Permintaan Cangkang Sawit Tinggi

JAKARTA – Kendati permintaan cangkang kelapa sawit dari luar negeri cukup tinggi, pelaku usaha sawit diminta agar tidak langsung memenuhi pasar ekspor karena dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik energi terbarukan di Tanah Air. Ekspor cangkang sawit meningkat. Jepang dan Korea Selatan membutuhkan cangkang sawit total 30 juta ton sepanjang 2017.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi ketika menghadiri kegiatan bakti sosial sebagai rangkaian Pekan Nasional Sawit Indonesia (PNSI) 2017 di Desa Singasari, Bogor, Sabtu (4/2), yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit. Balrr mengatakan, mendorong pengembang listrik swasta membenamkan investasi untuk membangun pembangkit Iistrik berbasis biomassa di Tanah Air.

“Mencontoh Jepang dan Korea, ada masa depan yang bagus [pemanfaatan cangkang sawit],” kata Bayu yang baru saja mundur sebagai Direktur Utama BPDP Kelapa Sawit per 1 Januari 2017. Jepang dan Korea Selatan mengimpor cangkang sawit dari Indonesia sebagai bahan bakar pembangkit lisrik biomassa. Sementara itu, limbah dari minyak sawit itu belum dimanfaatkan secara optimal di Tanah Air.

Rerata volume ekspor cangkang sawit lndonesia sekitar 5,1 juta-5,2 juta ton per tahun. Namun, pelaku industri sawit diminta tidak serta-merta menjual cangkang sawit kendati permintaan dari luar negeri cukup tinggi. Selain itu, Bayu mengingatkan, kalangan industri kelapa sawit diminta tidak lengah dan bergembira seiring dengan harga minyak sawit yang tinggi saat ini. Pasalnya, harga yang tinggi memiliki kecenderungan untuk jatuh nantinya.

“Jangan naik terlalu tinggi, lebih baik pada posisi rang wajar, US$700-US$750 per ton saja, tidak lebih dari itu.” Produksi minyak kelapa sawit (CPO) pada tahun lalu terpukul dampak El Nino (musim kemarau panjang) yang terjadi pada 2015. Produksi dan ekspor minyak sawit mentah pada 2016 pun turun untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir. Kalangan pelaku industri juga tak boleh lengah dengan ancaman lain yakni permintaan minyak kedelai yang bakal menyaingi permintaan CPO.

Selisih harga kedelai dan sawit yang terlalu dekat membuat daya saing berkurang. Bayu optimistis Indonesia bersiap untuk bisa menjadi negara produsen minyak sawit yang besar. Apalagi, setelah Food and Drug Administration (Badan Administrasi Obat dan Makanan AS), sebuah badan otoritas pangan rujukan dunia, mengumumkan bahwa minrak goreng sawit tidak memiliki zat berbahayat.

“Permintaan dan konsumsi minyak goreng sawit di dunia diperkirakan akan meningkat dengan pegumuman itu. Kita belum tahu pergerakannya. Namun, kita sudah melihat pesanan dari beberapa negara yang sebelumnya mengkonsumsi minyak kedelai.

Sumber : Bisnis Indonesia

2,049 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *