November, Ekspor Naik Tajam hingga 21,3%

Jakarta – Indonesia membukukan nilai ekspor US$ 13,49 miliar pada November 2016, naik cukup tajam hingga 21,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 11,12 miliar. Sedangkan untuk periode Januari-November 2016, nilai ekspor turun 5,63% menjadi US$ 130,65 miliar, dari periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 138,45 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Bada Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, peningkatan ekspor tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2015. BPS mencatat, terdapat pola kenaikan ekspor secara konsisten sedikit demi sedikit tiap bulan sejak Januari 2016.

“Tren ini bagus. Dari berbagai proyeksi oleh pemerintah dan BI tampaknya mengarah lebih baik ekspornya meski masih moderat. Artinya, kita harus mencari cara untuk mempercepat. Selain mengandalkan komoditas ekspor tradisional, kita harus mengandalkan komoditas lainnya khususnya yang unik dan kreatif,” kata Sasmito dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (15/12).

Kenaikan ekspor tersebut didorong oleh meningkatnya ekspor lemak dan minyak hewan nabati mencapai US$ 366,1 juta atau mencapai 20,37%, diikuti bahan bakar mineral US$ 141,6 juta yang naik 10,04% dan perhiasan permata sebesar US$ 87,3 juta yang bertambah 26,84%.

“CPO dan turunannya mendorong kenaikan ekspor. Kenaikan tersebut disebabkan volume yang meningkat meskipun harga sedikit menurun,” kata Sasmito.

Ekspor nonmigas ke Tiongkok merupakan yang terbesar yakni mencapai US$ 1,81 miliar, diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$ 1,33 miliar dan Jepang sebesar US$ 1,30 miliar. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 35,84% dari total ekspor Indonesia.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada periode yang sama turun 0,28% dibanding tahun sebelumnya. Ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,75%, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 10,48%.

Berdasarkan provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-November 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 23,43 miliar atau 17,93%, diikuti Jawa Timur US$ 16,91 miliar atau 12,94% dan Kalimantan Timur US$ 12,57 miliar atau 9,62%.

Dengan nilai impor pada November 2016 mencapai US$ 12,66 miliar—naik 10% dibandingkan Oktober 2016—, neraca perdagangan Indonesia pada November 2016 tercatat surplus sebesar US$ 837 juta. Sedangan secara kumulatif Januari-November 2016, nilai impor mencapai US$ 122,86 miliar atau turun 5,94%, sehingga neraca perdagangan surplus US$ 7,79 miliar.

Sasmito menjelaskan, nilai ekspor dan impor yang secara tahunan masih mengalami kontraksi itu lantaran perekonomian global yang belum stabil dan harga komoditas di pasaran global yang juga belum sepenuhnya pulih.

Pada periode Januari-November 2016, Indonesia mengalami surplus perdagangan dengan AS sebesar US$ 7,7 miliar, India US$ 6,5 miliar, dan Belanda US$ 2,2 miliar. Surplus perdagangan dengan AS lantaran kinerja ekspor yang relatif membaik seperti karet dan produk turunannya, udang dan produk sejenis.

Di sisi lain, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok US$ 12,28 miliar, Thailand US$ 3,26 miliar, dan Australia US$ 1,13 miliar. Defisit dengan Tiongkok US$ 14,3 miliar lantaran Indonesia terlalu banyak mengimpor mesin/pesawat mekanik dan mesin/peralatan listrik, besi dan baja serta plastik dan barang plastik US$ 942 juta.

Harga Komoditas

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan, beberapa indikator ekonomi pada kuartal terakhir memang menunjukkan bahwa komoditas membaik dari sisi harga, meski dari sisi volume perdagangan masih harus berhati-hati. Ekspor pada kuartal IV-2016, menurut dia, sudah tidak lagi berada di teritori negatif bahkan beberapa sektor seperti pertambangan mulai positif.

Namun, terkait normalisasi kebijakan moneter The Fed, menurut did, itu akan mempengaruhi dari sisi sentimen capital flow dari negara-negara lain. Pengalaman 2013 menunjnukan adanya reaksi berlebih lantaran belum ada komuniksi secara jelas. Saat ini dengan adanya komunikasi secara lebih jelas bahwa Fed fuds rate (FFR) akan naik tiga kali tahun depan, pelaku pasar dunia sudah mencerna dengan baik.

Sumber : Investor Daily

556 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *