Pasca Idul Fitri, Sawit Petani Lancar Masuk PKS

Medan – Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik petani sempat tertahan masuk pabrik kelapa sawit (PKS) ketika memasuki libur Lebaran. Namun kini hal tersebut tidak terjadi lagi dan TBS petani sudah lancar masuk PKS.

“Tidak ada penumpukan, semuanya lancar. Petani juga tidak ada yang mengeluhkan jika TBS-nya tidak bisa masuk PKS,” kata Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, Senin (11/7) di Medan.

Sebenarnya, kata dia, adanya sejumlah TBS yang tidak diterima PKS, karena pabrik tersebut sudah libur menjelang perayaan Idul Fitri. Sehingga petani biasanya tidak panen agar TBS-nya tidak tertumpuk.

Hal ini, menurut Asmar, sudah terjadi setiap perayaan Lebaran sehingga diantisipasi agar petani tidak rugi. Untuk harga TBS, masih menggunakan harga pekan lalu yakni Rp 1.740 per kg. Harga ini naik dibandingkan pekan kedua bulan Juni 2016 sekitar Rp 1.516 per kg. Bahkan jauh dibandingkan bulan Mei yang berkisar Rp 1.200 hingga Rp 1.300 per kg. Harga TBS baru akan dibuka pada Rabu (13/7).

“Kami berharap akan semakin baik. Tren-nya sangat positif saat ini. Harga Rp 1.740 per kg sebenarnya sudah bagus. Namun tetap diharapkan bisa lebih tinggi,” kata Asmar.

Tren kenaikan harga TBS, jelas Asmar, merupakan dampak dari permintaan untuk biodiesel. Diakuinya, komitmen pemerintah dalam menggenjot program biodiesel memang menjadi angin segar bagi petani setelah ekspor terus melorot.
Selain untuk biodiesel di sejumlah tempat, TBS juga digunakan untuk produksi minyak curah. Sehingga serapan dalam negeri semakin tinggi.

Namun, harga TBS kemungkinan akan turun pekan ini. Karena pada perdagangan hari ini, harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) berkisar RM 2.244 per ton. Jauh lebih murah dibandingkan dengan tanggal 1 Juli 2016 yang sempat RM 2.359 per ton.

Turunnya harga CPO memang dikhawatirkan akan membuat harga TBS anjlok. Terlebih lagi, belum terlihat secara meyakinkan sejumlah faktor eksternal yang bisa mendongkrak pulihnya harga komoditas CPO.

“Selama perkembangan perekonomian global masih melandai atau bahkan memburuk, harga komoditas termasuk CPO justru masih berpeluang terkoreksi. Tren kenaikan pada kinerja indeks harga sejumlah komoditas dunia diperkirakan tidak akan bertahan lama. Masih ada ketidakpastian yang menghantui setidaknya hingga 2018 mendatang,” kata pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin. (elvidaris simamora)

Sumber: MedanBisnisDaily.com

 

668 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *