Petani Sawit Harus Kompak

Ujungbatu – Mengantisipasi turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  secara tidak wajar dan sepihak, masyarakat petani  harus bisa kompak. Sebab, kerap terjadi harga buah di pabrik kelapa sawit (PKS) normal, namun harga di tauke turun.

“Kita harus kompak, dan harus terus berkoordinasi dengan pemerintah. Sehingga, tauke sawit tidak sembarangan menentukan harga sawit masyarakat. Karena kalau tidak, maka yang diuntungkan malah tauke (tengkulak) yang terus bermain harga sawit,” kata Burhanuddin, warga Ujungbatu yang juga petani sawit, Senin (10/10) pagi.

Menurut Burhanuddin, harga sawit antara petani dengan di PKS sangat jauh berbeda. Perbedaanya mencapai Rp 200-300 per kilogramnya. “Jangan mentang-mentang tauke punya DO di PKS, kemudian semena-mena menentukan harga buah masyarakat. Ini  tak adil, karena yang punya lahan dan buah sawit adalah petani sawit,” jelasnya.

Selain harus kompak dengan cara untuk mempertahankan harga buah secara wajar, Burhanuddin juga berharap kepada Kepala Daerah (Bupati) atau melalui dinas terkait agar bisa tegas dan memantau harga buah sawit di PKS dan harga di masyarakat.

Burhanuddin mengharapkan agar pemerintah punya trobosan dalam hal komuditi sawit. Karena umumnya masyarakat Rokan Hulu adalah petani sawit. “Kalau bisa pemerintah melalui Perusahaan Daerah (Perusda) hendaknya bisa membuat penampungan (pembelian) TBS, sehingga masyarakat tidak terlalu dirugikan, dan pemerintah dapat  pemasukan dari pekerjaan tersebut,” harapnya.(har)

375 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *