Perkebunan Solusi Pemanasan Global

Jakarta – Dampak pemanasan global sudah sangat nyata dirasakan khususnya untuk sektor pertanian. Saat ini pergantian musim menjadi tidak nyata.

Salah satu penyebab pemanasan global adalah tingginya gas rumah kaca, CO2, CH4 dan N2O di atmosfir yang mengganggu proses radiasi matahari. Pemerintah Indonesia dalam merespon hal tersebut telah menetapkan target bahwa pada tahun 2020 Indonesia akan mengurangi emisi hingga 26 persen dan 41 persen jika mendapatkan bantuan.

Lalu bagaimanakah dukungan sektor pertanian khususnya perkebunan untuk mewujudkan target tersebut?

Anicetus Wihardjaka, peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian mengatakan, perkebunan dapat berkontribusi pada penurunan dengan menerapkan sistem budidaya yang bisa mengurangi pelepasan gas rumah kaca ke udara atau menguranginya.

Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem pemupukan yang dapat mengurangi penguapan unsur-unsur pupuk ke udara. Strateginya dengan mengefisienkan penggunaan pupuk kimia dengan menkonversi sebagian dengan pupuk organik, atau memanfaatkan kacang-kacangan untuk menambat N sehingga mengurangi penggunaan pupuk NPK atau urea.

Selain itu gulma yang ada di kebun dapat diubah menjadi pupuk organik lalu dicampur dengan pupuk kimia sebelum ditabur. “Ini adalah cara mengurangi penguapan N2O dari pupuk dan meningkatkan daya serap pupuk di dalam tanah,” ucap Wihardjaka.

Strategi lainnya menurut Wihardjaka, yang cukup efektif diterapkan di perkebunan adalah penerapan integrasi kebun ternak. Cara ini bermanfaat untuk adaptasi dan mitigasi.

Melalui integrasi, petani tidak hanya bisa mendapatkan hasil dari kebun namun juga dari ternak. Lalu kotoran dari ternak dapat diolah menjadi sumber biogas untuk mencegah membuangan gas metan ke udara.

“Sisa kotoran tersebut kemudian diolah menjadi pupuk organik sehingga bisa mengurangi pengunaan pupuk kimia,” himbau Wihardjaka.

Melalui metoda ini, Wihardjaka “optimis dapat terjadi pengurangan gas emisi rumah kaca hingga 20 persen”.

Artinya, Wihardjaka menegaskan bahwa untuk sektor perkebunan, kontribusi penyerapan gas emisi akan sangat nyata jika areal-areal terlantar dapat ditanami dengan tanaman produktif seperti kelapa sawit, karet atau tebu. Jika dilakukan maka penyerapan gas rumah kaca akan lebih tinggi lagi.

“Hanya saja, hingga saat ini kami belum mendapatkan data pasti tentang luasan dan lokasi lahan terlantar yang bisa dimanfaatkan,” ucap Wihardjaka.

Sementara Gamal Nasir, pengamat perkebunan, mendukung pemanfaatan lahan-lahan terlantar untuk digunakan dalam kaitan penyerapan gas rumah kaca. “Ini menarik karena dapat merubah image perkebunan sebagai sumber gas rumah kaca menjadi solusi pengurangannya,” jelas Gamal.

Jadi, Gamal menyarankan alangkah baiknya jika lahan-lahan terbuka atau lahan kritis seharusnya segera dimanfaatkan dengan ditanami komoditas perkebunan.

“Pemanasan global hal yang tidak bisa kita abaikan. Sehingga menurut saya perkebunan harus mengambil bagian untuk mengatasi hal tersebut. Dan seharusnya diperhitungkan dan diakui sebagai sumber solusi terhadap pemanasan global,” pungkas Gamal. YIN

Sumber: perkebunannews.com

401 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *