La Nina mengerek produksi CPO 2017

NUSA DUA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi, produksi crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit nasional tahun depan mencapai 33 juta ton. Target tersebut lebih besar 3,45% dibandingkan proyeksi total produksi tahun ini, yakni 31,9 juta ton.

Pertumbuhan target produksi tahun depan berangkat dari perkiraaan gejala La Nina tahun 2016 yang baru akan terasa tahun depan. “La Nina tahun ini akan mendorong produksi CPO tahun depan menjadi sekitar 32 juta ton sampai 33 juta ton,” jelas Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gapki, dalam acara The 12th Indonesian Palm Oil Conference and 2017 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/11).

Meski proyeksi pertumbuhan tahun depan tipis, Gapki tetap menyambut dengan antusias. Kekeringan yang terjadi tahun ini sebagai akibat El Nino awal tahun, membikin produksi CPO 2016 menyusut 10% ketimbang tahun 2015.

Sebagai gambaran, rata-rata pertumbuhan produksi domestik CPO periode tahun 2007-2011 sebesar 7%. Sementara rata-rata pertumbuhan produksi CPO periode tahun 2011-2016 sebesar 3%.

Dus, proyeksi pertumbuhan produksi CPO tahun 2017 sebesar 3,45%, masih lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya. Gapki cukup optimistis, pasar nasional berpotensi besar menyerap peningkatan produksi itu.

Mereka menunjuk program B20 pemerintah yang mewajibkan bauran minyak nabati dengan bahan bakar solar sebesar 20%. Program tersebut bisa mengerek konsumsi CPO nasional.

“Indonesia akan tetap baik-baik saja, karena kita punya program yang fleksibel untuk biodiesel, bahkan bisa naik sampai B30,” kata Joko Supriyono, Ketua Gapki, dalam kesempatan yang sama.

Lagi pula, selain pasar lokal ada pula peluang pasar ekspor CPO. Gapki menargetkan kenaikan ekspor tahun ini 11,11%. Kalau target 22,5 juta ton ekspor CPO tahun ini terpenuhi semua, berarti target ekspor CPO tahun depan setara dengan 24,99 juta ton.

Namun, Gapki menyadari, peningkatan ekspor tak terlepas dari permintaan dan konsumsi global. “Tapi saya yakin ada peluang kondisi global sedikit lebih baik dibanding tahun ini,” kata Fadhil.

Gapki memperkirakan, harga rata-rata CPO tahun depan US$ 690 per ton. Proyeksi harga tersebut lebih kecil dibandingkan dengan estimasi Bank Dunia, yakni US$ 710 per ton. Sebelumnya Gapki menyebutkan, harga rata-rata CPO per akhir Oktober 2016 sebesar US$ 660 per ton.

Sumber : Kontan

839 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *