporasi dan organisasi non pemerintah (NGO). Bocking yang juga merupakan Managing Director Klasmann Deilmann perusahaan penghasil produk organik berbahan dasar gambut yang berbasis di Irlandia menyebut perusahaannya diserang secara masif oleh NGO lingkungan di dunia.
“Pada awalnya kami sangat tertutup dengan NGO mengenai bisnis yang kami lakukan, sehingga mereka (NGO) melakukan berbagai tekanan. Tetapi sejalan waktu, kami belajar untuk terbuka mengenai berbagai dan mengajak NGO untuk bekerja sama,” kata Bocking, Jumat (19/8).
Bocking menerangkan aktivitas perusahaannya yang mengekstrak gambut sebagai media tanam, dinilai para NGO dapat merusak ekosistem tanah tersebut.
Saat awal beroperasi, sejumlah NGO secara aktif menentang usaha tersebut. Sebagai gambaran, 80% dari total gambut dunia berada di daratan Barat, yaitu Eropa, Rusia, dan Amerika Serikat.
Di wilayah itu, gambut digunakan untuk bahan baku beragam industri mulai dari biomassa hingga kebutuhan seharihari seperti sabun dan shampo. Begitu juga di China, gambut juga dipergunakan untuk bahan baku sejumlah industri, termasuk industri makanan dan pupuk organik.
Berkebalikan, lahan gambut di Indonesia merupakan lahan ‘sakral’ yang tidak dapat diutakatik. Sejak 2011, pemerintah telah secara resmi memberlakukan moratorium pemberian izin pembukaan lahan baru di area hutan dan lahan gambut.
Pemerintah mencatat luas lahan gambut Indonesia yaitu sekitar 14 juta hektar yang 20%-nya digunakan untuk lahan pertanian.
KOMODITAS SAWIT
Dari 20% tersebut, seluas 1,6 juta hektar di antaranya telah puluhan tahun lalu ditanami komoditas kelapa sawit.
Untuk mengatasi perbedaan pendapat tersebut, Bocking mengatakan pertemuan pembahasan soal pemanfaatan lahan gambut perlu dilakukan sehingga tidak ada lagi perselisihan antara korporasi dan organisasi nonpemerintahan.
“Korporasi harus mampu menjelaskan tentang perkembangan ilmu pengetahuan melalui riset, agar ada pemahaman bersama. Mengelola bisnis gambut tidak mudah, namun lewat berbagai forum, semua pihak bisa saling belajar,” jelas Bocking.
Sementara itu, salah satu perusahaan asal Finlandia, Peatmax, telah memproduksi beragam alat mesin yang digunakan untuk menghasilkan berbagai produk dari gambut seperti kertas dan batako.
Managing Director Peatmax, Juhani Lehti mengaku di negara-negara Eropa, industri gambut memang sudah sangat berkembang.
Saat ini, Lehti mengatakan, Peatmax yang beroperasi di Indonesia memanfaatkan gambut untuk dijadikan biomasa sebagai bahan baku pembangkit (power boiler).
“Biomas berbahan baku gambut saat ini sangat disukai banyak negara di Eropa karena lebih ramah lingkungan dan efisien dibandingkan batubara,” jelas Lehti.
Sumber: Bisnis.com

524 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *