PTPN Fokus Efisiensi di Hulu

JAKARTA— Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kinerja bisnis, perusahaan Perkebunan Nusantara fokus pada efisiensi di sektor hulu. Dengan langkah tersebut, diharapkan perusahaan dapat mengembangkan hilirisasi industri perkebunan.

Karena itu, dalam bertransformasi, Perkebunan Nusantara melakukan sejumlah program, di antaranya pemeliharaan tanaman dan sistem panen, penanaman kembali, serta perbaikan dan pemeliharaan pabrik.

Direktur Utama Perusahaan Induk Perusahaan Perkebunan Nusantara (PTPN) Elia Massa Manik menyampaikan hal itu saat berkunjung ke Kompas, Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Elia Massa, melalui pelaksanaan program itu, ada perusahaan yang mampu meningkatkan produktivitas dan kinerja usaha. Ia mencontohkan, PTPN V mampu meningkatkan produksi kelapa sawit dalam lima bulan terakhir, yaitu dari 56.000 ton pada Mei 2016 menjadi 135.000 ton pada Oktober 2016.

“Program restrukturisasi keuangan juga penting karena selama ini banyak PTPN yang rugi,” ujarnya.

Per Juni 2016, utang PTPN mencapai Rp 33,2 triliun. Dalam restrukturisasi finansial, dibutuhkan relaksasi pinjaman yang ada dan penambahan dana segar sekitar Rp 15 triliun.

Di bidang usaha perkebunan tebu, menurut Elia Massa, selama ini terjadi inefisiensi di beberapa pabrik gula (PG). Dari 48 PG milik PTPN, sebanyak 22 PG berkapasitas 2.000 ton tebu per hari. Padahal, di Thailand, kapasitas produksi PG di atas 10.000 ton tebu per hari.

Oleh karena itu, pemerintah bersama PTPN perkebunan tebu sedang memetakan PG untuk menghentikan kegiatan operasi PG yang tidak efisien, yaitu berkapasitas produksi 2.000 ton tebu per hari. Sebaliknya, pemerintah akan mengembangkan PG berkapasitas lebih tinggi, yaitu di atas 4.000 ton tebu per hari.

Secara terpisah, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengakui, selama ini, banyak PTPN merugi. Dari pemetaan PTPN I sampai PTPN XIV, hanya beberapa PTPN yang memiliki kemampuan finansial, yaitu PTPN X dan PTPN XI di Jawa serta PTPN III, PTPN IV, dan PTPN V di luar Jawa. “Sisanya, sulit bertahan,” kata Wahyu.

Menurut Wahyu, kemampuan PTPN yang sulit bertahan itu perlu dihitung kembali. Penambahan dana segar juga tidak bisa dilakukan dengan mencari pinjaman dari perbankan karena bunga yang tinggi. Upaya yang dapat dilakukan melalui optimalisasi aset atau aset yang ada dikerjasamakan dengan pihak lain. Selain itu, efisiensi dan produktivitas harus terus diupayakan.

Terkait penghentian operasi PG yang tak efisien, kata Wahyu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno meminta pengelompokan PG berdasarkan beberapa faktor. Faktor itu, antara lain memiliki basis lahan tebu 60 persen dan 40 persen tebu petani. (FER)

Sumber : Kompas

457 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *