Mungkinkah Riau Tanpa Sawit? Ini Kata Peneliti

PEKANBARU – Kelapa sawit sebagai komoditi unggulan perkebunan di Provinsi Riau memiliki dampak ekonomi ganda yang dapat menyejahterakan seluruh kalangan masyarakat hingga tingkat pedesaan. Sehingga akan terasa sulit jika primadona perkebunan yang menjadi penopang perekonomian masyarakat Riau itu harus digeser dengan sektor lain.

“Sawit memang terbukti menjadi penopang perekonomian semua lini masyarakat. Makanya Bank Indonesia mau-mau saja mendanai replanting sawit karena tidak akan rugi kalau melakukan peremajaan sektor penopang perekonomian,” kata Peneliti dan Pengamat Ekonomi Pedesaan Universitas Riau, Prof Dr Almasdi Syahza SE MP saat menjadi narasumber dalam dialog Mungkinkah Riau Tanpa Sawit yang ditaja oleh Insan Jurnalis Riau (Injuri) di Hotel Premiere Pekanbaru, Selasa (21/3/2017) siang.

Menurut hasil penelitiannya, Prof Dr Almasdi Syahza SE MP ini pun mengunggkap bahwa indeks kesejahteraan masyarakat pedesaan Riau sejak 1995 hingga 2015 terus meningkat. Yang mana, target pendapatan masyarakat level petani sawit saja pada 2015 sudah mencapai US$4.630 sampai US$5.500 per tahun dari perkiraan US$2.000.

“Di desa, mereka nggak mau lagi disebut petani tapi pekebun karena pendapatannya sudah mencapai US$4.630 lebih. Sudah bisa membayar orang untuk memanen dan semacemnya. Mereka akan susah ketika tanpa sawit,” urainya.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Dr Ir Ricky Avenzora MScF yang menyatakan bahwa industri sawit pantas untuk dilindungi dan dikembangkan, bukan malah dipinggirkan dan justru diganti dengan komoditi ataupun sektor lain.

“Kita penghasil sawit nomor satu di Indonesia dengan lahannya yang berjuta-juta hektare tetapi pemerintah sepertinya tidak senang. Di daerah lain punya satu juta hektare saja senangnya luar biasa,” kata Ricky.

Sementara itu, diungkapkan oleh Irwan Mulawarman, Deputi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Riau bahwa 39,31 persen produk domestik regional bruto (PDRB) atau struktur ekonomi Riau ditopang dari sektor pertanian termasuk didalamnya perkebunan sawit, industri pengolahan dan produk turunannya.

Berdasarkan data yang dimilikinya Riau memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 2.424.544 hektare yang menghasilkan 7.841.947 ton. Sementara perkebunan kelapa hanya terdapat seluas 514.167 hektare yang menghasilkan 321.465 ton, namun tetap nomor satu di Indonesia.

Kemudian, perkebunan karet seluas 501.787 hektare mampu menghasilkan 374.900 ton dan peringkat empat nasional. Terakhir ada perkebunan sagu seluas 83.691 hektare yang menghasilkan 366.032 ton yang merupakan penghasil nomor satu di Indonesia.

“Dengan adanya hilirisasi komoditas kelapa sawit dan perkebunan lainnya tersebut maka nilai tambah yang dihasilkan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kelanjutan,” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini hasil kelapa sawit Riau hanya dikirim ke luar sebagai bahan mentah. Padahal di Malaysia saja, kata Irwan, sudah ada 120 turunan produk sawit yang memberikan nilai tambah tinggi. Sementara di Indonesia, hilirisasi sawit baru dikembangkan sebanyak 20 produk.

“Kita cuma menghasilkan mentahnya. Di Malaysia sudah diolah sendiri menjadi bermacam-macam, sudah ada 120 turunan produk kelapa sawitnya. Ini harus menjadi perhatian serius,” pungkasnya. ***

Sumber : goriau.com

790 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *