Pasar RI Terancam Direbut Malaysia

JAKARTA – Pasar minyak sawit Indonesia di Pakistan terancam diambil alih-oleh produk sejenis asal Malaysia karena negara dengan Ibu Kota Islamabad itu mengeluhkan defisit perdagangan dengan Indonesia yang cukup lebar. Pakistan mengklaim telah membuka lebar pasar mereka untuk produk-produk pertanian asal Indonesia. Namun pemerintah Indonesia memproteksi secara ketat pasar dalam negeri untuk menampung produk asal pakistan.

Ketua Umum Gabungan pengusaha Kelapa Sawit [Gapki] Joko Supriyono menyampaikan, pemerintah dapat menindaklanjuti usulan Pakistan tersebut sehingga ekspor produk-produk Indonesia yang selama ini sudah berjalan, termasuk CPO, tidak terganggu. “Jangan sampai Pakistan mengurangi konsumsi minyak sawit dan turunannva dari Indonesia karena akan membuka peluang bagi Malaysia untuk menjual minyak sawit yang lebih besar ke sana,” katanya melalui keterangan resmi, Rabu (25/1).

Menurutnya, Indonesia perlu memerhatikan aspek keseimbangan dalam perdagangan bilateral antar kedua negara. Dia menyebut pakistan merupakan pasar minyak sawit yang sangat prospektif dengan permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus meningkat setiap tahun. Ketua Kamar Dagang dan Industri Pakistan Zubair Tufail dalam paparannya pada Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) menyampaikan, negaranya berharap agar Indonesia dapat telih membuka pasar untuk dapat mencapai keseimbangan negara perdagangan bilateral dengan kedua negara.

“Saat ini Pakistan masih mencatat defisit neraca perdagangan yang sangat besar dengan lndonesia. Selain dengan Indonesia, dalam waktu dekat kami juga ingin segera mencapai keseimbangan neraca perdagangan dengan Malaysia,” jelas Tufail.

Dia menegaskan, pakistan adalah salah satu pasar minyak nabati terbesar di dunia. Selain minyak sawit yang diimpor dari Indonesia dan Malaysia, Pakistan juga membeli minyak kedelai dari Amerika Utara dan Brasil. Menurut data dari Badan pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$2,2 miliar pada 2016 yang didominasi CPO US$1,8 miliar. Sementara itu, Indonesia hanya membeli produk-produk dari pakistan senilai US$140 juta. Tufail juga mengajak para pengusaha Indonesia untuk berinvestasi membangun industri pengolahan minyak sawit di Pakistan.

Sumber : Bisnis Indonesia

2,700 total views, 8 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *