Pengembangan Kebun Sawit Tak Sebabkan Deforestasi

JAKARTA – Kalangan akademisi menyatakan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit di lndonesia bukanlah penyebab terjadinya deforestasi diTanah Air. Pengembangan komoditas tersebut justru telah membawa keuntungan bagi lndonesia, dengan areal kebun tidak lebih dari 4% dari total luasan lahan nasional, nilai ekspor sawit justru mencapai US$ 20 miliar setiap tahunnya.

Peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Chairil A Siregar mengatakan, kebun kelapa sawit di Indonesia sebagian besar berada di kawasan hutan terdegradasi yang dapat menyimpan stok karbon lebih tinggi dari kacang kedelai. “Katanya, kelapa sawit menyebabkan deforestasi. Nyatanya, kelapa sawit merupakan tanaman yang paling efisien menggunakan air. Kelapa sawit tidak menimbulkan deforestasi,” kata Chairil saat diskusi terbatas tentang Benarkah Sawit Penyebab Deforestasi di Jakarta, Jumat (31/3).

Dia mengungkapkan, laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 1,7% per tahun yang kemudian memicu meningkatnya kebutuhan lahan untuk permukiman, pertanian, perkebunan, dan industri. Hutan dan pertanian sering mengalami tarik-menarik dalam proses pembangunan nasional yang dihadapkan pada pilihan fungsi produksi dan fungsi konservasi. Sementara itu, pada 2008, seluas 43,6 juta hektar (ha) hutan di Indonesia dilaporkan sebagai kawasan hutan terdegradasi yang secara rasional dapat dimanfaatkan untuk ekspansi lahan pertanian, perkebunan kelapa sawit, permukiman, maupun kawasan industri.

Chairil memaparkan, mengacu Permenhut P.14/Menhut-Il/2004, hutan adalah areal dengan luas atau lebih dari 0,25 hektar (ha) dengan tutupan sekitar atau lebih dari 30% dengan tinggi tanaman sekitar atau lebih dari 5 meter. Pada 2013, lndonesia telah mengajukan definisi yang sama atas hutan. Dengan demikian, kelapa sawit bisa memenuhi kriteria sebagai tanaman hutan. “Karena itu, pemerintah perlu mereorientasi pemanfaatan kawasan hutan yang terdegradasi demi produktivitas lahan yang lebih baik dan sekaligus mengakomodasi pertumbuhan peduduk,” kata Chairil.

Di sisi lain, Chairil mengkritisi tudingan deforestasi yang dialamatkan kepada kelapa sawit. Apabila memang benar adanya tuduhan bahwa 4% produksi sawit berasal dari hutan, hal itu bukanlah hal yang besar. Karena selama ini pemerintah memang tidak hadir untuk mengurus hutan. Padahal, luas daratan tidak bertambah dan jumlah penduduklah yang bertambah. “Kementerian LHK selalu ribut kalau soal hutan. Tapi, mereka tidak peduli kalau Kalimantan itu masih hutan atau tidak?” kata Chairil.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Supiandi Sabiham mengatakan, deforestasi mulai terjadi sebelum 1960-an dan mencapai puncaknya pada 1980-1990, yakni saat transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) berkembang pesat. “Tidak tepat bila deforestasi yang terjadi di Indonesia adalah karena pengembangan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Riau dan Kalimantan Barat, yang banyak mengembangkan sawit di lahan gambut, mengkonversi hutan primer kurang dari 1%,” kata Supiandi.

Anggota Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso menambahkan, deforestasi menjadi tidak jelas karena tata ruang yang belum seluruhnya selesai, sementara pembukaan lahan terus berjalan. Sebagai negara yang masih membangun, Indonesia tentu masih akan terus melakukan pembukaan lahan lahan baru. “Kelapa sawit itu secara teoritis merupakan kegiatan di luar kawasan hutan. Dengan begitu, bisa saja yang terjadi adalah pembangunan kebun atau Planned deforestation. Wilayah yang secaratata ruang dialokasikan untuk areal penggunaan lain (APL), kemudian masih berhutan, kemudian dibangun untuk menanam kelapa sawit,” kata Petrus.

Sumber : Investor Daily

2,340 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *