Penggunaan Kolam Limbah di Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Limbah cair merupakan salah satu residu dalam proses pengolahan buah sawit pada Pabrik Kelapa Sawit. Penggunaan kolam limbah, merupakan sarana dalam proses pengolahan limbah cair.

Pabrik Minyak Kelapa Sawit merupakan industri yang sarat dengan residu pengolahan. PMKS hanya menghasilkan 25-30% produk utama berupa 20-23% CPO dan 5-7% inti sawit kernel.Sementara sisanya sebanyak 70-75% adalah residu hasil pengolahan berupa limbah.Berdasarkan mutu limbah tersebut, setiap PKS wajib mengelola limbah cair tersebut.

Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003, parameter dominan yang ada pada limbah domestik antara lain adalah BOD, TSS pH, minyak dan lemak.

Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat Dan Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Limbah Cair dari Industri Minyak Sawit pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit dalam pasal 3 dijelaskan syarat – syarat penggunaan limbah sebagai pengganti pupuk mineral pada lahan aplikasi yaitu:

  • BOD tidak boleh melebihi 5000 ppm,
  • Nilai pH LCPKS berkisar 6-9,
  • Dilakukan pada lahan selain lahan gambut,
  • Dilakukan pada lahan dengan permeabilitas 1,5 – 15 cm/jam (daya serap tanah),
  • Tidak boleh diaplikasikan pada lahan dengan kedalaman air tanah kurang dari 2 meter,
  • Pembuatan sumur pantau.

Limbah cair yang dihasilkan pengolahan kelapa sawit sebanyak 120 m3/hari s 30 ton/jam dengan volume LCPKS 600 m3/hari yang berasal dari air drain (cairan buangan dari hasil pengolahan), air kondensat (air hasil perebusan TBS di perebusan), air cucian pabrik (air hasil pembersihan didalam pabrik), air hydrocyclone atau claybath (cairan hasil pemisahan antara cangkang dan kernel pada stasiun kernel di PKS) dan sebagainya. Dengan jumlah air limbah yang diproduksi tergantung pada sistem pengolahan, kapasitas olah, dan keadaan peralatan klarifikasi. (Naibaho, 1998).

Menurut Febijanto (2010), BOD yang dihasilkan dari hasil pengolahan di kolam anaerobic hingga mencapai 5000 mg/l membutuhkan waktu perombakan (Retention Time) selama 60 hari. Sehingga volume yang dibutuhkan untuk perombakan anaerobic yaitu dengan rumus.

Total Suspended Solid (TSS) adalah semua zat padat atau partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik (pasir, lumpur, dan tanah liat). Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Tarigan, 2003).

Sumber: infosawit.com

1,268 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *