Mendag Senegal Undang RI Investasi di Industri Kelapa Sawit

Jakarta -Senegal membutuhkan lebih dari 50.000 ton kelapa sawit per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Indonesia diharapkan bisa masuk untuk berinvestasi membangun instalasi penyulingan.

Permintaan itu disampaikan oleh Menteri Perdagangan, Sektor Informal, Konsumsi dan Promosi Produk Lokal dan UKM Senegal Alioune Sarr sebagaimana disampaikan Dubes RI untuk Senegal Mansyur Pangeran kepadadetikFinance, Minggu (10/7/2016).

Mansyur mengutip Menteri Alioune Sarr setelah pertemuan mengatakan bahwa saat ini salah satu industri yang dibutuhkan Senegal adalah industri penyulingan minyak kelapa sawit.

“Senegal memiliki kebutuhan minyak sawit lebih dari 50.000 ton per tahun, yang seluruhnya diimpor, termasuk dari Indonesia,” ujar Mansyur.

Dalam pertemuan, Menteri Senegal didampingi oleh Sekjen dan Penasihat Ekonomi Kementerian. Pertemuan dilakukan dalam rangka menjajaki peluang kerja sama untuk meningkatkan hubungan bilateral di bidang ekonomi, termasuk sektor perdagangan dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Dubes menyampaikan bahwa hubungan dan kerja sama ekonomi kedua negara memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan.

“Selain latar belakang hubungan bilateral yang sudah berjalan baik, juga aktivitas ekspor-impor oleh pengusaha kedua negara cukup intens,” terangnya.

Sebagai contoh, Indonesia mengekspor ke Senegal, antara lain, produk kelapa sawit beserta turunannya, tekstil, furnitur, deterjen dan produk makanan minuman. Sebaliknya Senegal mengekspor ke Indonesia kacang tanah, kacang mete, kapas dan ikan beku.

Menteri Alioune Sarr dalam tanggapannya menyampaikan bahwa Senegal sebagai anggota Economic Community of West African States (ECOWAS) merupakan pasar potensial bagi Indonesia, mencakup total jumlah penduduk lebih dari 335 juta orang di kawasan.

Menurut Sarr, Senegal kini sedang membangun kawasan industri di Diamniadio dan berharap Indonesia dapat memanfaatkan peluang. Selain penyulingan kelapa sawit, sektor lain yang ditawarkan adalah pertambangan, antara lain fosfat, titanium, platinum dan bijih besi.

Selain itu Sarr meminta agar dilakukan kerja sama di sektor UKM yang sedang berkembang pesat, karena dia menilai sektor UKM Indonesia sudah lebih maju dibandingkan dengan di negaranya.

“Kerja sama tersebut dapat berupa pemberian pengembangan kapasitas dan berbagi pengalaman terbaik dalam membangun sektor UKM,” paparnya.

Kedua pihak sepakat kerja sama antara pengusaha kedua negara perlu ditingkatkan dengan pertemuan dan berbagai kegiatan pameran dagang di kedua negara.

Dalam hal ini, Mansyur memperkenalkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-31 di Jakarta pada Oktober 2016 mendatang. Sebaliknya pemerintah Senegal berharap Indonesia berpartisipasi pada Foire Internationale de Dakar (FIDAK) ke-25 pada Desember 2016.(mkl/drk)

Sumber: detik.com

733 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *