Memproduksi Setrum dari Kebun Sawit

Pelalawan – Langkah Asian Agri patut dipuji. Di tengah krisis listrik, perusahaan kelapa sawit terintegrasi ini bisa berswasembada setrum untuk unit usaha sendiri. Bahkan, sisa produksi listrik bisa dinikmati masyarakat luas.

Setrum itu dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga biogas. Salah satunya berdiri tak jauh dari pabrik pengolahan kelapa sawit milik Asian Agri di Buatan I, Pelalawan, Riau. Pembangkit ini digerakkan dengan cara mengolah limbah cair sawit (POME) untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi listrik.

Manajer Pabrik Kelapa Sawit Buatan I Parnel Saragih menjelaskan, pembangkit yang berdiri tahun 2015 itu menggunakan teknologi digester tank dari Negeri Sakura. Prosesnya menggunakan ‘an aerobic membrane tank’ yang berfungsi mempercepat dan memaksimalkan proses pembentukan gas metan.

Di digester tank, gas metan diproses lewat fermentasi oleh bakteri termofilic. Jika selama ini gas metan itu terbuang percuma ke udara dan mencemari lingkungan, kini mendatangkan manfaat. “Dibandingkan gas lain, gas metan lebih jahat terhadap ozon,” kata Parnel saat ditemui Metrotvnews.comakhir pekan lalu.

Siang-malam pembangkit ini menggerakkan mesin pabrik pengolahan kelapa sawit, memasok kebutuhan setrum operasional, fasilitas umum dan fasilitas khusus. Kebutuhannya kira-kira hanya 700 kilowatt dari produksi 1,2 megawatt.

Sisanya sebesar 500 kilowatt bisa dimanfaatkan masyarakat. Menurut Direktur Asian Agri Freddy Widjaya, tahun depan setrum sisa produksi pembangkit itu dijual ke PLN. Pihaknya masih bernegosiasi harga yang cocok.

Tahun depan, kapasitas pembangkit diperbesar jadi 2 megawatt. Saat ini, kata Freddy, baru 5 dari 20 pabrik pengolahan kepala sawit Asian Agri yang dilengkapi pembangkit listrik tenaga biogas. Tahun 2020 semua pabrik ada pembangkitnya.

Menurut hitung-hitungan Freddy, jika satu rumah sederhana memerlukan setrum 900 watt, satu pembangkit bisa mengaliri listrik 550-an rumah. Lima pembangkit berarti 2.750 rumah. Itu hanya dari listrik sisa yang tidak dipakai.

Satu pembangkit listrik tenaga biogas membutuhkan investasi sekitar Rp60 miliar. Meskipun besar, penghematan yang tercipta tidak kecil. Parnel memerinci, untuk menggerakkan pabrik berkapasitas 60 ton tandan buah segar per jam itu membutuhkan 15 ribu liter solar per bulan, setara Rp1,4 miliar per tahun.

Itu baru dari pengeluaran solar. Belum yang lain. Tentu yang tak ternilai adalah terawatnya lingkungan karena gas metan diubah jadi listrik. “Hitung-hitungan kami bisa balik modal dalam waktu 4,5 tahun,” kata Freddy menimpali.

Sebelum ada pembangkit, POME hanya dimanfaatkan untuk land aplication yang berfungsi sebagai pupuk bagi tanaman sawit. Dengan teknologi terbarukan ini terbuka peluang untuk memperoleh manfaat lebih dari POME itu. Selain menekan emisi gas metana ke atmosfir, limbah sisa akhir proses produksi biogas yang sudah tidak ada gasnya juga dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.(DOR)

Sumber: metrotvnews.com

389 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *