Mahasiswa Universitas Andalas Ubah Limbah Sawit Jadi Kertas Pembungkus Makanan

Limbah sawit bisa memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-sehari. Ini dibuktikan dengan pembuatan kertas pembungkus makanan dari sisa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Ide ini berawal dari gagasan lima Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat.

Tika Apriliany, mahasiswa yang terlibat dalam penelitian, mengatakan limbah tandan kosong belum dimanfaatkan dengan baik karena masih dibiarkan menjadi sampah bahkan dibakar.

“Penelitian kertas pembungkus dari tandan kelapa sawit sudah banyak. Tapi, kami tambahkan bioplastik baru kali ini,” kata Tika seperti dilansir LKBN Antara.

Proses pembuatan kertas ini diawali pemotongan dan pembersihan tandan kelapa sawit menjadi serat sama seperti sabut kelapa.

Langkah berikutnya, serat diolah menjadi bubur kertas melewati proses soda dengan penambahan Natrium Hidroksida.  Proses ini dilakukan di dalam alat yang bernama “pulper”.

Bubur kertas akan dituangkan pada cetakan sehingga berbentuk seperti lembaran, kemudian disaring, dan dikering anginkan beberapa menit, hingga berbentuk lembaran ,baru masuk pelapisan dengan bioplastik. Bioplastik terbuat dari campuran tepung tapioka ditambah air dan zat gliserol.

“Produk ini bersifat ramah lingkungan jika dibandingkan dengan kemasan kertas atau pembungkus makanan di pasaran,”ujarnya.

Sebelum digunakan untuk melapisi kertas, campuran zat tersebut dioleskan pada lembaran kertas yang sudah jadi lalu dikeringkan.

Menurut Tika, penambahan bioplastik  memberikan keamanan bagi makanan bila dibungkus karena semua zat dioleskan menyatu ke bahan kertas. Alhasil, bioplastik ini tidak akan menjadi masalah apabila dipakai membungkus nasi atau lauk.

Sedangkan, kertas makanan yang biasa dipakai telah berlapis plastik dari bahan minyak bumi atau polietilen.

Kertas  pembungkus makanan berbaham limbah sawit ini bernama “Kelas Bistik” atau Kertas Ramah Lingkungan Dari Tandan Kelapa Sawit Berlapis Bioplastik Untuk Makanan. Nilai tambah kertas ini bisa terurai cepat dibandingkan kertas bungkus yang berbahan plastik yang sulit terurai sampai ratusan tahun.

Penelitian ini diprakarsai lima mahasiswa Unand Tika Apriliany, Fakhrur Rozi Oktafi, Oktaviandi, Nurmala Sari, dan Febiola Edsa Gazella yang dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Ir. Anwar Kasim.

Kebutuhan dana penelitian sekitar Rp7,5 Juta. Penelitian ini didanai oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (KEMENRISTEKDIKTI) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). (Qayuum)

Sumber foto: Universitas Andalas

Sumber: SawitIndonesia.com

553 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *