Program Tanam Jagung 5 Ribu Ha di Kaltim Mesti Selaras Masa Tanam Sawit

Samarinda – Program Kementerian Pertanian yang menetapkan pengembangan perkebunan jagung seluas 5.000 hektare (ha) di lahan sawit, memang rencana yang sangat bagus. Apalagi bila dikaitkan dengan target swasembada jagung nasional. Hanya saja, banyak hal juga yang mesti diperhatikan pemerintah.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Abdul Fatah mengatakan, memang ada beberapa catatan yang perlu ditinjau terlebih dahulu terkait program tersebut. “Jagung adalah tanaman C3. Artinya tanaman yang mutlak membutuhkan sinar matahari, tidak bisa terkena naungan,” ujarnya kepada Kaltim PostRabu (26/10).

Menurutnya, sehingga jagung hanya bisa ditanam di kebun sawit yang masih dalam fase tanaman belum menghasilkan (TBM). Idealnya umur sawit 1-2 tahun setelah ditanam. Lahannya pun harus yang relatif datar. “Biasanya, di dalam kebun sawit perusahaan menerapkan masing-masing masa TBM di antara tanaman sawit yang ditanami dengan LCC (legum cover crops) atau tanaman kacangan,” tuturnya.

Sehingga tambahnya, tidak mungkin tanaman sawit TBM di kebun perusahaan akan ditanami jagung. Kecuali perusahaan mau membongkar LCC dan menanam jagung. Pertanyaannya, perusahaan mana yang mau? Kecuali bila sejak awal lahan kelapa sawit tersebut sudah direncanakan akan ditanami jagung. “Oleh karena itu, jalan keluarnya mungkin dapat dilakukan di kebun plasma milik mandiri milik masyarakat,” ujarnya.

Dia menambahkan, agar diinventariskan perusahaan kebun kelapa sawit yang saat ini arealnya ditanam TBM, terlebih yang belum ditanami LCC. Pada lahan tersebut jagung bisa dikembangkan. Ditambah lagi dengan kebun plasma masyarakat. “Pada lahan-lahan tersebut lahan jagung bisa diusahakan,” ungkapnya.

Abdul mengatakan, apabila di kebun perusahaan sawit ditemukan kawasan yang dibiarkan dan tidak ditanami, itu bukan areal yang ditelantarkan. Melainkan itu kawasan konservasi, bisa berbentuk areal yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi atau high conservation value (HCV) atau kawasan high carbon stock (HCS). “Areal konservasi tersebut juga tidak bisa ditanami jagung,” ujarnya.

Menurutnya, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) memiliki teknologi pengembang jagung di lahan marginal seperti lahan eks tambang batu bara atau lahan terlantar lainnya. “Sehingga lahan yang miskin unsur hara tanaman tersebut bisa dimanfaatkan,” tutupnya.

Kementerian Pertanian menetapkan program pengembangan perkebunan jagung seluas 5.000 hektare (ha) di lahan sawit. Melalui Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan di Kaltim program tersebut akan terealisasi pada awal 2017.

Kepala Dinas Perkebunan Ujang Rachmat mengatakan, pihaknya sangat mendukung terhadap program nasional. Pihaknya mendapat tugas untuk menyediakan lahan seluas 5.000 hektare yang tersebar di seluruh kabupaten di Kaltim. “Kami siapkan lahan, Dinas Pertanian tanaman pangan yang akan menanam,” ujarnya kepada Kaltim Post Selasa (25/10).

Dia menjelaskan, kini Dinas Perkebunan sudah mendata dan mengalokasi kebun dengan luas lahan yang sesuai. Bahkan data calon petani dan calon lahan jagung di lahan sawit, sudah diserahkan ke Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim selaku pemangku kepentingan. “Memang program ini untuk memajukan sektor pangan. Sejauh ini, kami sudah berkoordinasi dengan perusahaan kelapa sawit di Kaltim. Selanjutnya, masalah implementasi dan integrasi jagung di kebun kelapa sawit akan dilakukan Dinas Pertanian Tanaman Pangan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Ibrahim mengatakan, pihaknya memang sudah mendapat data lokasi lahan sawit yang akan ditanami jagung dari Dinas Perkebunan Kaltim. Lokasi tersebut tersebar di seluruh kabupaten. “Kami targetkan awal 2017 jagung sudah tertanam di lahan sawit,” ungkapnya. (*/ctr/lhl/k15)

Sumber: prokal.co

687 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *