Minyak Goreng Dijaga Rp 11.000/Liter

JAKARTA– Produsen minyak goreng berkomitmen menjaga harga jual minyak goreng curah kemasan sederhana selama bulan puasa hingga Lebaran di bawah Rp11.000/liter sesuai arahan pemerintah.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan, harga minyak goreng curah di tingkat pabrik selama bulan Mei lalu cenderung turun, yaitu dari rata-rata Rp9.064/ liter (periode 1-19 Mei) menjadi Rp8.888/liter (periode 20-31 Mei). Memasuki pekan pertama bulan Juni harga kembali melandai ke kisaran Rp8.844/ liter. ”Jadi kalau dibilang harga minyak goreng naik, kami tidak mengerti karena di tingkat produsen justru menurun. Kalau harga eceran di tingkat pedagang, kami tidak bisa mengontrol sampai sejauh itu,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut Sahat, dengan harga pabrik Rp8.844/liter, harga jual minyak goreng di pasar mestinya bisa dijaga pada kisaran Rp10.519/liter atau Rp11.594/kg. Hal ini berdasarkan perhitungan bahwa dari pabrik ke pedagang selisih harganya Rp762/kg, ditambah margin harga jual di pedagang sekitar Rp1.142/kg. ”Jadi, harga minyak goreng Rp10.500/liter itu harga yang masuk akal,” sebutnya. Sahat menambahkan, harga pasar yang keluar dari pabrik selalu merupakan cerminan dari harga sawit dunia. ”Saat ini harga CPO memang cenderung sedang turun,” ungkapnya.

Demi menjaga stabilitas harga minyak goreng dan mencegah pedagang mengambil margin keuntungan terlalu tinggi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengimbau pengusaha berpartisipasi dalam operasi pasar (OP) minyak goreng. Sahat menegaskan, OP minyak goreng akan digelar setelah ada permintaan resmi dari pemerintah daerah masing-masing ke perusahaan minyak goreng. Menurut Sahat, beberapa grup perusahaan minyak goreng besar seperti Asian Agri dan Musim Mas sudah melakukan OP di beberapa daerah seperti Palembang, Medan, Surabaya dan Solo.

”Pada OP harga jual minyak goreng kemasan rata-rata Rp9.700/liter. Dengan harga tersebut produsen tidak untung karena biaya angkut tidak ikut diperhitungkan,” sebutnya. Sahat menambahkan, pada masa puasa dan Lebaran tahun ini, puncak konsumsi minyak goreng pada bulan Juni diproyeksikan sebesar 622.000- 630.000 ton. Untuk itu, produsen meningkatkan produksi minyak goreng curah menjadi 680.000 ton dari rata-rata produksi periode Januari-April 2016 sebanyak 550.000 ton per bulan.

Secara umum penjualan minyak goreng pada Juni ini meningkat 14% dibanding ratarata penjualan bulanan periode Januari-Mei 2016. Angka tersebut hampir mirip dengan peningkatan kebutuhan yang terjadi pada Lebaran tahun 2015, yaitu terjadi kenaikan 16% dibandingkan dengan harga normal. ”Kalau jelang Lebaran tahun lalu peningkatannya 16%. Artinya, memang kenaikan tahun ini lebih lemah dari tahun lalu. Penyebabnya karena faktor ekonomi seperti daya beli yang menurun,” ungkapnya.

Saat ini sejumlah pihak sedang giat dalam melakukan operasi pasar, seperti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya yang menggelar operasi pasar di 20 titik lokasi pada 4 Juni-17 Juli 2016.

Dalam operasi pasar tersebut, barang yang bakal dijual antara lain daging sapi, ayam, bawang merah, cabai merah, telur ayam, dan minyak goreng. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, pasokan minyak goreng untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran 2016 mencukupi sehingga tidak ada alasan terjadi kenaikan harga.

Inda susanti

Sumber: Koran-Sindo.com

1,162 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *