Menyambut Saham Untuk Petani Sawit

Seiring dengan program redistribusi lahan, pemerintah tengah merampungkan proposal model kemitraan baru untuk petani dan industri sawit, yaitu dengan pola sharing atau pembagian kepemilikan pabrik kelapa sawit.

Dalam model kemitraan yang baru ini, kepemilikan lahan oleh koperasi petani akan berkurang dari sebelumnya 80% menjadi 70%. Sebaliknya, kepemilikan lahan oleh industri sawit akan meningkat dari 20% menjadi 30%. Sebagai kompensasi penurunan porsi kepemilikan lahan, koperasi petani akan memiliki saham pabrik kelapa sawit dengan skema joint venture sebesar 30%.

Model kemitraan yang baru ini disebut lebih sesuai bagi petani dan industri sawit. Nantinya, Iahan Hutan Produksi Konversi yang belum berizin akan disertifikasi oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang atas nama koperasi dan perusahaan. Sertifikat tersebut kemudian dapat dijaminkan ke bank, tetapi tidak boleh diperjualbelikan, dan hanya boleh diwariskan.

Selain itu, perusahaan sebagai “bapak angkat” petani akan dapat berperan sebagai avalis perbankan (KUR) dan pendamping operasional. KUR yang diharapkan diberikan ke petani adalah KUR Tani dengan suku bunga 5% sampai 6%.

Pemberian saham perusahaan kepada koperasi sesungguhnya bukanlah program yang sungguh-sungguh baru. Dalam pertemuan di Tapos, Bogor, pada 4 Maret 1990, Presiden Soeharto pernah “meminta” sekitar 30-an konglomerat untuk mengalihkan hingga 25% sahamnya kepada koperasi.

Kebijakan pengalihan saham perusahaan kepada koperasi itu diniatkan sebagai upaya untuk memperkuat ikatan dan sinergi antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan di sekitarnya. Jangan sampai masyarakat yang berada di sekitar perusahaan menjadi seperti tikus mati di lumbung padi, hanya merasakan polusi dari industri yang beroperasi di sekitarnya.

Sayangnya, kebijakan tersebut tidak berlangsung mulus. Seperti pepatah, hangat-hangat tahi ayam, hanya heboh di saat-saat awal peluncuran program saja, namun mengabaikan keberlangsungannya. Karena itu. apabila pemerintah hendak meluncurkan kebijakan serupa, agar lebih efektif maka beberapa hal penting berikut ini perlu diperhatikan.

Pertama, penyertaan koperasi petani dalam kepemilikan saham perusahaan kelapa sawit ini jangan sampai hanya sekadar upaya meredam suara-suara kritis yang menentang industri kelapa sawit. Seperti kita tahu, saat ini tidak sedikit pihak yang menuntut dilakukannya moratoriunr pembukaan hutan untuk industri sawit karena dianggap menjadi penyebab deforestasi dan kerusakan lingkungan.

Kepemilikan persentase saham oleh koperasi petani yang terus meningkat diharapkan dapat lebih mempengaruhi pembuatan kebijakan dalam pengelolaan industri sawit dari hulu hingga hilir dan tidak terjebak untuk merengkuh sebanyak-banyaknya keuntungan saat ini, namun benar-benar memperhatikan aspek kelestarian (sustainability) sumber daya yang ada.

Hal ini sejalan dengan konsep green development, yakni konsep pembangunan yang menekankan kebijakan politik deliberatif, adopsi teknologi ramah lingkungan, mekanisme pembangunan berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat secara menyeluruh.

Kedua, kepemilikan saham pabrik kelapa sawit oleh koperasi petani juga harus mampu meningkatkan harkat dan martabat para petani sawit. Kebijakan pabrik kelapa sawit diharapkan akan lebih memperhatikan kesejahteraan petani sawit, misalnya dengan mengubah persepsi keberadaan mereka dari sekedar faktor produksi menjadi asset penting perusahaan.

Keberhasilan peningkatan kesejahteraan para petani sawit juga secara tidak langsung akan mengurangi kesenjangan kesejahteraan di wilayah kerja industri kelapa sawit, sehingga diharapkan akan lebih menjamin terwujudnya penerimaan masyarakat terhadap keberlangsungan indsutri kelapa sawit.

Ketiga, kesempatan petani sawit untuk memperoleh kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga hanya 5% sampai 6% perlu dimanfaatkan dengan hati-hati. Kegagalan mengembalikannya dengan Iancar tidak saja akan merugikan bank penyalur KUR, namun juga bisa mempengaruhi keberlangsungan program pembagian kepemilikan saham kepada koperasi petani.

Sumber : Kontan

727 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *