Petani Sawit Sesalkan Kampanye Negatif Nugie Terhadap Sawit

JAKARTA – Sebagai publik figur, seorang artis hendaknya mampu lebih berhati-hati dalam bersikap maupun bertutur kata. Karena apapun yang dikatakan seorang publik figur, akan membawa dampak yang luas kepada publik.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad mengatakan, kami mewakili para petani kelapa sawit di Indonesia yang berjumlah sekitar 6 juta orang, menyesalkan pernyataan dari penyanyi Nugie, salah seorang personel The Dance Company, yang mendiskreditkan kelapa sawit Indonesia.

“Dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan WWF-Indonesia di Jakarta pekan lalu, seperti banyak dikutip media, penyanyi Nugie mengajak masyarakat ikut melestarikan lingkungan,” kata Asmar dalam siaran pers, Minggu (7/8/2016).

Sayangnya, keinginan yang baik ini, harus dilakukan dengan cara yang bisa merusak perekonomian jutaan masyarakat Indonesia.

”Untuk menjaga kelestarian ekosistem, bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan produk-produk turunan minyak sawit. Karena (kelapa sawit) berkait erat dengan menurunnya populasi harimau Sumatera,” kata Nugie dalam acara Kampanye WWF-Indonesia #DoubleTigers di Mall Senayan City, Jakarta, Sabtu 39 Juli 2016.

Menanggapi pernyataan Nugie ini, Asmar menjelaskan, kami sebagai petani kelapa sawit kaget dan kecewa dengan pernyataan Nugie ini. Menurutnya, apakah Nugie tidak memahami bahwa kelapa sawit adalah komoditas ekspor nasional terbesar di Indonesia?

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2014 ekspor minyak sawit menyumbang devisa hingga USD 21 miliar (sekitar Rp 270 triliun). Dan yang menyumbang produksi minyak sawit tersebut, menurut data Kementerian Pertanian (tahun 2015), 43 persennya berasal dari buah kelapa sawit yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat.

“Nugie mungkin juga tidak tahu bahwa ada 26 juta penduduk Indonesia yang saat ini menggantungkan hidupnya dari sektor perkebunan kelapa sawit, yang terdiri dari petani sawit, pekerja di perusahaaan sawit, para pemasok dalam mata rantai industri kelapa sawit, dan para keluarga mereka (data PASPI/ Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute),” ungkap Asmar.

Dijelaskan Asmar, apakah Nugie juga tidak mengetahui bahwa di Provinsi Riau misalnya, banyak para transmigran dari Pulau Jawa yang saat ini hidup sejahtera sebagai petani sawit, baik sebagai petani mandiri maupun petani plasma?

Perkebunan kelapa sawit telah hadir selama sekitar 100 tahun di Bumi Indonesia. Perkebunan tertua berada di Sumatera Utara. Sepanjang 100 tahun tersebut tidak ada isu-isu lingkungan yang signifikan yang terjadi di Sumatera Utara.

“Saat ini, dengan adanya kewajiban sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil), tidak ada alasan untuk menuding bahwa perkebunan kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Kami menyesal, sebagai seorang publik figur, Nugie termakan oleh kampanye negatif negara-negara maju yang ingin menghancurkan sektor perkebunan kelapa sawit,” tandasnya.
(maf)

Sumber: Sindonews.com

789 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *