Lahan Petani Sulit Disertifikasi

MEDAN— Sejak dicanangkan tahun 2004, baru 1,7 juta hektar lahan kelapa sawit Indonesia yang mendapat sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil dari total luas 11 juta hektar. Hampir seluruh lahan yang mendapat sertifikat milik perusahaan besar.

Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia Tiur Rumondang Simangunsong mengatakan itu di Medan, Sumatera Utara, Rabu (2/8). “Sertifikat berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar internasional serta menjamin industri sawit berkelanjutan dan ramah lingkungan,” katanya.

Diungkapkan, banyak petani dan perusahaan menengah, yang memiliki lahan di bawah 5.000 hektar, enggan mengikuti sertifikasi sawit berkelanjutan. Hal itu antara lain karena mereka hanya menghitung keuntungan jangka pendek. Sertifikat RSPO memang tidak dapat menjamin harga sawit lebih tinggi ketimbang tanpa sertifikat.

Akan tetapi, kata Tiur, pengelolaan sawit berkelanjutan mempunyai dampak jangka panjang hingga 50 tahun ke depan. Prinsipnya, RSPO mencari keseimbangan industri sawit yang layak ekonomi, patuh pada hukum, bermanfaat sosial, dan tepat untuk lingkungan. Sertifikasi RSPO, antara lain, mensyaratkan legalitas kepemilikan lahan, steril dari perambahan hutan, steril dari lahan gambut, dan tidak ditanam di sempadan sungai. Pekerja di kebun juga harus menerapkan standar keselamatan kerja serta punya sistem pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.

Petani dan perusahaan menengah kesulitan memenuhi syarat-syarat tersebut, terutama legalitas lahan. Banyak yang mendaftar ke RSPO, tetapi tak lulus karena tidak ada legalitas lahan. Hingga saat ini, baru sekitar 190..064 hektar lahan petani di Indonesia yang mendapat sertifikat RSPO. Padahal, ada 4,5 juta hektar lahan sawit milik petani.

Untuk meningkatkan lahan sawit berkelanjutan, menurut Tiur, RSPO telah menyalurkan dana 209.000 dollar AS untuk petani di Indonesia. Saat ini masih ada 2,7 juta dollar AS untuk petani di dunia. Sebagian di antaranya akan dialokasikan ke Indonesia.

Jumadi, Manajer Kelompok UD Lestari, mengatakan, harga sawit yang dijual memang tidak berbeda dengan sawit tanpa sertifikat, tetapi sawit mereka lebih diutamakan. Cara budidaya petani anggota UD Lestari juga berbeda setelah menerapkan cara berkelanjutan. Mereka juga mengendalikan hama dengan cara tak membunuh ular yang merupakan pemangsa tikus. (NSA)

Sumber : Kompas

2,863 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *