Pengusaha Sawit Minta Moratorium Izin di Lahan Gambut Dicabut

Kuching -Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meminta pemerintah mencabut penghentian sementara (moratorium) izin perkebunan di lahan gambut, yang sudah diberlakukan sejak 2011 lalu.

Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, berpendapat moratorium itu tidak perlu karena perkebunan sawit sebenarnya tidak merusak lahan gambut apabila dikelola dengan baik.

Joko juga menampik tudingan perkebunan kelapa sawit adalah salah satu penyebab kebakaran lahan gambut saat musim kemarau. Sebagian besar kebakaran gambut justru terjadi di areal moratorium.

Sebab, areal moratorium tidak dikelola dan diawasi dengan baik. Lahan gambut yang menjadi areal perkebunan sawit justru lebih minim kebakarannya, karena ada yang bertanggung jawab untuk mengelolanya.

“Keyword-nya adalah manajemen. Selama itu dikelola pasti akan baik. Di Indonesia, gambut ada yang diutilisasi, dan belum diutilisasi. Di Riau, 61% kebakaran gambut terjadi justru di areal moratorium. Kembali pada manajemen tadi, harusnya ada yang tanggung jawab mengelola areal itu,” ujar Joko, saat ditemui di International Peat Congress, Kuching, Malaysia, Selasa (16/8/2016).

Joko mengakui, ada juga perkebunan-perkebunan sawit di lahan gambut yang pengelolaannya kurang baik sehingga mudah terbakar. Perkebunan-perkebunan seperti itu umumnya milik petani kecil, alias perkebunan rakyat. “Masalahnya, peat (lahan gambut) itu kan ada yang di korporasi, ada yang di petani. Yang di petani kemampuannya terbatas, tidak sebagus korporasi,” paparnya.

Agar tata kelolanya bagus, Joko mengusulkan agar pembukaan perkebunan sawit di lahan gambut menggunakan sistem inti plasma, yaitu kerja sama kemitraan antara korporasi dengan petani kecil (plasma).

Korporasi sebagai pemilik konsesi akan menyerahkan 20% konsesinya kepada petani plasma. Perkebunan sawit dikelola bersama-sama agar memenuhi standar lingkungan dan hasil produksinya lebih optimal.

“Kalau ingin membudidayakan gambut untuk kelapa sawit, dan petani kecil dilibatkan, yang paling baik adalah inti plasma. Dan itu hanya ada di industri sawit. Perusahaan dapat konsesi, 20% lahan dikembangkan bareng-bareng, nanti diserahkan pada petani. Kalau sendiri-sendiri nggak mampu, hasilnya tidak maksimal,” tutupnya.

(wdl/wdl)
Sumber: Detik.com

678 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *