RI dan Malaysia Kerjasama Garap Zona Ekonomi Khusus Sawit

Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto kunjungan kerja selama 2 hari ke Malaysia (30-31 Agustus). Dalam kunjungan itu dibahas soal teknis organisasi Dewan Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOP) dan rencana pembentukan palm oil economic zone, untuk mendorong pertumbuhan CPO (Crude Palm Oil).

“Malaysia kita bicara mengenai kelapa sawit. Jadi salah satu untuk mendorong green economic growth dan CPOPC. Jadi kita membentuk organisasi untuk mendorong kemampuan CPO,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto, Kamis (1/9/2016).

Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, kerja sama ini dilakukan 90% produksi kelapa sawit dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Indonesia menjadi inisiator dalam kerja sama ini, diharapkan nantinya akan bergabung negara produsen kelapa sawit seperti negara Brasil, Pantai Gading.

Tujuan dari sinergi ini untuk menyamakan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) denganMalaysian Sustainable Palm Oil (MSPO). Panggah mengatakan, saat ini sedang membuat standar yang sama dari seluruh industri sawit, misal dari yang ada di hilir dan hulu atau dari di kebun dan industri.

Nantinya kantor sekretariat CPOPC ada di Indonesia karena merupakan produsen terbesar. Nanti juga akan menetapkan direktur eksekutif sebagai komite kerja dan jajarannya untuk membuat implementasinya.

“Sekretariatnya di Indonesia karena kita produsen terbesar, dan ini nanti menetapkan eksekutif direktur, dan lain-lain. Intinya menset up agar organisasi ini berjalan 1 Januari 2017,” ujar Panggah.

Selain itu, Kemenperin juga fokus untuk pembentukan palm oil economic zone. Itu akan menyangkut tentang kriteria dan prinsip-prinsipnya.

Pembentukan palm oil economic zone ini akan menjadi proyek pertama kedua negara. Di Indonesia dan Malaysia masing-masing akan dibangun di 3 wilayah.

“Kita usulkan Indonesia 3, Malaysia 3. Indonesia di Dumai, Sei Mangke sama Kaltim. Ini jadi proyek pertama di Januari nanti. Nanti tinggal bagaimana kita endors bahwa ini green economic zone,” kata Panggah.

Selain itu juga dibahas terkait dengan petani sawit, pembinaan petani sawit, dan manajemen stoknya. Kerjasama kedua negara ini misalnya terkait stabilitas harga.

“Ini tidak menyangkut harga, ini hanya menyangkut macam-macam aspek, tapi intinya untuk menjaga keberlangsungan bisnis sawit. Kalau harga ya harga yang pastilah, tapi yang penting stabilitas harga,” ujar Panggah.

“Sudah pasti ke added value, itu terus kita dorong. Kalau added value dari CPO bisa ke biofuel, oleochemical. Kita sharing knowlegde dengan Malaysia dan kita akan bentuk sekretariat,” ujar Airlangga.(hns/hns)

Sumber: Detik.com

518 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *