Memberdayakan Masyarakat dengan Minyak Jelantah

Jakarta – Menjelang pukul tiga sore di sebuah pusat perbelanjaan modern di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, tampak segerombol pemuda tengah asik kongkow sambil menyeruput es cokelat sambil sesekali mengicip donat. Layaknya pemuda masa kini mereka larut dalam obrolan yang terkadang menyentil kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Namun siapa sangka ke enam pemuda yang masih duduk di bangku perkuliahan tersebut adalah penyabet gelar Ideafest 2016 dengan karyanya yang mampu membantu ketahanan energi nasional.

Ialah Achmad Fauzy Ashari, Jonathan Akbar, Fauzy Ihza, Rian Hakim, Ahmad Sahwawi dan Andy Hilmi Muttawakil yang pada hari minggu lalu (25/09/2016) kejatuhan bulan berkat ide kreatifnya “menyulap” limbah minyak goreng atau minyak jelantah menjadi bahan bakar diesel.

Achmad Fauzy Ashari Direktur Pemasaran dan Humas CV. Garuda Energi Nusantara Oil (GEN Oil) kepada KBK mengatakan, awal ide pembuatan bahan bakar biodiesel tersebut bermula dari keprihatinan mereka sebagai mahasiswa melihat krisis bahan bakar di kota Makassar yang terjadi pada tahun 2011dimana kala itu terjadi antrian panjang mobil dan truk jelang SPBU.

“Waktu itu banyak mahasiswa turun demo kejalan. Kami berfikir kalau mengkritik terus kapan ada solusinya. Dari situ Andy Hilmi yang sekarang menjadi Dirut CV GEN Oil melakukan suatu penelitian bagaimana membuat bahan bakar alternatif,” ucap Fauzy sambil menikmati waktu sorenya sebelum kembali ke Makassar akhir pekan ini.

Fauzy mengisahkan pada awal tahun 2012 Andy bersama Sahwawi mulai melakukan riset dan penelitian kecil-kecilan untuk membuat bahan bakar alternatif dengan bahan baku memanfaatkan minyak jelantah, tak jarang jerih payahnya menemui kegagalan karena keterbatasan dana riset.

Namun kegagalan yang Andy temui justru menjadi lecutan bagi dirinya untuk lebih berusaha keras menggali ilmu dari berbagai referensi media, literatur serta jurnal yang berkaitan dengan perminyakan. Minimnya pendanaan membuat Andy terkadang meminjam laboratorium kampus guna mendukung impiannya membuat bahan bakar biodiesel.

Ketika tahun 2013 Andy berjumpa dengan Fauzy dan kawan-kawan lainnya, mereka pun sepakat mendukung program pembuatan bahan bakar biodiesel. Untuk menunjang penelitian mereka secara sukarela menyisihkan uang sakunya. Setelah 2 tahun berjibaku melakukan riset akhirnya Andy dan kawan-kawan berhasil memproduksi biodiesel pada akhir tahun 2014.

“Pada 2014 kami pun membuat pilot project dengan kapasitas mesin produksi 30 liter biodiesel per hari,” jelas pria kelahiran Maros 17 Juli 1994 silam itu.

Guna mendorong hasil penelitian, memasuki awal 2015 lagi-lagi Andy bersama kawan-kawan lainnya harus rela menggadaikan harta benda mereka seperti sepeda motor, mobil dan tanah hingga terkumpul modal sebesar Rp 300 juta. Mereka percaya bahwa perubahan itu membutuhkan pengorbanan besar.

Modal tersebut lantas digunakan untuk mendirikan CV dan pabrik produksi dibilangan Daya, Makassar, Sulawesi Selatan, dengan kapasitas 4 ibu liter per hari. Fauzy berujar guna memangkas pengeluaran seluruh proses pendirian pabrik dikerjakan oleh teman-teman GEN Oil termasuk dalam rancang bangun, mengelas, memotong hingga menggerinda.

Kerja keras GEN Oil selama 6 bulan membangun pabrik berbuah manis, mereka dilirik oleh Sosial Enterpenuer Academy (SEA) Dompet Dhuafa sebagai mitra usaha dampingan dan diberikan suntikan dana serta pemberdayaan.

Bagi Andy dan Fauzy pendampingan yang diberikan Dompet Duafa sangat bermanfaat karena ia dapat memberdayakan mantan preman sebagai pegawai lepas pengumpul bahan baku pembuatan biodiesel yakni minyak jelantah.

“Cara kami memiliki dampak sosial positif karena mampu memberdayakan mantan preman. Karena mantan preman ini setelah keluar dari lapas tidak memiliki keahlian khusus yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Meski ini langkah kecil tapi Insa Allah konsisten dan tetap masif,” jelas mahasiswa fakultas ekonomi jurusan manajemen Universitas Hasanudin Makassar itu.

Dengan merangkul 10 kelompok mantan preman, secara perlahan tapi pasti GEN Oil mulai mengedukasi masyarakat Kota Makassar menyoal penggunaan minyak jelantah sangat berbahaya bagi kesehatan. Usahanya pun turut membantu para mantan preman  memperoleh minyak jelantah dari restoran, mall dan cafe seharga Rp 2 ribu per liter.

Sebagai bagian dari program pemberdayaan, GEN Oil juga memberikan modal kerja kepada para mantan preman sebagai modal usaha untuk membeli minyak jelantah. Namun tak jarang juga para mantan preman mendapatan minyak jelantah secara cuma-cuma.

“kalau ada suplay 1000 liter minyak jelantah per hari, kami beri modal kerja sekitar Rp 2 – 3 juta per kelompok. Margin yang bisa mereka dapatkan sekitar lima ratus sampai seribu rupiah per liter. jadi potensi penghasilannya  1 bulan bisa capai  sepuluh sampai tiga puluh juta, tinggal dibagi rata saja dengan para anggota,” jelas Fauzy bersemangat.

Diluar itu aksi edukasi  GEN Oil ternyata mampu “mengamankan” 30 ribu liter minyak jelantah per bulan. Lantas ditangan GEN Oil dalam waktu sekejab ke-30 ribu liter minyak jelantah tersebut berubah menjadi biodiesel dengan perbandingan 1:1. Limbahnya pun menurut Fauzy berupa gliserol yang dapat dijual kembali karena merupakan bahan dasar pembuatan sabun mandi.

Fauzy menegaskan prospek dan peluang memproduksi biodiesel begitu besar, sebab di kota Makassar sendiri masih memiliki potensi minyak jelantah sebesar 576 ribu liter per bulan.

Menurut Fauzy dampak sosial lainnya dari pembuatan energi biodiesel tersebut adalah memberikan imbas positif terhadap pengecer minyak dan nelayan yang kerap tidak kebagian jatah solar subsidi akibat minimnya pasokan dari pusat.

“Kami jual ke pengecer enam ribu lalu pengecer jual ke nelayan enam ribu lima ratus. Adanya GEN Oil di nelayan, kami secara langsung telah menyelesaikan masalah pembatasan kuota BBM. Di pelabuhan Pautere Makassar itu permintaan solar sebesar 21 ton sementara pemerintah hanya sanggup sediakan 16 ton. Masih ada 5 ton yang belum terpenuhi,  nelayan kerap membeli solar dari mafia sehingga harganya maha. Disini GEN Oil berperan menutup itu,” tegas Fauzy.

Tak berhenti disitu, selain memberikan dampak sosial positif,  penggunaan biodiesel juga dapat menghemat pemakaian bahan bakar hingga 20 %, membuat mesin lebih bertenaga dan gas pembuangannya lebih ramah lingkungan. Kini produk GEN Oil telah mengantongi sertifikat kelayakan dari Sucofindo sejak awal 2016 lalu.

Dengan segudang keunggulannya, maka tak heran bila GEN Oil menyabet gelar sebagai juara umum Ideafest 2016 yang dipelopori oleh British Council. Menurut Fauzy salah satu hal yang membuat GEN Oil menang ialah karena dampak sosial positif yang sangat besar terhadap masyarakat.

“Padahal kami secara tidak sengaja mendaftarkan GEN Oil ikut kompetisi Ideafest, tapi tanpa disangka lolos seratus besar lalu lima besar dan keluar sebagai pemenang,” tutur Fauzy yang berhak memboyong hadiah uang tunai seratus juta rupiah lengkap dengan paket tour ke Inggris bersama 6 orang kawannya.

Jelang akhir tahun 2016 GEN Oil telah sanggup memproduksi sebanyak 30 ribu liter biodiesel per bulan namun menurut Fauzy kapasitasnya masih bisa digenjot hingga 120 ribu liter jika suplai bahan bakunya mencukupi.

Sebagai pengembangan kedepanya GEN Oil berencana ingin mengolah limbah kelapa sawit sebagai bahan baku utama pembuatan biodiesel, langkah tersebut dikatakan Fauzy dapat memberdayakan petani sawit yang berada di desa.

“Jadi untuk menjaga ketahanan energi nasional kami ingin menggunakan segala potensi sumber daya. Kalau minyak jelantah itu kan potensi dari perkotaan, nah kami juga ingin menggali potensi daerah dengan mengolah buah sawit yang busuk. Dari sini saya yakin dapat memberdayakan petani sawit karena mereka pasti diuntungkan,” Kata Fauzy optimis.

Sumber: kbknews.id

976 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *